
Danesh membubarkan rapat pentingnya bersama karyawan kantornya. Ia tak memikirkan perkembangan perusahaan yang hendak dilaporkan oleh para Manager dan Direktur.
Danesh panik setelah mendengar informasi tentang istrinya dari adik iparnya yang menyebalkan dan seperti titisan Sadako Yamamura. Kaki jenjang berotot yang tertutup oleh celana berbahan kain yang harganya bisa untuk membeli motornya yang dulu dicicil saat di Indonesia itu pun mengayun dengan langkah lebar dan cepatnya.
“Glen, atur cutiku dan undur semua pertemuanku. Aku harus ke Indonesia sekarang,” titah Danesh pada sekretarisnya yang mengekor di belakangnya sedari dirinya keluar ruangan.
“Baik, Tuan,” balas Glen masih terus mengikuti atasannya.
“Kau kenapa ikut denganku?” tanya Danesh saat dirinya berada di dalam lift dan Glen pun ikut dengannya masuk.
“Tentu saja mengantarkan Tuan ke bandara,” jawab Glen tanpa rasa bersalah.
Danesh menatap sekretarisnya dari pantulan cermin di dalam lift itu. “Aku tidak menyuruhmu untuk mengantarku, aku memberimu perintah untuk mengundur semua agenda pertemuan yang harus aku ikuti selama satu bulan ini.”
__ADS_1
Glen membulatkan matanya terkejut. “Satu bulan? Tuan, jadwalmu akan hancur dan padat sekali. Memangnya urusannya sepenting apa hingga selama itu? Apa Tuan dihukum lagi?”
“Ck! Kau itu banyak tanya sekali. Tinggal turuti semua yang aku katakan. Kau tak akan tahu urusan pentingku karena kau masih lajang.”
Ting!
Pintu lift itu terbuka tepat di basement tempat mobil Danesh berada. Langkah kakinya terlihat berlari menuju kendaraan roda empat yang ia kemudikan sendiri.
Glen yang melihat atasannya terburu-buru seperti hendak menyusul istri melahirkan itu pun menggelengkan kepalanya. “Tuan Danesh kan belum menikah, mana mungkin dia memiliki istri,” gumamnya tepat saat pintu itu tertutup lagi. Ia belum tahu saja kenyataan yang sebenarnya.
Pria itu menginjak pedal gas penuh, jiwa pembalap liarnya muncul lagi disaat seperti ini.
“Apa kau baik-baik saja, Fel? Seperti ini lah yang aku takutkan saat jarak membelenggu kita. Ketika kau sakit, aku tak bisa langsung berada di sisimu. Aku harus menempuh perjalanan jauh,” gumam Danesh masih dengan rasa khawatirnya yang membuncah.
__ADS_1
Pria itu asal saja memarkirkan mobilnya, ia langsung melemparkan kunci kepada petugas bandara untuk mengurus. Entah orang itu amanah atau tidak, ia tak peduli dengan mobilnya itu. Yang penting ia harus sampai ke Indonesia secepatnya.
Dan, pesawat pribadi keluarga Dominique itu mulai mengudara. Danesh tak bisa tidur selama perjalanan.
...........
Satu hari berlalu. Matahari di luar sedang terik-teriknya, Felly tetap masuk kerja. Ada rapat penting bersama investornya yang harus ia hadiri. Meskipun Fenny juga datang, namun dirinya ingin memastikan jika adik kembarnya itu bisa menggantikan dirinya bekerja.
“Susah, ya, kau diberi tahu. Sudah ku katakan istirahat! Bukannya bekerja! Kau pikir aku ini masih bodoh seperti dulu?” omel Fenny dengan wajah kesalnya.
Fenny memapah tubuh Felly yang mendadak limbung setelah keluar dari ruang rapat.
“Maaf, aku hanya memastikan kau sudah lancar dalam bekerja. Ternyata kau jauh lebih baik sekarang,” balas Felly dengan memegangi kepalanya yang terus saja terasa pusing semenjak memikirkan ucapan Violet saat itu.
__ADS_1
Felly mencengkeram pundak kembarannya, menancapkan kukunya di sana. “Fen ... perutku sakit sekali.” Tangan satunya ia gunakan untuk memegangi bagian tubuh yang buncit itu.