
“Aduh ... aduh ... sakit, Dariush! Kau ini selalu saja menyiksaku,” keluh Deavenny saat telinganya dijewer. Ia mencoba meronta agar Dariush melepaskan tangan itu dari telinganya.
“Jaga matamu dan hatimu itu. Kau harus sadar, kau dan dia itu tak akan mungkin bersama. Jangan memaksakan takdir,” omel Dariush.
“Kenapa? Memangnya salah aku jatuh cinta dengan dia? Dia kan tampan dan juga perhatian. Wajar saja jika aku memiliki rasa dengannya,” timpal Deavenny tak mau kalah.
“Kau memang harus dijewer lebih kencang lagi agar sadar diri.” Delavar jadi ikut mengomeli adiknya yang agak kurang beruntung dalam kadar kepintaran.
Deavenny mencebikkan bibirnya. “Kalian ini sebagai saudara serahim, seharusnya mendukung.”
“Jika pria yang kau cintai itu bukan dia, kami akan mendukung. Tapi kau itu salah jatuh cinta dengan orang.” Dariush masih saja mengomeli adiknya.
Deavenny melipat kedua tangannya di dada. “Sudah, diam. Kita lihat Mommy dan Daddy lagi saja. Malas aku mendengar omelan kalian itu.”
Dariush dan Delavar hanya menggelengkan kepala mereka. Ketiganya pun mengalihkan pandangan menatap ke depan.
Mommy Diora dan Daddy Davis ternyata sedang berdansa berdua dan ditonton oleh para tamu. Terlihat sangat mesra dan romantis sekali.
__ADS_1
Deavenny menyatukan kedua tangannya dengan posisi saling menggenggam. Ia menempelkan tangannya itu ke bawah dagunya. “Um ... mau juga pasangan seperti mereka,” gumamnya.
Sedangkan Dariush dan Delavar, mereka hanya diam saja tak mengeluarkan suara. Keduanya justru menikmati musik.
“Cium ... cium ... cium.”
Sorak-sorak dari para tamu yang hadir pun memenuhi area outdoor itu.
Mommy Diora dan Daddy Davis yang baru saja menyelesaikan dansa mereka pun masih dengan posisi intim yang tak berjarak sedikit pun. Mendengarkan permintaan para tamu, tentu saja Daddy Davis sangat senang.
Davis tersenyum terlebih dahulu pada istrinya. “Sebagai hadiah untuk ulang tahunmu, aku tak ingin memberikanmu harta. Karena semua sudah ku berikan pada anak-anak. Aku hanya ingin memberikanmu seluruh waktuku. Kita akan keliling berlibur ke berbagai negara setelah ini, dan tujuan terakhir kita adalah Jepang. Dulu kau sangat menolak ketika ku ajak bulan madu ke Bali, dan kau bersikeras ingin ke Jepang. Aku akan mengabulkannya saat ini,” ujarnya.
Sementara itu, Deavenny yang melihat kedua orang tuanya saling memadu kasih pun meneteskan air mata bahagianya. Ia bersyukur dengan berkat yang diberikan oleh Tuhan, ia diberikan keluarga yang harmonis dan saling menyanyangi.
“Uw ... aku mau juga dicium,” gumam Deavenny.
Cup! Cup!
__ADS_1
Dua kecupan sekilas langsung mendarat di kedua pipi Deavenny.
“Sesuai keinginanmu,” ujar Dariush.
“Selagi kami bisa memenuhinya, kami akan berikan,” tambah Delavar.
Kedua perjaka itu sangat menyayangi adiknya yang begitu polos dan sedikit kurang pintar. Mereka bahkan sangat memanjakan Deavenny.
Deavenny mengusap pipinya itu. “Itu bukan ciuman, tapi kecupan. Lagi pula aku bosan dicium kalian terus,” elaknya.
Dariush dan Delavar mengedikkan bahunya. “Jika bukan kami yang menciummu, lalu siapa? Danesh? Dia saja tak di sini.”
Deavenny memutar bola matanya mengejek kakak-kakaknya itu. Ia pun maju satu langkah lalu berbalik untuk berhadapan dengan kembarannya. Senyum penuh arti pun ia hias di wajahnya. “Tentu saja aku ingin dia yang menciumku.” Tunjuknya pada seorang pria.
“Jangan macam-macam!” seru Dariush dan Delavar bersamaan.
...........
__ADS_1
...Sambil nunggu up, baca juga cerita temen aku yuk. Judulnya Noble Love by author Queen J. Update setiap hari juga loh....