Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 157


__ADS_3

“Ck! Ayo kita ke rumah sakit, kita periksa sekarang juga,” ajak Fenny.


Belum sempat wanita dengan perut yang sangat buncit itu menjawab, tubuhnya sudah melorot ke bawah dengan lemas dan matanya terpejam.


Fenny langsung berteriak minta tolong sekencang-kencangnya di koridor itu, berharap ada orang yang mendengar dan menolong mereka. Dan, Stefany lah yang sigap datang ke sumber suara.


“Nona Felly kenapa?” tanya Stefany dengan napasnya yang terengah-engah. Ia baru saja membersihkan dokumen-dokumen rapat.


“Tidak tahu, cepat kau bantu carikan pertolongan,” titah Fenny.


Dengan langkah cepat, Stefany mencari pertolongan.


Sedangkan di lobby perusahaan, Danesh baru saja mendaratkan kaki di sana. Teleponnya yang tak kunjung diangkat oleh sang istri membuatnya gelisah.


Pria itu tengah menunggu lift terbuka, lama sekali. “Apa tak bisa lebih cepat lagi,” gerutunya tak sabaran.


Ting!

__ADS_1


Pintu khusus petinggi perusahaan itu terbuka, mata Danesh membulat sempurna melihat istrinya digendong oleh seorang pria.


“Berikan istriku padaku,” perintah Danesh dengan suara beratnya. Ia mendekati seorang pria yang tak ia kenal, sepertinya karyawan di sana. Dan mengambil alih tubuh Felly.


Danesh tak bersuara lagi, ia memutar tubuhnya untuk membawa Felly ke rumah sakit.


“Woy ... aku ikut, main tinggal saja kau,” teriakan Fenny yang jalannya lamban sekali seperti siput.


...........


Dokter memeriksa secara keseluruhan kondisi Felly, mulai kesehatan hingga kondisi janinnya.


Terlihat Dokter itu mengalungkan stetoskopnya ke leher. “Istri Anda kelelahan dan terlalu banyak berpikir berat. Kita lakukan operasi darurat. Istri Anda sempat mengalami kram perut, jika dibiarkan terlalu lama dan menunggu persalinan normal kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.”


“Lakukan saja yang terbaik. Aku percayakan padamu,” balas Danesh.


Felly pun dipindahkan ke ruang operasi. Danesh setia menemani di samping istrinya. Membisikkan doa di telinga istrinya.

__ADS_1


“Apa yang membuatmu seperti ini?” gumam Danesh. Setetes air mata jatuh tepat di kulit wajah Felly saat ia mencium kening itu.


“Kau kuat, kau bisa. Bayi kita pasti akan lahir dengan selamat,” bisik Danesh lagi.


Tangan Danesh menggenggam Felly terus, bertubi-tubi ia menciumi istrinya dan membisikkan kata-kata yang lebih mengarah untuk menyemangati diri sendiri karena Felly tak akan mendengarnya.


Mata Danesh silih berganti melihat ke bawah di mana perut Felly tengah dibedah, kemudian beralih ke istrinya lagi.


Dada Danesh berdebar tak karuan saat tangan terbalut sarung tangan medis itu mulai mengeluarkan bayinya. Ia takut tak mendengar tangisan lagi. Ia tak ingin kehilangan untuk kedua kalinya sebelum mendapatkan sapaan.


“Puji Tuhan, terima kasih.” Ucapan syukur itu lolos dari bibir Danesh saat tangisan yang ia tunggu pun menggema di ruang operasi.


“Selamat, Tuan. Anak pertama perempuan,” ucap Dokter itu dengan memperlihatkan bayi mungil tanpa tonjolan di area bawah.


Danesh menjawab dengan anggukan, matanya berkaca-kaca karena bahagia. Ia memberikan kecupan di kening Felly lagi. “One more baby, kau pasti bisa,” bisiknya lagi.


Kembali lagi suara tangis terdengar. “Selamat. Anak kedua laki-laki.”

__ADS_1


Danesh mendaratkan lagi bibirnya ke seluruh wajah Felly tanpa terkecuali, termasuk bibir yang selalu ia dambakan. “You are strong wife. I love you my sweety. Terima kasih sudah memberikan aku dua malaikat kecil ke dunia,” ucapnya tak peduli didengar atau tidak oleh Felly.


__ADS_2