Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 127


__ADS_3

Danesh memelototi Felly. Ia terkejut dengan kalimat yang diucapkan istrinya. Bisa-bisanya dirinya tak dianggap sebagai suami. Sedangkan ia ingin mengenalkan Felly sebagai istrinya pada mantan kekasihnya.


Violet mengulas senyum manis di wajah pucatnya. “Ternyata dunia sangat sempit, mantan kekasihku adalah teman dari teman baruku,” ujarnya dengan sedikit terkekeh bersama isakan kecil.


Felly membalas dengan senyuman hambar. Benteng pertahanannya seolah ingin runtuh saat ini. Ia tak bisa berlama-lama di sana. Ia ingin memberikan waktu pada Violet untuk berbincang dengan suaminya, sekaligus ia ingin menenangkan dirinya sendiri.


Felly meraih bawaan dari tangan suaminya secara paksa. “Sepertinya, kalian butuh waktu untuk mengobrol berdua.” Ia menatap dengan tatapan sendu pada Danesh. “Dia mantan kekasihmu yang membutuhkanmu. Jangan lukai dia untuk mengejarku,” lirihnya memberikan kode agar suaminya tak mengikutinya pergi.


“Fel ....” Mata Danesh semakin membulat dengan tajam, rahangnya saat ini tengah mengeras.


Felly menggeleng dengan senyuman tipisnya agar suaminya tak mengajukan protes padanya. “Itu salah satu permintaanku. Tepati janjimu yang mengatakan akan menepati semua keinginanku.”

__ADS_1


Rasanya Danesh sangat menyesal saat itu pernah mengatakan pada istrinya akan mengabulkan semua permintaan Felly. Ia menghembuskan napasnya kasar dan mengusap wajahnya. “Baiklah.”


Felly beralih mendekati Violet. “Selesaikan masalahmu dengan mantan kekasihmu. Katakanlah semuanya dengan jujur padanya,” pintanya. Ia langsung melangkahkan kaki meninggalkan Violet dan Danesh.


Violet sedikit bingung dengan kedekatan Felly dan Danesh. Namun ia biasa saja dan berpikiran memang seperti itulah cara keduanya berteman, karena di negaranya pun berteman dengan lawan jenis memang kebanyakan sangat dekat. Ia bahkan tak cemburu sedikit pun melihat kedekatan teman barunya dan mantan kekasihnya.


Wanita berbadan tiga itu menyeka air matanya setelah dirasa berjalan lumayan jauh. Ia sangat bingung dengan perasaannya saat ini. Ia tak ingin mengungkapkan pada Violet jika dirinya adalah istri dari Danesh. Ia tak ingin menghilangkan kebahagiaan Violet yang baru saja hadir. “Apa aku harus mengalah? Sejak awal memang Violet yang ada di dalam hati Danesh, bukan aku,” gumamnya.


Felly menyempatkan diri untuk ke toilet membasuh wajahnya agar tak terlihat baru saja menangis. Cukup lama ia berada di sana, menumpahkan segala kebingungannya. Bingung harus berbuat apa.


“Tuhan, kenapa kau memberikanku ujian dalam kisah cintaku lagi? Bantu aku untuk memilih keputusan yang paling tepat dan adil bagi semuanya,” mohon Felly.

__ADS_1


Setelah dirasa tenang. Felly keluar dan menuju ke ruang rawat mertuanya untuk memberikan pesanan adik-adik iparnya.


Sementara itu, Danesh dan Violet kini duduk berhadapan. Danesh menempelkan pantatnya pada kursi, sedangkan Violet tetap di kursi rodanya.


Bibir pria bule itu terbungkam. Tak ada satu kata pun yang ingin ia keluarkan. Pikirannya melalang buana kepada istrinya yang ia takuti jika saat ini tengah menangis.


“Danesh,” panggil Violet.


“Hm?” Jawab Danesh singkat.


Violet terasa berdenyut hatinya saat mantan kekasihnya sangat irit berucap. Namun bibirnya mencoba tersenyum. Ia sadar diri sudah meninggalkan luka dalam pada Danesh.

__ADS_1


“Apa kau tak ingin bertanya sesuatu padaku?”


Banyak, sesungguhnya sangat banyak yang ingin Danesh tanyakan pada mantan kekasihnya itu. Namun pikirannya bercabang menjadi dua. Antara Felly dan Violet.


__ADS_2