
“Oke, saatnya kita ujian. Danesh, Dariush, Delavar, dan Deavenny. Kalian sebagai jurinya. Jika salah, maka tawanan kita harus maju satu langkah, dan jika benar akan mundur satu langkah,” ucap Daddy Davis dengan suara lantangnya.
“Oke, Dad,” sahut si kembar empat bersamaan.
Papa Rey dan Fenny melihat ke bawah. Dua hiu sudah bersiap di sana. Papa Rey santai saja sekarang, dia sudah pasti bisa memberikan jawaban yang diinginkan oleh keluarga besannya. Sedangkan Fenny, keringat dingin bercucuran, ia takut tak bisa menjawab dengan benar dan berakhirlah tubuhnya terkoyak oleh gigi tajam hiu-hiu di bawah.
“Katakan pertanyaannya sekarang juga,” ujar Papa Rey yang sudah berdiri di atas kayu.
“Pertanyaannya cukup mudah. Sebutkan apa saja pelajaran yang bisa kalian ambil dari perlakuan kami selama satu bulan ini,” tutur Daddy Davis. “Dimulai dari sekarang,” imbuhnya.
Papa Rey dan Fenny sudah berada di posisi mereka. Di atas kayu dan harus menyeimbangkan tubuh agar tak terjatuh ke bawah.
“Jangan memandang rendah orang lain, karena bisa jadi suatu saat nanti kita membutuhkan bantuannya,” ucap Papa Rey. Ia mengingat lagi perlakuan buruknya pada menantunya yang berakhir dirinya dibalas berlipat-lipat oleh keluarga Danesh dan menantunya tak membantunya sama sekali. Dirinya sadar akan perbuatan buruknya itu.
Daddy Davis menatap keempat anaknya. “Bagaimana, benar atau tidak jawabannya?” tanyanya.
“Yes.” Si kembar empat menjawab bersamaan.
“Oke, mundur satu langkah,” titah Daddy Davis.
__ADS_1
Papa Rey menarik sudut bibirnya membentuk senyuman puas, pertanyaan yang sangat mudah dijawab. Kini ia tak di atas kayu lagi dan kakinya sudah memijak bagian ujung kapal.
“Sekarang giliranmu menjawab.” Daddy Davis menunjuk Fenny.
Fenny menelan salivanya, otaknya benar-benar harus bekerja keras untuk berpikir. Sialan! Kenapa disaat genting seperti ini ia susah sekali menggunakan otaknya. Bibir bawahnya ia gigiti sendiri dengan perasaan cemas.
Deavenny melihat jam tangan yang melingkar di pergelangannya. “Terlalu lama, hiu itu keburu kelaparan,” ujarnya menakut-nakuti.
“Pada hitungan ketiga, jika kau tak segera menjawab, maka otomatis akan ku ceburkan ke bawah,” imbuh Dariush semakin menambah otak Fenny sulit bekerja karena rasa takut.
“Satu.” Tanpa disuruh, Delavar langsung saja menghitung. Membuat keempat anggota keluarganya yang lain menatapnya.
“Kenapa kau menghitung sungguhan? Kita hanya menggertaknya,” lirih Danesh menegur adiknya.
Kelimanya bergeleng kepala sejenak dengan kelakuan Delavar, lalu fokus kembali ke Fenny yang belum terpikirkan akan mejawab apa.
“Dua.” Delavar kembali melanjutkan menghitung.
“Ti—” Ucapan Delavar terhenti saat Fenny mengeluarkan suara.
__ADS_1
“Tunggu, biarkan aku berpikir sejenak,” tawar Fenny meminta waktu lagi.
Mulut lima Triple D itu terbungkam. Mereka memberikan waktu pada Fenny.
Terlihat Fenny menengok ke belakang di mana Papa Rey berada. “Pa, bantu aku,” pintanya mengiba.
Papa Rey menggerakkan bibirnya seolah mendiktekan jawaban untuk anaknya. Hal itu bisa dilihat oleh Triple D.
Fenny mengangguk paham. Ia mengalihkan pandangannya ke keluarga kakak iparnya. “Ketika kita berada di kondisi paling atas, jangan sombong, karena suatu saat nanti keadaan bisa berubah dan kesombongan itu akan merugikan dirimu sendiri.” Ia menjawab seperti apa yang didiktekan oleh Papanya.
Daddy Davis kembali menatap anak-anaknya. “Dia mencontek jawaban dari Papanya. Bagaimana?” tanyanya meminta penilaian.
“Benarkan saja,” jawab Dariush.
“Lagi pula jawabannya juga tak salah,” timpal Delavar.
“Setidaknya, mereka melakukan team work untuk menyelamatkan satu sama lain. Kita bisa beri nilai plus untuk keluarganya karena mencoba saling melindungi,” imbuh Danesh.
“Semua sudah diwakili oleh kembaranku,” kelakar Deavenny tanpa mengeluarkan penilaiannya.
__ADS_1
Dan keempat pria Triple D itu mengacak-acak rambut Deavenny dengan gemas.
“Oke, mundur satu langkah. Lepas talinya dan bawa mereka berdua kembali ke tempat semula,” ujar Daddy Davis.