
“Biar dia merasakan hidup bersama orang miskin itu bagaimana, lagi pula Papa yakin dia tak akan kuat hidup susah terlalu lama.” Papa Rey berucap penuh keyakinan. “Hidupnya sudah enak sedari kecil, mana bisa dia terlalu lama hidup tanpa bergelimang harta,” imbuhnya.
“Pa, kita minta tolong Erland saja. Suamiku kan tak kalah pandai mengurus bisnis, sama seperti Felly,” cetus Fenny memberikan ide.
Tuk!
Pena yang ada di tangan Papa Rey melayang begitu saja mengenai kening Fenny membuat wanita itu mengaduh dan mengelus keningnya. “Kau hidup bersamaku sudah berapa lama?”
“Sedari kecil,” sahut Fenny sinis. Ia sebal sekali, jika ada Felly pasti dirinya sudah dilindungi oleh kakaknya agar tak terkena pena. Sialnya dirinya harus berhadapan langsung dengan sang Papa.
“Kau seharusnya tahu bagaimana aku. Aku tak begitu mempercayai siapapun untuk meneruskan Excelent Group. Bagaimana jika perusahaan kita diambil alih olehnya? Mau hidup dengan apa kau?!”
“Pa ... tapi kan—” Fenny hendak mengajukan protes lagi, namun Papa Rey sudah menatap tajam dan sangat mengerikan.
__ADS_1
“Tak ada bantahan! Mulai besok, kau harus bekerja menggantikan Felly! Ada Stefany, sekretaris Felly yang akan mendampingimu. Kau bisa bertanya dengannya jika tak tahu,” finalnya. Papa Rey sungguh tak mau dibantah lagi. “Keluarlah,” usirnya dengan mengibaskan tangan.
Fenny tak bisa membantah Papanya. Ia keluar ruangan kerja Papanya dengan kesal. Kakinya ia hentakkan setelah berada di luar ruangan. “Papa yang salah, aku yang terkena masalah,” gerutunya. Ia pun melangkahkan kakinya menuju kamar. Namun ia melihat suaminya yang baru saja masuk ke dalam rumah.
Fenny buru-buru menggandeng Erland dan mengajak suaminya itu keluar lagi.
“Kau itu kenapa?!” sentak Erland kesal. Tubuhnya yang lelah sehabis bekerja, membuatnya mudah emosi akibat kelakuan istrinya yang begitu kekanakan.
“Aku sedang bad mood. Ayo kita keluar jalan-jalan,” ajak Fenny terus memaksa Erland agar mengikuti langkah kakinya menuju mobil.
Fenny mencebikkan bibirnya. “Ini sedang luar biasa, anakmu yang ingin jalan-jalan bersama dengan Papanya. Memangnya kau mau anakmu lahir dan suka mengeluarkan air liur akibat tak dituruti kemauannya saat dalam kandungan?” alasannya.
Meskipun malas, tapi Erland melanjutkan kakinya untuk masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Fenny dan Erland pun duduk di belakang. Supir pribadi mereka yang mengemudi membelah jalan raya.
Erland memilih untuk bermain ponselnya daripada mengobrol dengan istrinya.
Sedangkan Fenny yang merasa diabaikan pun melihat ke luar. “Pak, berhenti,” ujarnya tiba-tiba. Ia melihat seseorang yang bisa membuat moodnya baik lagi. Danesh. Ya, ia tak sengaja melihat pria itu sedang membuang sampah. Hasratnya yang ingin mengejek Danesh pun mendadak keluar.
Supir pribadi Erland memberhentikan mobilnya secara mendadak. Membuat sang majikan yang tengah fokus dengan ponselnya maju secara dadakan hingga kepalanya terbentur dengan kursi depannya.
“Kau bisa berkendara dengan benar, tidak? Yang betul jika menyetir, kau tahu aturan, kan?” omel Erland.
“Maaf, Tuan. Nona Fenny mendadak meminta saya untuk berhenti,” jelas supir itu dengan ketakutan.
Erland berdecak. “Lain kali, jangan turuti permintaan yang bisa membahayakan keselamatan kita dan orang lain, jika terjadi kecelakaan, bagimana?”
__ADS_1
“Maaf, Tuan.” Supir itu menunduk menyesal.