
“Maksudku? Isi surat perjanjiannya sesuai dengan mood dan keinginanku. Dan untuk saat ini, aku belum menginginkan apa pun.” Ia pun mengedikkan bahunya sebentar. “Tapi entah sewaktu-waktu aku ingin sesuatu darimu.” Senyum sinis dan liciknya kembali terukir.
Papa Rey mengepalkan tangannya. “Mana ada perjanjian seperti itu!” elaknya.
“Terserah kau, semua keberlangsungan perusahaanmu ada di tanganmu sendiri. Silahkan tanda tangani itu, dan istriku akan membantumu. Atau biarkan kertas itu tetap seperti semula tapi bersiaplah untuk mengucapkan selamat tinggal pada perusahaanmu itu.” Danesh seolah tak memiliki rasa iba sedikit pun pada mertuanya.
Tentu saja, semua perbuatan mertuanya itu membuat Danesh muak dan tak respect pada pria tua yang saat ini berada di hadapannya. Ini bahkan bukan salah satu rencana pembalasannya. Pembalasannya akan setara atau mungkin lebih dari yang sudah mereka lakukan pada Danesh.
“Oke.” Papa Rey lagi-lagi terpaksa mengikuti perintah menantu yang tak ia harapkan itu.
Danesh belum puas. “Keluarkan kartu identitasmu,” titahnya.
Papa Rey mendengus. “Untuk apa lagi?” Nada kesal pun keluar dari bibirnya.
__ADS_1
“Tentu saja untuk mencocokkan keaslian tanda tanganmu itu. Bisa saja kau mengarangnya agar tak valid saat digunakan,” balas Danesh santai dan tenang.
Sial! Ternyata dia tahu rencanaku. Memangnya perjanjian apa yang ingin dia tulis di sini hingga begitu menginginkan keasliannya. Papa Rey berucap dalam hatinya. Ia mengeraskan rahangnya karena kesal.
“Berikan aku kertas dan materai yang baru,” pinta Papa Rey dengan ketus.
Danesh melipat kedua tangannya di Dada. “Oh ... ternyata kau sungguh memalsukannya.”
Danesh merebut kertas itu. Ia mencabut materai secara perlahan agar kertas itu tak sobek parah. Ia mengeluarkan materai dari dalam sakunya dan ditempelkan tepat menutupi sisa tanda tangan mertuanya. “Berikan identitasmu dulu.” Ia tak langsung memberikan kertasnya.
Papa Rey berdecak dan mencebikkan bibirnya. Ia mengeluarkan dompet dari sakunya dan memberikan kartu identitasnya. “Ini.”
Kartu identitas itu dan kertasnya sudah saling berpindah alih. Danesh mengamati saat tangan dengan sedikit keriputan itu mulai menggerakkan pena. Ia mencocokkan dengan kartu yang ia pegang.
__ADS_1
“Sudah, puas?” Papa Rey memberikan kertas yang ia anggap tak penting itu, sebab tak ada isinya. Palingan perjanjian yang akan ditulis oleh menantunya itu tak ada yang berbobot.
“Good.” Danesh merebutnya dan mengembalikan identitas yang ia pegang. “Dengan kertas ini, aku bisa sewaktu-waktu mengambil alih perusahaanmu.” Ia menepuk pundak mertuanya dan memberikan senyuman liciknya. “Maka dari itu, jaga sikapmu jika tak ingin aku mengambil perusahaanmu.”
Ternyata, darah kelicikan dari Daddy Davis tetap mengalir pada anaknya.
Danesh pun langsung mengayunkan kaki untuk masuk ke dalam coffe shopnya. Ia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan.
Papa Rey menatap punggung menantunya yang belum jauh darinya berdiri. “Sialan kau ...! Lagi pula, manusia tak berpendidikan sepertimu mana bisa menjalankan bisnis perusahaan besar,” ujarnya meremehkan.
Danesh menghentikan langkah kakinya dan berbalik sejenak. Ia menaikkan sebelah alisnya. “Oh ya? Percaya diri sekali kau. Kita lihat saja nanti.” Setelah mengucapkannya, ia melanjutkan jalannya masuk ke coffee shop.
Sedangkan Papa Rey. Ia terlihat sangat marah dan justru semakin risau. Ia takut jika perusahaannya sungguh akan diambil alih oleh menantunya yang tak tahu diri itu. “Awas saja kau, jika berani merebut perusahaanku. Akan ku lenyapkan dirimu tanpa ampun,” janjinya.
__ADS_1