Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 181


__ADS_3

Area belakang mansion milik Danesh sebagai lokasi pernikahannya. Tempatnya yang asri dengan pepohonan menjulang tinggi menambah kesan alami ditambah saat ini di Finlandia sedang musim semi. Felly yang menginginkan menikah dengan konsep outdoor.


Area belakang kediaman Danesh dan Felly itu sudah didekor sederhana namun terlihat sangat indah. Kumpulan bunga yang dibentuk menjadi setengah lingkaran sebagai tempat pengucapan janji mereka untuk kedua kalinya. Ratusan kursi tersedia di sana untuk tempat duduk keluarga dua mempelai dan tamu undangan yang hadir.


Semua kursi sudah terisi penuh. Termasuk Violet yang duduk di kursi roda dengan infus tetap menancam di tangannya pun sudah ada di sana. Dan juga Erland yang sekarang sudah tak mengharapkan kembali dengan Felly lagi, kini pria itu mulai bisa menerima Fenny—istrinya.


Danesh sudah berdiri di depan dengan senyum yang terlukis indah menambahkan ketampanannya. Tubuhnya dibalut oleh pakaian dan jas serba hitam ditambah sepatu dari kulit alami berwarna coklat pekat membalut kakinya. Tubuhnya yang gagah semakin membuatnya berwibawa.


Pastor yang akan membimbing jalannya acara pun sudah hadir di sana. Siap membantu upacara pernikahan Danesh dan Felly yang kedua.


Sebuah mahkota bertabur berlian bertengger di kepala Felly. Wanita dengan gaun putih yang menutupi sedikit lengannya, mengekspose dada bagian atasnya, serta rok bagian bawahnya mekar dan menjuntai hingga ke tanah yang tertutup rumput pendek itu tak pernah melepas tangannya dari sang Papa saat mengayunkan kaki menuju suaminya. Rasanya sangat haru ketika Papanya bisa menerima suaminya dan menyerahkan dirinya pada Danesh dengan tulus.


Papa Rey dan Felly sampai di mana Danesh dan Pastor berada. Pria paruh baya itu memberikan kecupan sekilas di pipi putrinya. Dan beralih menatap Danesh.


“Aku menyerahkan putriku, Felly, untuk kau jaga, rawat, cintai, dan kasihi sepanjang hidupmu. Aku percayakan dia padamu.” Papa Rey menyerahkan tangan salah satu putri kembarnya pada Danesh.


“Aku akan mengasihi dan mencintainya melebihi diriku sendiri,” balas Danesh menerima tangan Felly.

__ADS_1


Setelah menyerahkan putrinya pada Danesh, Papa Rey pun ikut duduk bergabung bersama keluarganya.


Danesh dan Felly saling melempar senyumnya. “Kau cantik,” puji Danesh pada sang istri.


“Kau juga tampan.” Felly pun membalas pujian itu.


Keduanya bersamaan menghadap ke Pastor dan siap menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan.


Kini Danesh dan Felly saling berhadapan setelah menjawab seluruh pertanyaan dari Pastor. Memulai untuk mengucapkan janji pernikahan mereka kedua kalinya. Kali ini rasanya berbeda. Jika dulu tanpa rasa cinta antara keduanya, kini dengan rasa cinta yang sama-sama menggunung menyelimuti pernikahan kedua mereka. Ini hanya sebagai formalitas saja untuk memenuhi permintaan Violet.


Felly tersenyum sejenak, lalu ia pun mengucapkan janji pernikahannya juga. “In the name of God, I, Felly Adithama Wilson, take you, Danesh Doris Dominique, to be my husband—” Ia pun mengucapkan janjinya dengan lancar dan tanpa bantuan dari Pastor juga.


“I do.” Keduanya saling melontarkan kata yang sama bergantian.


Dan Pastor pun mengesahkan pernikahan keduanya sebagai pasangan suami istri yang kekal dan hanya maut yang bisa memisahkan Danesh dan Felly.


Keluarga dan para tamu pun ikut merasakan kebahagiaan keduanya. Mereka ikut mengulas senyum bisa melihat bersatunya dua insan yang sudah ditakdirkan untuk bersama.

__ADS_1


Danesh dan Felly masih saling berhadapan. Pria beranak dua itu mengeluarkan sebuah kotak perhiasan dari saku jasnya dan membukanya di depan istrinya. Wittelsbach-Graff Diamond Ring, cincin yang harganya mencapai satu triliun itu Danesh persembahkan untuk istri satu-satunya.


“Jika garis takdirku adalah dirimu. Sejauh apa pun Tuhan memisahkan kita, maka akan ada cara untuk kita bertemu dan bersatu selamanya. I love you.” Danesh pun memakaikan cincin berlian itu ke jari manis istrinya.


“I love you too.” Felly membalas ucapan cinta suaminya, namun ia tak bisa membalas kata-kata manis Danesh. Ia pun balik mengambil cincin polos tanpa berlian yang menghiasi, memakaikan perhiasan dengan ukiran nama Danesh dan Felly ke jari manis suaminya.


Felly dan Danesh saling mendekatkan wajah mereka. Menyatukan bibir dengan rasa cinta tanpa adanya napsu.


Suara riuh dari tepukan tangan orang-orang yang menghadiri pernikahan Danesh dan Felly itu terdengar sangat ramai. Semua orang yang hadir ikut merasakan kebahagiaan kedua mempelai.


Violet yang menyaksikan berlangsungnya pernikahan dua orang yang penting dalam hidupnya itu tersenyum bahagia dengan hatinya yang lega seolah tanpa beban dan rasa bersalah lagi.


“Amadeo Benedict Dominique, Daddymu sudah bahagia di dunia bersama wanita yang ia cintai dan kedua adikmu. Saatnya Mommy bertemu dirimu dengan damai. Tunggu Mommy di surga-Nya yang terindah,” gumam Violet sangat lirih. Ia pun memejamkan matanya dan tubuhnya melemas saat itu juga.


Violet sudah menahan rasa sakitnya selama ini, ia sudah tak kuat lagi hidup dengan rasa sakit itu. Tubuhnya ia paksakan selama tiga hari ini demi melepaskan orang yang ia cintai hidup bahagia. Ia menghembuskan napas terakhirnya tepat setelah mengucapkan kata-kata perpisahan itu. Kini, Violet benar-benar pergi dari hidup Danesh dengan tenang dan bertemu anaknya.


Ada senang, ada duka. Begitulah yang mereka rasakan saat ini. Setelah pernikahan selesai, mereka melanjutkan dengan upacara pemakaman Violet Dwarts. Danesh dan Felly tak melanjutkan perayaan pernikahannya, keduanya menghargai bagaimana perasaan orang-orang yang ditinggalkan Violet. Tak mungkin mereka melangsungkan pesta di dalam duka.

__ADS_1


__ADS_2