
“Mereka masih minum ASI, bagaimana bisa aku tega menitipkan pada orang lain walaupun mereka anggota keluarga kita juga.” Felly mencoba menolak ajakan suaminya dengan halus. Ia belum berani meninggalkan Annora dan Agathias karena keduanya sangat mudah haus.
“Dipompa saja. Tinggali mereka stok ASI, biarkan Annora dan Agathias belajar menggunakan dot juga.” Danesh tak berhenti untuk membujuk istrinya agar mau keluar berdua dengannya.
“Tapi—” Felly hendak menimpali dengan statemen ketidak setujuannya. Tapi suaminya sudah memotong.
“Sekali ini saja, aku merindukan naik motor denganmu. Aku janji tak akan lama meninggalkan anak-anak,” terang Danesh. Seribu macam cara dia lakukan demi bisa berkencan dengan Felly.
Felly terdiam sejenak. Ia menatap kedua anaknya yang tengah berceloteh tak jelas, lalu bergantian menyorot wajah suaminya yang terlihat sangat memohon.
“Baiklah, tapi jangan jauh-jauh perginya, agar kita bisa cepat sampai ke mansion jika anak-anak menangis.” Akhirnya Felly pun setuju walaupun dengan sedikit syarat.
“Oke, aku ambilkan pompa ASI nya dulu.” Wajah bapak beranak dua itu terlihat berseri. Dengan menggendong Annora, ia menuju ke kamar anak-anaknya untuk mengambil alat yang bisa membantu menyedot nutrisi susu dari istrinya.
Danesh kembali ke kamarnya lagi dengan membawa kotak berukuran sedang. Meletakkan benda itu di atas nakas lalu merebahkan putrinya di ranjang.
“Biarkan Agathias aku yang gendong.” Danesh berinisiatif mengambil alih putranya yang berada di pangkuan Felly agar istrinya bisa nyaman saat disedot oleh alat canggih tersebut.
__ADS_1
Felly duduk di kursi dan mulai menyiapkan pompa ASI, memposisikan pada ujung gundukannya yang kian membesar setelah memiliki anak. Membiarkan air berwarna putih keluar dan mengisi botol. Matanya menatap kedua anak dan suaminya yang ada di atas ranjang.
Pria yang kini berbahagia dengan keluarga kecilnya itu pun bermain dengan anak-anaknya. Ia tetap menggendong Agathias dan membiarkan Annora yang biasanya selalu dia gendong untuk tiduran.
“Oek ... oek ... oek ....” Annora menangis sekencang-kencangnya seraya menendangi daddynya.
“Biarkan Annora menyusu dulu, sepertinya dia haus,” pinta Danesh agar Felly mengambil putrinya.
“Padahal belum ada lima belas menit dia minum,” jelas Felly. Ia menutup botol ASI yang hampir penuh itu. Lalu menggendong Annora tapi tetap saja sang putri terus menangis.
“Dia tak lapar,” ujar Felly.
“Lalu?” tanya Danesh dengan menaikkan sebelah alisnya bingung. Apa lagi yang diinginkan bayi ketika menangis kalau bukan digendong atau menyusu.
Felly terkekeh sejenak saat melihat putri kecilnya berusaha memberontak dengan menendangi dirinya. “Tidurkan Agathias,” pintanya pada Danesh.
Dan putra pertama keluarga Dominique itu menuruti.
__ADS_1
Felly memposisikan putrinya untuk digendong suaminya. Ia tertawa setelah melihat Annora berhenti menangis ketika bersama Danesh.
“Ternyata Annora jadi anak daddy, ya?” oceh Felly seraya mengelus pipi lembut putrinya. Ia beralih menatap suaminya. “Putrimu ini sepertinya iri dengan Agathias yang kau gendong,” imbuhnya menjelaskan pemikirannya.
“Astaga ... tidak boleh seperti itu, Annora. Kau harus berbagi juga dengan Agathias. Daddy kan juga orang tuanya. Tidak boleh egois, oke?” nasihat Danesh pada putrinya yang ternyata ingin menguasai dirinya.
Annora merubah raut wajahnya yang tadinya bahagia setelah digendong sang daddy menjadi cemberut seperti hendak menangis. Bayi mungil itu seolah baru saja mendapatkan omelan dari orang tuanya.
...........
Berhubung sekarang tanggal 25 Desember, aku mau ucapin untuk semua pembacaku yang merayakan natal.
Merry Christmas for all of you, guys. God Bless you. May this Christmas be the brightest, most beautiful Christmas of your life, find the peace and joy you’ve been looking for, have the gift of faith, the blessing of hope and the peace of His love at Christmas and always. Amen.
...........
Wah ... authornya pinter bahasa inggris. Gak guys, itu aku nyomot kata-katanya dari google wkwkwk. Kabor ...
__ADS_1