
Erland mencebikkan bibirnya, ia tak percaya begitu saja dengan ucapan istrinya. “Pembual.” Ia berpindah duduk untuk menjauh dari Fenny.
“A-aku sungguh tak berniat bertemu dengan Danesh.” Fenny mencoba meyakinkan suaminya. Ia hendak mendekati Erland.
“Berhenti kau! Aku malas dengan wanita pembual sepertimu,” cegah Erland.
Tatapan tajam suaminya itu membuat Fenny mengurungkan niatnya. Ia kembali duduk di tempatnya semula.
“Aku akan memberitahukan suatu informasi penting, kau pasti akan terkejut mendengarnya.” Fenny mencoba membuat suaminya agar tak menjauhinya. Ia ingin mengatakan jika calon kakak iparnya hanya seorang pelayan dan berani merendahkan dirinya.
“Simpan saja informasimu itu, pasti tak akan jauh dari drama korea atau barang-barang branded baru. Hidupmu kan memang tak pernah bermanfaat,” cibir Erland.
“Tega sekali kau mengatai istrimu sendiri seperti itu.” Fenny semakin dibuat sebal. Niat hati ingin mencari pembelaan pada suaminya agar membantunya membalas Danesh, tapi ia justru dibuat lebih kesal lagi. “Jika kau tak mau mendengar informasi dariku tentang calon kakak ipar kita, ya sudah.” Ia melipat kedua tangannya angkuh.
Dari jarak yang lumayan jauh, Felly bisa melihat sepasang suami istri itu tak akur. Ia menggelengkan kepalanya. Kedua tangannya penuh membawa baskom berisi air es dan tangan satunya membawa kotak obat.
“Jangan bertengkar terus, masih pengantin baru perbanyak mesranya,” ujar Felly saat dirinya berhenti di ruang santai keluarga.
__ADS_1
Fenny memutar tubuhnya, menyandar di sandaran sofa untuk menatap Felly. “Heh! Kemesraanku dengan Erland berbeda, ini kita sedang bermain musuh-musuhan.”
Felly terkekeh geli. “Kau itu lucu sekali.”
“Diam kau! Jangan mengurusi urusan orang lain. Urus kepentinganmu sendiri!” sergah Fenny. Ia merasa sedang diejek oleh Felly. Tiga manusia yang ia temui semuanya membuatnya kesal. “Kau Felly! Apa kau tak bisa mencari calon kakak ipar yang benar? Setelah gagal menikah, kenapa seleramu jadi turun? Seorang pelayan? Apa kau bercanda? Memberikanku kakak ipar yang tak sederajat. Sungguh terlalu.”
Fenny mengeluarkan unek-uneknya pada Felly. Ia juga harus membuat saudara kembarnya kesal. Enak saja dia sendiri yang kesal, kembarannya juga harus merasakannya lah.
Bukannya tersinggung, Felly justru tertawa. “Setidaknya dia tampan, bule, dan tentunya tak akan ditikung orang lain lagi karena pekerjaannya.”
“Heh! Kau menyindirku menikungmu?” Fenny berdiri. Ia menunjuk angkuh Felly dengan matanya yang menyiratkan peperangan.
Fenny berjalan cepat, mendekati Felly. Ia berdiri tepat di hadapan saudara kembarnya. “Heh! Kau saja yang tak bisa menjaga kekasihmu hingga dia bermain denganku.”
Felly memutar bola matanya malas. Berdebat dengan Fenny tak akan ada habisnya. “Erland,” panggilnya pada pria yang sedari tadi diam saja tapi telinganya mendengarkan semua yang diucapkan oleh Felly dan Fenny.
“Ya?” Erland mencoba sok cool, sama seperti Danesh. Siapa tau ia masih ada celah untuk kembali dengan Felly. Sepertinya Felly menyukai pria yang terlihat dingin.
__ADS_1
“Tolong kondisikan istrimu,” pinta Felly. Ia menaikkan kedua tangannya yang membawa barang. “Tanganku sudah pegal sedari tadi.”
Erland yang tak tega melihat wanita yang ia cintai kesusahan pun berdiri. Ia mendekati Fenny dan menyeret istrinya itu agar duduk kembali.
“Terima kasih.” Felly kembali melanjutkan jalannya menuju kolam renang. Untung saja air es yang ia bawa masih sangat dingin dan bongkahannya belum banyak mencair.
...........
Jangan lupa:
1. Like
2. Komen
3. Hadiah
4. Follow akunku
__ADS_1
5. Follow instagram aku: heynukha