Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 104


__ADS_3

“Kau serius?” Dariush, Delavar, Deavenny, Gerald, dan Geraldine kembali bertanya bersamaan.


Danesh mengangguk. “Kau pikir saja sendiri, aku di sini baru berapa bulan. Tak diberi uang sedikit pun, ijasah milikku pun tak boleh di bawa. Tadinya aku hanya seorang pelayan dan cleaning service.”


Kelimanya saling berpandangan satu sama lain dan kembali menatap Danesh. Mereka tertawa terbahak-bahak. “Seorang Danesh mau menjadi pelayan?” Mereka tak percaya.


“Memang apa salahnya? Daripada aku mati kelaparan,” timpal Danesh.


Delavar yang duduk di samping Danesh pun menepuk pundak kakaknya. “Bagus, jiwa survive mu ternyata kuat juga,” pujinya.


“Bagaimana kau bisa jual diri jika kau memiliki pekerjaan sebagai pelayan?” tanya Deavenny penasaran.


“Karena aku butuh, kalian tak tahu? Aku hanya tinggal di kontrakan kumuh dan banyak nyamuk. Mana betah aku, kebetulan ada wanita yang memintaku menghangatkan ranjang dan rela membayarku tinggi. Tentu saja aku tak akan melewatkannya,” jelas Danesh jujur.


Kelimanya menepuk jidat mereka masing-masing.

__ADS_1


“Kalian benar-benar kembaran yang gila semua. Satu pemain wanita, satu lagi suka dengan sepupunya. Yang dua seperti gay, tak memiliki hasrat pada wanita,” kelakar Gerald mengejek empat D. Ia pun tertawa sendiri berhasil mengejek saudara sepupunya. Biasanya dia yang dikerjai, sekarang waktunya untuk membalas.


Plak! Plak! Plak! Plak!


Gerald mendapatkan empat timpukan di kepalanya dari empat D. Hingga pria itu mengaduh kesakitan.


“Ku laporan ke komnas perlindungan anak, kalian,” ancam Gerald bercanda.


“Kau bukan anak-anak, bodoh.” Geraldine ikutan menoyor kepala kembarannya.


“Atau Deavenny yang mencintai sepupunya sendiri. Sudah gila rupanya dia, ingin membangun rumah tangga dengan Marvel,” lanjut Gerald protes lagi.


Deavenny memasang wajah kesalnya. “Memangnya kenapa jika aku menyukai kakakmu? Kita kan hanya sepupu,” balasnya memprotes.


“Tidak boleh ...!” seru semuanya bersamaan.

__ADS_1


Deavenny mengangkat bahunya. “Aku tak peduli, yang penting Marvel sudah mengatakan jika dia menyayangiku dan menciumku saat di pesta ulang tahun Mommy.” Ia menjulurkan lidah mengejek saudara-saudaranya.


Dan satu detik kemudian, wanita itu mengaduh karena kedua telinganya dijewer oleh Danesh dan Delavar, serta hidungnya di cubit oleh Dariush.


“Masih banyak pria di luar sana. Cari yang lain, kau seperti tak laku saja,” omel Danesh, lalu tangannya ia jauhkan dari telinga adik bungsunya.


“Ingat! Kau dan Marvel itu keluarga, kalian satu kakek. Apa kata orang jika kalain berdua menikah,” imbuh Delavar mengomeli juga. Tangannya ia lepaskan hingga tak menjewer adiknya lagi.


Kini tinggal Dariush yang tangannya masih setia di hidung adiknya, matanya melotot kepada Deavenny. “Jangan mempermalukan dirimu dengan menikahi keluarga dekatmu sendiri! Aku akan mengenalkanmu pada teman-temanku yang tak kalah dari Marvel,” tuturnya, ia pun kembali duduk normal.


Deavenny mengusap kedua telinga dan hidungnya yang memerah. “Kalian ini terlalu memikirkan omongan orang, untuk apa memperdulikan perkataan orang lain? Mereka kan tak menghidupi kita. Lagi pula tak ada larangan untuk aku menikah dengan Marvel,” timpalnya tetap tak mau mengalah.


“Kami yang melarangnya!” seru kelimanya bersamaan.


“Aku pun tak mau memiliki kakak ipar yang super lemot dan manja sepertimu. Pasti merepotkan jika suatu saat kau hamil,” ejek Geraldine.

__ADS_1


__ADS_2