Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 176


__ADS_3

Danesh dan Felly kini duduk di tepi tempat tidur dengan posisi bersebelahan. Tangan kanan Felly melingkar di pinggang suaminya, sedangkan tangan kiri Danesh merangkul istrinya.


Tombol hijau di layar ponsel milik Danesh sudah ditekan. Pria itu memegang benda pipih menggunakan tangan kanannya dan ditempelkan pada telinga kanannya.


Setelah menyapa Dokter yang merawat Violet, Danesh diam untuk mendengarkan apa yang disampaikan oleh ahli kesehatan itu.


Felly menompangkan dagunya ke pundak kokoh Danesh. Menatap raut wajah suaminya yang terlihat datar. Namun telinganya mencoba untuk menajam.


“Apa yang dia katakan? Aku tak dengar, pindahlah ke sebelah kiri,” tutur Felly lirih. Ia ingin ikut menguping tapi tak terlalu tajam indera pendengarannya. Ia pun meminta ponsel Danesh agar dipindahkan ke telinga sebelah kiri.


Cup!


Bukannya memindah ponselnya sesuai permintaan sang istri, Danesh justru mengecup bibir Felly dan mematikan panggilan itu.

__ADS_1


“Ingin tahu sekali, istriku satu ini,” balas Danesh dengan menggesekkan hidungnya dengan milik Felly.


Felly mendengus sebal. “Tentu saja aku ingin tahu, Violet kan temanku,” protesnya. Bibirnya mengerucut sangat gemas.


Danesh terkekeh dengan wajah istrinya yang di matanya terlihat imut. Tangannya mencubit gemas bibir itu. “Kiss me again.” Ia menunjuk bibirnya. “Nanti aku beritahu apa yang Dokter itu katakan padaku,” ujarnya memberikan syarat.


“Sungguh di dunia ini tak ada yang gratis, bahkan dengan suami sendiri pun harus membayar dengan ciuman untuk sebuah informasi,” seloroh Felly dengan memberikan decakan dan gelengan kepala pelan.


Tangan kiri Danesh yang kekar pun melingkar di pinggul istrinya. Ia sengaja menarik tubuh ramping yang sudah tak buncit itu dan menjatuhkan tubuhnya di ranjang yang empuk hingga Felly berada di atasnya.


Kelopak mata pria beranak dua itu terpejam menikmati indahnya perang lidah bersama sang istri.


Felly bisa merasakan suhu tubuh suaminya semakin menghangat, ia tahu apa yang diinginkan Danesh. Bahkan dirinya pun merasakan ada sesuatu yang mengeras di balik celana suaminya.

__ADS_1


“Aw ...,” pekik Danesh menyudahi pagutan mereka. “Istri nakal, kenapa kau menggigitku,” keluhnya melayangkan protes karena lidahnya mendapatkan salam dari gigi istrinya sendiri.


“Otakmu sudah travelling kemana-mana.” Toyoran kecil Felly layangkan di kening suaminya. “Kau bisa lupa untuk memberitahu aku tentang kondisi Violet jika keterusan,” protesnya.


Jarak wajah keduanya sangatlah tipis, hembusan napas hangat menyapu kulit satu sama lain bisa dirasakan oleh Felly dan Danesh.


Tangan kanan yang kekar itu memberikan sentuhan di pipi mulus istrinya. “Aku pasti akan mengatakannya, tapi setelah kita bermain satu kali saja. Aku sudah berpuasa dua bulan lebih, aku membutuhkan servis,” pintanya dengan tatapan memohon.


Kedua tangan Felly mengusap rambut suaminya dengan penuh kasih. “Ada anak-anak di tempat tidur kita. Meskipun luas, apa kau sengaja membangunkan mereka dengan memberikan goyangan di atas ranjang ini?” Kecupan sekilas ia berikan untuk pria yang ia cintai itu.


Bibir Danesh tersenyum jahil. “Mari kita bermain di lantai saja.” Ia langsung bangkit dengan menggendong istrinya dan berpindah menindih sang istri di atas karpet yang menutupi marmer.


Suara-suara erotis pun mulai keluar dari kedua bibir itu. Danesh mengajak istrinya untuk mendaki ke atas nirwana kenikmatan dunia.

__ADS_1


__ADS_2