
Mata Erland beralih menatap istrinya. “Dan kau, bisa tidak sekali-kali gunakan otakmu itu untuk berpikir?” omelnya.
Fenny memutar bola matanya malas dan mencebikkan bibirnya. “Anakmu yang memintanya.”
“Halah ... alasan saja kau.”
“Sungguh, anakmu ingin ke sana.” Fenny menunjuk kedai di mana ia melihat Danesh.
Dengan terpaksa, Erland menuruti Fenny. Jika sudah menyangkut anaknya. Ia tak bisa menolak. Keduanya pun mulai memasuki coffee shop milik Danesh.
Suasana pertama kali menginjakkan kaki di sana pun terlihat sangat ramai, untung saja masih ada satu meja kosong di ujung.
Fenny mengedarkan matanya mencari sang target. Ia menyunggingkan senyum sinisnya saat melihat kembarannya, namun ia belum melihat Danesh di sana.
“Kau saja yang memesan, aku malas mengantri,” titah Erland. Ia tak berniat melihat isi coffee shop itu, sehingga ia tak mengetahui jika ada Felly di sana.
“Hm ... carilah tempat duduk.”
__ADS_1
Erland tak mendengarkan ucapan Fenny. Ia langsung pergi begitu saja.
“Ck! Selalu seenaknya,” gerutu Fenny.
Wanita yang sudah memiliki niat buruk itu pun mengantri. Mulutnya sudah gatal. Hingga tibalah gilirannya.
“Selamat da—” Felly hendak menyapa pengunjungnya. Namun berhenti begitu saja saat melihat kembarannya di hadapannya. Ia masih kesal mengiingat kejadian terakhir kali di rumahnya. “Ada apa kau kemari?” tanyanya dengan ketus.
“Begitu cara perlakukanmu pada pengunjung?” sindir Fenny menaikkan sebelah alisnya.
Fenny tersenyum meremehkan. “Ku kira kau itu pintar, ternyata kau itu sangat bodoh. Rela meninggalkan kehidupan mewahmu demi pria miskin seperti Danesh, dan sekarang kau bekerja sebagai seorang kasir? Oh ... no ... jangan anggap kita saudara kalau begitu, kita tak selevel,” cibirnya.
“Tak peduli banyak uang atau tidak, yang penting hidupku bahagia dengan caraku sendiri,” timpal Felly.
“Halah ... mana ada bahagia dengan hidup sepertimu.” Fenny tak mau berhenti menghina, dengan seperti itu ia bisa mengembalikan moodnya.
Felly mengepalkan tangannya. Ia hendak berjalan keluar dari balik mesin kasir untuk mendekati kembarannya dan memberi pelajaran untuk Fenny. Ia sangat ingin menampar kembarannya itu yang tak pernah bisa sadar dengan kesalahan dan sifat buruknya.
__ADS_1
Namun, ada tangan yang terasa hangat mencegah Felly agar tetap berdiam diri di tempat.
“Jika kau ke sini hanya untuk menghina, lebih baik kau pergi. Aku tak menerima pengunjung sepertimu,” usir Danesh. Ia melihat istrinya berdebat dengan kembarannya setelah ia selesai dari toilet dan langsung menghampiri Felly.
“Cih! Sombong sekali kau? Memangnya siapa dirimu, mengaturku?” Kedua tangan Fenny terlipat di depan dada dengan angkuh.
“Aku? Pemilik coffee shop ini,” jawab Danesh dengan ekspresi datarnya.
Senyum sinis Fenny sunggingkan di bibirnya. “Baru punya usaha kecil saja sombong sekali kau, bagaimana jika kau memiliki usaha yang lebih besar? Bisa semakin belagu saja kau! Dasar norak,” hinanya.
“Pergi dari sini!” usir Danesh dengan nada penuh penekanan.
Fenny semakin terlihat menantang. “Aku akan membuatmu kehilangan pelangganmu,” ancamnya.
“Apa seperti ini pelayananmu pada pelanggan di coffee shopmu? Aku ingin beli minuman dan kalian malah mengusirku! Sungguh pelayanan yang buruk.” Fenny mengeraskan suaranya agar seluruh pengunjung di sana mendengar ucapannya.
Fenny pun berbalik untuk menghadap ke para pengunjung di sana. “Dengar, coffee shop ini pelayanannya sangat buruk. Lebih baik kalian pindah saja. Aku baru saja di usir oleh mereka.” Telunjuknya mengarah pada Felly dan Danesh.
__ADS_1