
Dua pasang kaki itu melangkah bersamaan menuju kamar Violet. Danesh tak melepaskan genggaman tangannya dari Felly. Hari ini ia berencana untuk mengatakan hubungannya dengan Felly pada Violet dan keluarga mantan kekasihnya itu.
Pintu perlahan dibuka oleh tangan kiri Danesh yang tak menggengam Felly.
Keduanya memasuki ruangan yang luas dengan ranjang besar. Namun dilengkapi alat medis di sekitarnya.
Felly dan Danesh bisa melihat wajah sedih Tuan dan Nyonya Dwarts yang berdiri menatap Violet. Wanita yang masih memejamkan mata itu sedang diperiksa oleh Dokter.
“Bagimana kondisi Violet?” tanya Danesh pada Dokter setelah selesai memeriksa.
“Sejak lima hari yang lalu, Nona Violet mengalami koma, dan hingga detik ini belum ada perkembangan,” jelas pria dengan menggunakan jas itu.
Danesh tak terlalu posesif dengan Violet, sehingga ia menempatkan Dokter laki-laki untuk menjaga wanita sakit itu. Berbeda dengan Felly, ia pasti tak membiarkan pria manapun menyentuh istrinya. Sekalipun itu darurat, ia sendiri yang akan melakukan dengan arahan para ahli.
__ADS_1
Danesh mengangguk mengerti. “Terima kasih atas kerja kerasmu.”
Dokter itu pun berpamitan untuk ke luar.
Felly berkaca-kaca melihat kondisi Violet, Danesh mencoba menenangkan dengan merangkul pundak istrinya dan memberikan elusan lembut. “Jangan menangis, memang sudah lama kondisinya kian memburuk. Aku sengaja tak memberitahu padamu karena kau terlalu perasa.”
“Tidak, aku hanya sedih karena tak bisa membantunya mengabulkan permintaan terakhirnya,” timpal Felly menyeka air matanya yang menetes.
“Fel ...!” Danesh menegur dengan suara lirih namun penuh penekanan.
Danesh bisa menghembuskan napasnya lega. Ia kira Felly akan meminta hal bodoh lagi padanya. Meskipun mengajukan permintaan, dia tak akan menuruti.
Danesh dan Felly yang masih berdiri di dekat pintu pun perlahan mendekat ke tempat tidur di mana Violet terpejam. Tuan dan Nyonya Dwarts kini duduk di samping Violet dan menatap sendu tubuh yang diambang hidup dan mati itu.
__ADS_1
“Maaf, aku baru bisa menjenguk Violet,” tutur Danesh kepada keluarga mantan kekasihnya.
Tuan dan Nyonya Dwarts bersamaan menatap sumber suara.
“Tak apa, kami paham. Kau orang sibuk, lagi pula Violet juga bukan tanggung jawabmu. Kau sudah membantu dengan memberikan perawatan terbaik untuk anakku pun aku sangat berterima kasih,” balas Tuan Dwarts yang tak pernah mempermasalahkan jika Danesh tak di samping Violet terus.
“Aku turut bersedih, Tuan dan Nyonya.” Kini suara Felly yang keluar dari bibir mungil itu.
Tuan dan Nyonya Dwarts merespon dengan senyuman. “Terima kasih atas kepedulian kalian pada anakku.” Keduanya beralih memfokuskan penglihatan ke tangan Felly dan Danesh yang saling bergandengan dengan penuh tanda tanya.
Danesh paham dengan kebingungan itu. “Maaf, aku sudah menyembunyikan statusku yang sebenarnya dari Violet dan juga kalian. Perkenalkan, ini adalah istriku. Kalian sudah mengenalnya sebagai Felly, teman Violet. Kami sudah lama menikah, hampir satu tahun dan anak yang dikandung oleh Felly saat itu adalah anakku,” ungkapnya. Ia tak bisa menyembunyikan lebih lama lagi rahasia itu.
Danesh bisa merasakan tangan Felly yang mencengkeram dirinya. Ia memberikan elusan di punggung tangan istrinya yang meremasnya dengan tujuan untuk menenangkan dan meyakinkan istrinya.
__ADS_1
“Selamat atas pernikahan kalian dan kelahiran anak kalian,” tutur Nyonya Dwarts. Ia sedikit mengulas senyum tipis dengan maksud ikut merasakan bahagia juga karena perut buncit Felly kini sudah menghilang.
“Maafkan Violet jika menjadi penghalang di keluarga kalian. Semoga dia bisa menerima kenyataan ini dengan lapang dada saat bangun dari tidur panjangnya,” tambah Tuan Dwarts menimpali.