
Setelah kepergian Papa Rey, Mama Kyara memegang tangan Danesh. “Maafkan ucapan suamiku. Dia tak bermaksud melukai hatimu.”
Danesh mengangguk. “Tak apa, aku memang pantas mendapatkannya,” tuturnya.
“Ya sudah, setelah ini semuanya pulang, sebelum Papa kalian marah.” Mama Kyara berpamitan untuk menyusul suaminya. Ia tak ingin membuat Papa Rey menunggu dirinya disaat suasana hati sedang buruk.
Kini tinggallah sepasang saudara kembar beserta pasangannya masing-masing.
“Fel, selamat. Semoga kau bahagia.” Ada nada tak ikhlas yang keluar dari bibir Erland. Ia hendak mengulurkan tangannya pada Felly, namun ditarik oleh istrinya.
“Tak perlu kau menyalaminya.”
Erland memutar bola matanya malas. Ia harus memperluas kesabarannya menghadapi Fenny. “Kau terlalu banyak mengaturku!” serunya. Dengan kesal, ia meninggalkan ketiga orang itu. Ada rasa cemburu yang teramat besar melihat Felly menikah dengan pria lain. Ia masih belum rela tak bisa kembali lagi pada wanita pujaan hatinya.
Fenny menatap suaminya yang mulai menjauh. Sorotannya beralih ke pengantin baru di hadapannya. Ia tak ada niatan untuk menyalami pengantin baru itu. Fenny mencebikkan bibirnya sinis. “Baguslah kau menikah, jadi tak akan mengganggu suamiku lagi.”
Felly menggelengkan kepalanya pelan. Adiknya sungguh tak pernah dewasa sedikitpun. “Tak ada sedikit pun aku memiliki niat merebutnya lagi,” balasnya.
“Oh, ya? Lalu malam itu? Apa maksudmu memeluk suamiku di tengah malam?” Fenny berkacak pinggang seperti menantang kembarannya.
“Masalah itu? Tanyakan saja pada suamimu,” balas Felly.
“Jangan menyalahkan orang lain, deh. Erland tak akan memelukmu jika kau tak memancingnya.” Fenny masih memiliki tenaga banyak untuk mengajak Felly ribut.
__ADS_1
Namun sayangnya, Felly malas bertengkar dengan saudaranya sendiri. “Terserah kau mau mengatakan apa.”
Danesh merangkul pundak istrinya. Ia melihat Felly yang jengah menghadapi Fenny. “Sudahlah, kita yang normal lebih baik mengalah.” Ia menuntun istrinya untuk berbalik. “Lebih baik kita pulang daripada meladeninya.”
Danesh dan Felly pun melangkahkan kakinya bersamaan untuk keluar menuju tempat parkir.
Tinggallah Fenny sendiri. Ia menghentakkan kakinya kesal. “Dasar pasangan miskin, belagu! Awas saja kau, akan ku berikan neraka di rumah!” kutuknya pada Danesh.
...........
Di dalam mobil Felly. Ia merasa tak enak dengan suaminya. “Maafkan Papaku dan saudaraku, ya?” Ia menundukkan kepalanya malu.
Danesh menumpuk tangannya dengan milik Felly. Ia mengelus kulit halus itu dengan lembut. “Aku tak apa. Tenang saja.”
Tangan Danesh beralih mengelus rambut istrinya. “Apa bedanya dengan aku menjadi pelayan di hotel? Pekerjaannya sama. Setidaknya, aku bisa menjaga calon anakku setiap hari,” tuturnya.
Sialan, rasanya Felly ingin meleleh sekarang juga mendengarnya. Meskipun Danesh mencintai wanita lain, tapi tak lari dari tanggung jawab pada anaknya sendiri yang dikandung oleh wanita lain yang tak ada sedikit pun di dalam hati Danesh.
Felly memegang dadanya yang bergemuruh. Sepertinya aku mulai memiliki penyakit jantung.
Tak berani menatap suaminya, Felly memilih meluruskan duduknya. “Pak, kita pulang sekarang,” titahnya pada Pak Maman, supir pribadinya.
“Baik, Nona.”
__ADS_1
Mobil BMW itu mulai melaju dengan kecepatan sedang. Suasana di dalamnya hening.
Danesh diam dengan kepalanya bersandar pada jok, matanya terpejam. Sepertinya ia sedang banyak pikiran. Tentu saja memikirkan Violet. Ia sedang membayangkan betapa sedihnya Violet jika mengetahui dirinya menikah dengan wanita lain. Tapi ia tak bisa berbuat apa pun saat ini, ada anaknya di dalam perut Felly.
“Violet, aku tak bermaksud mengkhianatimu. Saat kita bertemu kembali, ku mohon maafkan aku,” gumam Danesh. Tanpa sadar, ia mengucapkannya dengan lirih.
Lamat-lamat Felly mendengarnya. Ia melirik melalui ekor matanya. Jadi wanita yang beruntung mendapatkan cintamu adalah Violet. Aku akan membantumu untuk menjelaskan padanya jika suatu hari nanti dia tak menerimamu lagi. Sebagai balasan karena kau sudah membantuku menutup aib dan menjaga nama baik keluargaku. Janjinya dalam hati.
Felly menyandarkan kepalanya di kaca pintu. Ia menatap jalanan di luar dengan perasaan yang sulit diartikan.
...........
Jangan lupa:
1. Like
2. Komen
3. Hadiah
4. Follow akunku
5. Follow instagram aku: heynukha
__ADS_1