
Felly melepaskan pelukannya, kini keduanya saling berhadapan. Wajahnya pun terlihat serius. “Dengar, justru karena kau tahu akan meninggalkannya suatu saat nanti, seharusnya kalian menghabiskan waktu bersama.” Felly berhenti sejenak sebelum melanjutkan nasihatnya lagi.
“Buatlah kenangan indah untuk sisa waktumu. Jangan menyiksa hatimu agar saat kau bertemu dengan Tuhan untuk selamanya, kau bisa kembali dengan tenang tanpa rasa penyesalan karena sudah menorehkan luka yang amat dalam pada pria yang mencintaimu itu,” imbuh Felly.
“Dan juga, kau bisa kembali untuk selamanya pada Tuhan dalam keadaan bahagia.” Felly meraih tangan wanita itu dan menggenggamnya, tangan yang tak ada infusnya. “Lihat aku,” pintanya meminta wanita itu menatap matanya.
Wanita itu menolehkan wajahnya dan keduanya saling bertatapan seolah menguatkan satu sama lain.
“Jangan sia-siakan sisa hidupmu dengan menyiksa diri. Itu hanya membuatmu semakin sakit. Ragamu sudah sakit, maka jangan sakiti jiwamu,” tutur Felly dengan ulasan senyumnya.
Wanita itu terlihat murung. “Apakah dia tetap mau menerimaku? Setelah aku mencampakkannya selama ini? Bahkan saat kami berpisah, dia terlihat sangat kacau. Dan inilah hasilnya.” Ia menunjuk perutnya yang buncit.
__ADS_1
“Dia menghamiliku demi mempertahankan aku agar tak pergi meninggalkannya. Tapi dengan teganya aku tetap pergi dari kehidupannya. Bahkan sekarang aku tak tahu kabarnya seperti apa,” jelas wanita itu.
Felly menepuk lembut punggung tangan wanita itu. “Yakinlah pada hatimu. Bahkan dari ceritamu itu, aku bisa menilai jika dia sangatlah mencintaimu. Aku yakin, dia pasti paham jika kau menceritakan alasanmu yang sesungguhnya.” Ia berhenti sejenak untuk menunjukkan senyuman yang terlihat menenangkan. “Apa lagi, kau rela mengandung anaknya. Dia pasti sangat bahagia jika mengetahui hal itu.”
Wanita itu tiba-tiba saja memeluk Felly. Ia senang bisa berbicara membagikan keluh kesahnya pada orang yang baru ia kenal. Entahlah, ia juga tak tahu mengapa dirinya bisa langsung berani menceritakan hal sepribadi itu. Namun ia merasa tenang sekarang, bebannya seperti berkurang.
“Terima kasih atas nasihatmu. Suatu saat nanti, jika aku bertemu dengannya lagi, maka aku akan memperbaikinya. Apabila Tuhan masih mengizinkanku bersama dengannya, pasti kami akan dipertemukan lagi,” ujar wanita itu setelah melepas pelukannya dan tersenyum.
“Boleh, aku akan mendengarkannya. Tapi aku tak sebijak dirimu, jadi aku tak yakin bisa memberikanmu nasihat seperti yang kau berikan padaku,” jawab wanita itu.
“Oke, aku akan menceritakan kisah cintaku dengan suamiku padamu. Tapi, bolehkan aku mengganti posisi kursi rodamu agar ada di depanku? Punggungku rasanya pegal harus sedikit miring agar bisa melihatmu,” pintanya dengan hati-hati.
__ADS_1
Wanita itu terkekeh. “Tentu saja boleh.”
Felly langsung berdiri dari duduknya dan memindahkan posisi kursi roda, tepat di depan kursi yang ia duduki. Ia pun mendaratkan pantatnya di sana. “Nah, begini kan enak posisinya,” celetuknya jujur.
Wanita itu tertawa namun tak mengeluarkan suara.
Felly tersenyum. “Kau manis saat tertawa, jika aku adalah kekasihmu itu, pasti aku sudah meleleh melihatmu seperti tadi,” ujarnya menghibur. Ia ingin membuat wanita di hadapannya itu senang. Rasanya tak tega melihat orang selembut, seramah, dan sebaik itu bersedih.
Wanita itu menggerakkan tangannya seolah tengah menampar udara. “Kau bisa saja.”
Keduanya pun tertawa bersama, dan untuk sejenak melupakan rasa sakitnya masing-masing.
__ADS_1