Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 126


__ADS_3

...Lanjut lagi lah ceritanya, kasian itu si Felly sama Violet kepalanya nengok mulu seharian wkwkwk....


...........


Pria bule itu menghentikan langkah kakinya. Ia diam mematung menatap dua orang wanita yang duduk delapan meter dari posisinya saat ini dan tengah menatap ke arahnya. Kedua tangannya penuh membawa makanan pesanan saudara kembarnya.


Mata Violet membulat sempurna saat melihat mantan kekasihnya yang ia sering sebut dalam doanya kini berada di hadapannya. Ia menepuk tangan perawatnya memberikan isyarat untuk memutar kursi rodanya. Hatinya sangat berbunga, suara dan panggilan sayang masih tetap sama terdengar romantis di telinganya.


Sedangkan Felly, ia berdiri dari duduknya dengan wajahnya yang berbinar bahagia. Ini saatnya ia mengenalkan teman barunya pada suaminya, dan ia juga akan mengenalkan Violet pada suaminya seperti perkataannya terakhir kali saat pertemuan pertamanya dengan Violet. Ia hendak mengeluarkan suaranya. Namun ...


“Danesh?” panggil Violet. Mata wanita itu sudah berkaca-kaca. Sedih, menyesal, senang, terharu. Semua bercampur menjadi satu. Bibirnya bergetar menahan tangis.


Deg!


Seketika wajah Felly berubah menjadi datar. Jantungnya terasa berhenti berdetak saat itu juga. Ia menatap suaminya yang tak bergerak sedikit pun, mata Danesh terus menatap teman barunya. Dan ia beralih menatap Violet, wajah yang terlihat lega, sama seperti saat suaminya menyatakan cinta padanya. Felly tahu perasaan apa yang tengah dirasakan oleh Violet.


“Kau mengenalnya?” tanya Felly pada Violet.

__ADS_1


Violet mengangguk. “Iya, dia pria yang aku ceritakan padamu,” balasnya.


Felly melangkahkan kakinya hingga berdiri di samping kursi roda Violet. “Ma-maksudmu, Dia adalah mantan kekasihmu yang menghamilimu?” tanyanya lagi dengan suaranya yang sedikit bergetar. Ia menunjuk suaminya sendiri dengan telunjuknya yang gemetaran.


Violet mengangguk lagi. “Iya, dia Daddy dari anak yang aku kandung,” balasnya tanpa mengalihkan pandangan dari Danesh.


Felly tak bisa berucap lagi. Ia seperti ditampar kenyataan. Jantungnya kian memacu cepat namun ia seperti tak merasakan aliran darah di sekujur tubuhnya. Entah mengapa ia ingin menangis sekencang-kencangnya. Ternyata, orang yang dia ceritakan pada teman barunya dan pria yang diceritakan oleh Violet padanya adalah orang yang sama.


Sekuat mungkin Felly tak meneteskan air matanya.


“Se-selamat. Akhirnya doamu terkabul. Kau bertemu dengan mantan kekasihmu yang kau tunggu,” ujar Felly tulus, meskipun hatinya saat ini terasa sakit. Ia menepuk pundak Violet lemah. Jempol dan telunjuk tangan sebelahnya ia gunakan untuk menekan bagian ekor mata hingga bawah matanya agar bulir kristal bening tak menetes.


“Fel ...,” panggil Danesh. Ia terus mendekat dan ingin menyeret istrinya yang di matanya terlihat sedang kacau, ingin memeluk tubuh itu dan menjelaskan semuanya pada Felly. Dari jaraknya tadi, ia masih bisa mendengar percakapan istrinya dan mantan kekasihnya.


“Kalian saling mengenal?” tanya Violet menyeka air matanya yang terus menerobos keluar dari benteng pertahanannya akibat terharu masih diberi kesempatan untuk bertemu pria yang masih ia cintai.


Tubuh Felly sudah ditarik pelan oleh suaminya hingga wanita berbadan tiga itu berdiri di samping Danesh.

__ADS_1


Pria bule itu melingkarkan tangannya pada pundak Felly. Ia ingin memberitahukan pada wanita dari masa lalunya, bahwa kini dirinya sudah memiliki masa depan bersama orang lain.


Namun Felly memberontak dan melepaskan dengan kasar tangan Danesh. “Ya, dia temanku. Kami berteman karena ada suatu urusan penting,” jawabnya sebelum Danesh berhasil mengenalkan dirinya sebagai istri.


...........


Abang Danesh, buleku. Kau mau pilih siapa?



Felly, istrimu?



Atau Violet, mantan kekasihmu?


__ADS_1


__ADS_2