
Diungkit masalah mantan kekasihnya yang bisa saja mengandung anaknya. Membuat Danesh menjadi resah. Ia semakin bingung dengan perasaannya. Ia sudah memiliki keinginan untuk melupakan sosok Violet dari hatinya dengan mulai menerima Felly di dalam hidupnya.
Seketika itu Danesh terdiam dengan pikiran yang melayang memikirkan antara Felly dan Violet.
“Mana mungkin Violet hamil. Jika dia hamil, pasti dia tak akan pergi selama ini tanpa kejelasan. Dia akan meminta tanggung jawab Danesh,” timpal Delavar yang tak sepemikiran dengan adik bungsunya.
Gerald mengangguk membenarkan. “Betul, apa lagi keluarga Dwarts. Mereka pasti akan meminta pertanggung jawaban keluarga Dominique jika putri mereka satu-satunya dihamili oleh Danesh,” imbuhnya.
“Lagi pula, selama enam bulan lebih kita sudah mencoba mencari informasi tentang Violet. Tak ada satu pun yang kita dapatkan. Ditambah perusahaan Dwarts yang berada di Finlandia sudah dijual dan entah sekarang pindah ke mana keluarga itu,” balas Delavar.
“Mereka seperti sengaja ingin pergi secara sembunyi,” tambah Geraldine.
“Tapi, apa masalahnya? Kenapa mereka sangat ingin pergi secara sembunyi? Sepertinya ada yang mereka sembunyikan.” Dariush pun ikut memberikan spekulasinya.
__ADS_1
Danesh masih terdiam dengan pikirannya yang berkecamuk. Hatinya yang perlahan mulai melupakan Violet karena kehadiran Felly dalam hidupnya, mendadak ditarik kembali sosok wanita yang lama menghiasi harinya.
Lain hal dengan Deavenny, wanita itu justru berdecak. “Dasar orang kaya, tak jelas sekali hidupnya, sedikit-sedikit menghapus informasi penting, sedikit-sedikit pergi diam-diam, sedikit-sedikit menyamar. Sudah seperti anggota intelijen saja mereka,” kelakarnya.
Membuat semua mata menatap ke arah wanita cantik itu.
“Kau pikir kau bukan orang kaya?” kesal Gerald pada sepupunya itu.
Dariush mengarahkan kepala adik bungsunya itu untuk menatap Danesh. “Kau lihat kakakmu itu. Kau pikir dia tak disembunyikan identitasnya?”
Deavenny mengulas senyumnya. “Iya juga ya. Ternyata keluarga kita sama saja, tak jelas juga,” selorohnya dengan tangannya menyingkirkan tangan Dariush dari kepalanya. Lalu menggaruk tengkuknya.
Geraldine menepuk jidatnya dan berdecak. “Kau terlalu oon untuk menjadi pasangan kakakku. Kasian aku dengan Marvel jika menikah denganmu. Dia terlalu pintar untukmu yang terlalu bodoh,” candanya.
__ADS_1
Namun candaan itu justru membuat Deavenny terdiam dengan wajah murungnya. Tapi tak lama, ia langsung kembali ke wajah cerianya. “Aku ini bukannya tak pintar. Tapi karena aku lahir terakhir, semua nutrisi dan pembagian otak sudah diambil semua oleh Danesh, Dariush, dan Delavar. Jadi aku hanya mendapatkan sisa saja. Kurang baik apa aku? Mengalah untuk mereka bertiga,” balasnya dengan menyembunyikan rasa sakit hatinya.
Semuanya hanya bisa menghela napasnya seraya kepala mereka menggeleng.
“Sudah, kembali lagi kita ke topik utama. Jadi bagaimana ceritanya, kau bisa sampai menikah dengan wanita asia dan tak memberi kabar pada kita?” Dariush menengahi perdebatan dan mengembalikan pembicaraan awal.
“Dia hamil anakku, jadi mau tak mau aku harus bertanggung jawab,” jawab Danesh dengan wajah datarnya dan seolah itu bukanlah masalah besar baginya.
“What?!” pekik kelima orang itu dengan mata mereka yang membulat sempurna.
Sedetik kemudian, Danesh mendapatkan pukulan di kepalanya dari kelima saudaranya.
“Kau itu tak ada kapoknya, sudah di hukum masih saja berulah. Berubah Danesh! Berubah! Jangan semakin menjadi saja kelakuan burukmu itu,” omel Dariush dengan wajahnya yang memerah.
__ADS_1