Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 37


__ADS_3

Mobil Felly berhenti tepat di depan pintu rumah utama. Di halaman sana sudah terlihat dua mobil yang tak kalah mewah. Mobil itu milik Papa Rey dan Erland. Berarti anggota keluarganya sudah sampai di rumah semuanya.


Supir Felly membukakan pintu untuk majikannya. “Silahkan, Tuan, Nona.”


Felly tersenyum manis pada Pak Maman. Ia mengajak suaminya untuk turun.


Keduanya berjalan menaiki tangga untuk sampai ke pintu utama. Sudah ada pelayan yang berjaga untuk membukakan pintu majikannya.


“Selamat sore, Tuan, Nona.”


Pintu terbuka lebar, pelayan itu menunduk ramah mempersilahkan majikannya untuk masuk.


Felly tak langsung melangkahkan kakinya. Ia melihat sebentar raut wajah suaminya. Masih tenang. Padahal dirinya sudah takut jika keluarganya akan memperlakukan Danesh semena-mena. Mengingat pekerjaan suaminya yang selalu dikata rendahan.


“Kenapa tak masuk?” tanya Danesh heran.


“Apa kau tak apa tinggal dengan keluargaku?”

__ADS_1


Danesh mengangguk yakin. “Tenang saja, aku akan menghadapi apa pun yang terjadi di sini.” Ia mengusap punggung istrinya agar tak khawatir.


“Ayo, kau harus segera istirahat. Kasian anak kita jika Mommynya kelelahan.” Danesh menggenggam tangan istrinya. Ia menuntun Felly untuk melangkah masuk ke dalam.


Sampai di ruang santai keluarga, mereka sudah dihadang oleh Papa Rey yang berdiri angkuh dengan tangan terlipat. Ditambah Fenny yang ikut-ikutan di belakangnya.


Seolah menyambut Danesh memasuki neraka di rumah keluarga Wilson.


“Dari mana saja kalian? Sudah ku katakan untuk langsung pulang! Kenapa sampai di rumah paling akhir?” cecar Papa Rey. Pertanyaan itu tak bersahabat sama sekali didengar pada telinga Danesh dan Felly. Seolah keduanya baru saja melakukan kesalahan besar.


“Makan, Pa. Kami lapar sekali sedari pagi belum memberi asupan pada perut,” jawab Felly tak berani menatap Papanya yang marah.


“Diam kau, Fen! Papa tak bertanya denganmu.”


Fenny melengkungkan bibirnya. Dengan langkah kesal, ia duduk di sofa.


“Kalian berdua sudah melanggar aturanku! Aku mengatakan untuk langsung pulang! Tahu apa akibatnya jika melanggar peraturan Papa? Ditambah kalian makan di luar? Kalian tak menghargai tradisi keluarga yang Papa buat, untuk selalu makan bersama!” tegas Papa Rey.

__ADS_1


“Maaf.” Felly menunduk. Tadi dia yang mengajak Danesh untuk makan di luar, karena ia mendadak ingin ayam di restoran yang berlogo wajah Kolonel Sanders.


“Kesalahan tetap kesalahan, kalian harus mendapatkan hukuman.”


Danesh menarik istrinya untuk ke belakang tubuhnya. Mendengar kata hukuman, ia langsung teringat betapa teganya Papa Rey memberikan tamparan pada putrinya.


“Aku yang salah, hukum saja aku. Biarkan istriku istirahat.”


“Danesh ....” Felly ingin melayangkan ketidaksetujua nya jika menanggung sendirian.


Danesh membalikkan tubuhnya. Ia berhadapan dengan istrinya. Kedua tangannya memegang pundak Felly. Matanya memberikan tatapan teduh. “Masuklah dulu ke kamarmu. Aku akan menghadapi Papamu.” Ia mengelus lengan Felly dan tersenyum lembut.


“Tapi—”


Danesh menggeleng. “Jangan membantah perintah suamimu. Menurut saja.”


Langkah Felly terlihat ragu untuk meninggalkan suaminya berurusan dengan Papanya sendirian. Tapi kakinya perlahan semakin menjauh.

__ADS_1


Selepas kepergian Felly. Papa Rey semakin ingin mencibir Danesh—menantu yang tak ia harapkan hadir di dalam keluarganya.


“Oh ... mau menjadi pahlawan kesiangan dia, Pa. Hukumannya dua kali lipat berarti.” Fenny kembali mengompori Papanya.


__ADS_2