
Fenny benar-benar ingin melenyapkan Danesh. Ia tak ingin Felly menjadi perhitungan dengannya dan tak mau mengalah lagi dengannya seperti biasanya.
Malam itu juga, Fenny menemui Papanya untuk mengatakan keinginannya. Sepertinya Papanya adalah orang yang cocok untuk diajak kerja sama.
Wanita dengan baju tidur yang sangat tipis itu keluar dari kamarnya. Perasaannya begitu gembira membayangkan pria miskin yang songong itu akan hilang dari muka bumi ini.
“Kau lihat papaku?” tanya Fenny pada pelayan yang tengah membersihkan meja makan.
“Tadi saya lihat masuk ke ruang kerja Tuan Besar Rey, Nona.”
Tanpa mengucapkan terima kasih, Fenny langsung mengayunkan kaki menuju ruangan Papanya.
Tok ... tok ... tok ...
Pintu kayu itu Fenny ketuk, ia tak berani langsung masuk. Sebab tak ingin mendapatkan amukan karena tak sopan. Papanya sungguh tak menyukai jika ada orang yang berani langsung masuk tanpa seizinnya.
“Masuk ...!” seru Papa Rey dari dalam.
__ADS_1
Tangan Fenny terulur meraih handle pintu dan membukanya.
Wanita itu memasang wajah masamnya. Ia menghempaskan tubuhnya di sofa.
Papa Rey menghentikan aktivitasnya membaca laporan perkembangan perusahaannya yang dikelola oleh Felly. Ia meletakkan dokumen yang ia pegang ke atas meja. Matanya menelisik wajah putrinya dengan intens. “Kenapa kau cemberut?”
“Danesh menyebalkan,” adunya pada Papa Rey.
“Memangnya apa yang dia lakukan padamu?” tanya Papa Rey. Ia melepaskan kaca mata bacanya dan meletakkannya pada meja depan komputer.
“Apa maksudmu? Ceritakan sedetailnya,” titah Papa Rey. Ia beranjak dari kursi kerjanya yang nyaman dan berpindah ke sofa di hadapan Fenny.
Fenny lalu menceritakan kejadian tadi sore pada Papanya. Ia menjelek-jelekkan Danesh di depan Papanya. Tak ada satu pun hal baik yang dilontarkan dari mulut berbisa itu.
Papa Rey terlihat geram mendengarnya. Ia tak suka pria dengan asal usul tak jelas itu membuat putrinya menjadi membenci keluarganya sendiri.
“Keparat!” Papa Rey menggebrak meja di depannya. Matanya memancarkan kilatan amarah. “Lebih baik aku tak menikahkan dirinya dengan Felly jika tahu pengaruhnya tak baik untuk putriku.”
__ADS_1
“Duduk dulu, Pa.” Fenny meraih tangan Papanya dan sedikit menariknya agar kembali mendaratkan pantat di sofa. “Aku ada rencana bagus agar pria miskin itu tak bisa menghasut Felly lagi.” Senyum liciknya terukir di wajah bak iblis itu.
Papa Rey mengalihkan pandangannya menatap Fenny. “Apa?” tanyanya antusias.
“Kita lenyapkan saja dia. Jika dia masih berada di muka bumi ini, pasti Felly tak akan bisa lepas dari dirinya,” cetus Fenny.
“Maksudmu, kita membunuhnya?” tanya Papa Rey dengan alis sebelah kanannya yang terangkat.
Fenny mengangguk cepat. “Ya, itu jalan satu-satunya.”
Papa Rey berdecak. “Bodoh, kita bisa masuk penjara jika ketahuan.”
Fenny menaikkan kaki kanannya dan ia tumpukan pada kaki kirinya. Tangannya terlipat di dada dan ia mencibir Papanya. “Papa ini bagaimana, mana mungkin polisi berani menangkap kita? Kita bisa membayar mereka. Apa pun bisa kita lakukan dengan uang.”
“Tumben kau pintar,” ejek Papa Rey.
Fenny memutar bola matanya malas. “Aku ini sebenarnya pintar, lebih pintar daripada Felly. Aku hanya malas untuk berpikir,” alasannya.
__ADS_1