Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 116


__ADS_3

Dariush begitu terkejut saat Daddy Davis menelponnya dan memberitahukan kondisi Mommy Diora yang sangat berharga dalam hidupnya dan ketiga kembarannya mendadak tak sadarkan diri. Ada rasa takut yang teramat besar memenuhi hati dan pikirannya.


Pria yang tak kalah tampan dengan Danesh itu melangkahkan kakinya dengan hentakan mantap dan ritme yang cepat mencari Delavar dan Deavenny.


“Ayo ikut aku sekarang juga. Kita berkemas menjemput Danesh dan istrinya. Daddy baru saja menelponku, Mommy masuk rumah sakit!” seru Dariush.


Dariush menarik paksa lengan Delavar yang sedang bermain play station lima di televisi yang berukuran sangat besar, ia juga menarik Deavenny yang tengah tiduran di atas karpet berbulu halus di samping Delavar yang masih menggunakan masker pada wajahnya. Keduanya sedang asik dengan kegiatan mereka di ruang tengah.


“What?!” pekik Delavar dan Deavenny bersamaan. Delavar langsung membuang stik play station limanya secara asal, dan Deavenny melepaskan maskernya serta membuang secara asal.


“Kau tak bercanda, kan?” tanya Delavar memastikan.

__ADS_1


“Ck! Untuk apa aku membuat Mommy sakit sebagai bahan bercandaan? Seperti tak ada candaan lain saja,” decak Dariush kesal. “Cepat, ayo, kita tak ada waktu. Perjalanan ke Asia itu lama, belum lagi kita harus ke Indonesia menjemput Danesh dan istrinya,” peringatnya.


“Oke! Lima menit lagi kita berkumpul di sini.” Setelah mengucapkannya, Deavenny langsung berlari menuju kamarnya di lantai tiga. Ia tak mau ikut berdebat atau menanyakan berita buruk itu. Ia meninggalkan begitu saja dua kakak kembarnya.


Dariush dan Delavar pun mengikuti Deavenny yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam kamar.


Mereka sungguh tepat waktu. Lima menit kemudian sudah berkumpul di ruang tengah dengan koper masing-masing. Tanpa mandi, tanpa berganti pakaian, bahkan tanpa mengganti dalaman pun mereka langsung berangkat ke bandara menuju ke Indonesia.


Di negara Indonesia, sepasang suami istri yang sedang lengket-lengketnya tengah bersiap untuk berangkat kerja.


Hari ini Felly terlihat tak begitu bersemangat. Entah mengapa ia sedang tak ingin bekerja dan ingin selalu dekat dengan suaminya.

__ADS_1


Begitu juga dengan Danesh. Saat keduanya berjalan hendak keluar untuk beraktivitas seperti biasa, pria itu langsung memeluk tubuh istrinya tepat di ruang santai yang biasa mereka gunakan untuk menonton televisi.


Kepala pria bule itu didaratkan di atas pundak istrinya. Ia tak membiarkan Felly pergi dan merengkuh tubuh buncit yang mulai naik berat badannya itu dari belakang. Padahal pakaian rapi sudah melekat di kedua tubuh manusia itu.


“Bagaimana jika kau tak usah bekerja? Atau kau bekerja saja di coffee shopku?” pinta Danesh. Ia mengecupi tengkuk istrinya terus, indera penciumannya menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya yang sudah membuatnya candu.


Felly mengelus tangan suaminya yang menempel di atas perutnya. Benar-benar di atas perut. Sebab, tangan kekar itu menyusup ke balik dress yang ia pakai. Hingga menyibakkan pakaiannya dan paha serta kain tipis pembungkus bagian sensitifnya pun terpampang nyata.


“Iya, aku akan kabari Stefany untuk bekerja di Coffee shopmu saja,” terima Felly sangat lembut. Ia juga ingin terus memandangi suaminya. Rasa cintanya yang dulu ia tahan, kini semakin menjadi besar setelah keduanya saling mencintai.


“Yes ...!” seru Danesh gembira. Ia membalikkan tubuh istrinya agar menghadap ke arahnya. Ia memegangi kepala Felly dan mendaratkan kecupan diseluruh wajah istrinya itu tanpa kecuali.

__ADS_1


__ADS_2