
Setelah Danesh menyerahkan bayinya pada petugas medis di rumah sakit tersebut untuk di awetkan sebelum ia bawa pulang ke Finlandia untuk dimakamkan di negaranya, ia dan Felly bersamaan menuju ruang rawat Violet.
Danesh menggenggam tangan Felly sepanjang menyusuri setiap koridor. Ia mengecup tangan Felly dan menengok ke istrinya tanpa menghentikan ayunan kakinya.
Felly yang merasakan punggung tangannya menempel di bibir suaminya pun ikut menengok. Keduanya saling berpandangan.
“Terima kasih sudah berada di sisiku apa pun keadaanku,” ujar Danesh senang.
Felly tak menanggapi dengan ucapan. Ia tersenyum manis dan mengelus punggung tangan suaminya menggunakan tangan satunya yang tak digenggam oleh Danesh.
Wanita berbadan tiga itu melepaskan tangannya dari Danesh saat berada di depan ruangan Violet.
Membuat Danesh kembali menatap Felly. “Kenapa dilepas? Kau tak nyaman?” tanyanya.
Felly lagi-lagi tersenyum. “Kau masuk duluan,” pintanya.
Felly tak ingin orang-orang yang berada di dalam ruangan tersebut mengetahui hubungannya dengan Danesh. Terutama Violet. Ia belum kuat hati untuk menyakiti hati sesama wanita. Dan kedua orang tua Violet juga mengenalnya sebagai teman baru Violet bukan istri Danesh.
__ADS_1
Danesh menuruti permintaan Felly. Ia melangkahkan kakinya memasuki ruangan Violet. Terlihat Tuan dan Nyonya Dwarts duduk di samping tempat tidur di sisi kanan dan kiri dengan tangan yang sama-sama menggenggam putri mereka.
“Apakah Violet belum bangun juga?” tanya Danesh dengan suara yang ia kecilkan.
Kedua orang tua Violet bersamaan menggeleng. “Mungkin efek obat biusnya.”
Danesh mengangguk mengerti. “Aku akan menunggu di sana,” tunjuknya pada sofa. Ia melihat ke arah pintu. Sudah beberapa menit ia masuk, namun tak juga terlihat batang hidung istrinya.
Suara ketukan pintu dari luar terdengar, itu Felly. Ia sengaja tak langsung masuk dan mengetuk terlebih dahulu layaknya pengunjung rumah sakit yang hendak menjenguk seorang pasien.
Felly tak mendengar suara sahutan dari dalam. Sebab, suara lirih dari orang tua Violet tak menembus hingga keluar. Tapi ia tetap memasuki ruangan itu.
...........
Wanita dengan pakaian pasien yang melekat di tubuhnya perlahan mengerjapkan matanya.
“Akhirnya kau bangun, Vio,” tutur Tuan dan Nyonya Dwarts senang.
__ADS_1
Danesh dan Felly bersamaaan berdiri dan mendekati Violet tanpa bersuara.
Violet terlihat menengok ke kanan dan ke kiri mencari sesuatu.
“Di mana bayiku?” tanya Violet.
Kedua orang tua Violet bingung hendak mengatakan peristiwa yang sesungguhnya. Bibir mereka terbungkam dan bergantian menatap Danesh, memberikan isyarat pada pria itu untuk membantu menjelaskan kepada Violet.
Danesh paham, korneanya berisikan Felly saat ini. “Boleh—” Ucapannya terhenti ketika Felly sudah mengangguk. Padahal ia belum mengutarakan izinnya.
Pria berumur dua puluh lima tahun itu mendekati Violet. “Kau ingin melihat anak kita?” tawarnya.
Violet mengangguk antusias. “Iya.”
“Tapi, berjanjilah padaku kau akan tegar menghadapi kenyataan ini,” pinta Danesh.
Violet mengernyitkan keningnya, ia merasa ada sesuatu yang janggal. “Anakku baik-baik saja, kan?” tanyanya dengan suara yang mulai bergetar.
__ADS_1
Danesh tak menjawab pertanyaan itu. “Berjanjilah padaku terlebih dahulu,” pintanya sekali lagi.
“Aku berjanji,” ucap Violet lirih.