
Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta. Pesawat Felly sudah mendarat di landasan pacu dengan selamat. Ia langsung keluar dari burung besi itu dan ingin segera mencari suaminya yang saat ini sedang melakukan telepon dengan dirinya.
“Kau di mana?” tanya Danesh. Ia sudah menunggu di depan pintu kedatangan insternasional. Matanya terus melihat ke ratusan orang yang satu persatu mulai keluar dari sana.
“Di hatimu,” cicit Felly memberikan gombalan pada suaminya.
“Ha? Serius ini, kau di mana?”
Di tempatnya, Felly menjauhkan ponselnya dan berdecak sejenak. “Dasar pria tak peka.” Ia pun mengembalikan benda pipih itu ke telinganya lagi. “Aku sedang berjalan menuju pintu kedatangan,” jawabnya.
“Oke. Aku sudah melihatmu,” balas Danesh saat matanya menangkap wanita yang ia rindukan itu.
Dari jarak dua puluh meter, Danesh mengayunkan kakinya dengan ritme yang cepat. Matanya terus menatap instens Felly dan saat wanita itu sudah berada di hadapannya, ia langsung melingkarkan tangannya untuk memeluk istrinya.
__ADS_1
Menciumi puncak kepala Felly berkali-kali. “Akhirnya kau kembali. Apartemenku rasanya hampa tak ada dirimu,” jujurnya.
Felly yang terkejut dengan rengkuhan tiba-tiba dari suaminya pun tersadar dan membalas melingkarkan tangannya di tubuh suaminya yang juga sangat dirindukannya itu. “Memangnya ada alasan untukku tak kembali? Jika suamiku sangat tampan dan perhatian?” balasnya.
Danesh terkekeh, tangannya mengelus rambut Felly. Ia tak ingin melepaskan kedua tangannya dari istrinya. “Tentu saja tidak, karena pesonaku memang tak perlu diragukan lagi,” kelakarnya percaya diri.
Felly pun mencubit gemas suaminya. “Maka, cintailah aku seumur hidupmu,” lirihnya bersamaan dengan suara informasi dari seorang wanita yang memberitahukan tentang kedatangan pesawat lain, sehingga suaranya kalah besar. Ia tak berani berucap keras-keras, sebab dirinya tak siap menerima kenyataan jika ditolak mentah-mentah. Lebih baik menikmati yang suaminya berikan dan lakukan padanya saja.
“Stef, kau pulang sendiri tak apa, kan?” tanya Felly setelah pelukannya terurai.
“Tenang saja, Nona. Aku sudah besar. Apa lagi anuku,” kelakar Stefany menjawab pertanyaan atasannya.
Felly bergeleng kepala mendengar candaan sekretarisnya. “Kau itu mesum sekali.”
__ADS_1
“Aku bukannya mesum, Nona. Tapi aku sedang membanggakan milikku ini. Namun sayangnya, belum laku juga sampai sekarang,” timpal Stefany.
“Kau mau laku?” tanya Danesh mendadak, tumben sekali pria itu mau berbicara dengan orang lain yang tak ada hubungan dengan dirinya.
Stefany mengangguk. “Mungkin Tuan Bule mau mengenalkan saudaranya untukku?” Ia menaik turunkan alisnya.
“Kau pergi saja ke club. Jual saja dirimu di sana. Pasti laku,” ucap Danesh dengan wajah datarnya. Laku yang ada dipikirannya ternyata berbeda dengan laku yang dimaksud oleh Stefany.
Stefany bukannya sakit hati dengan Danesh. Ia justru menepuk jidatnya. “Itu laku yang tak halal. Laku maksudku, sampai sekarang aku masih saja jomblo. Apa kurangnya aku?” Ia mengibaskan rambunya, merasa dirinya cantik. Tapi memang cantik, hanya saja sedikit centil.
Felly terkekeh dengan perdebatan keduanya. “Sudah, kita pulang duluan, ya? Kau hati-hati,” pamitnya.
Tanpa menunggu jawaban Stefany, Danesh meminta barang bawaan milik Felly untuk dia bawakan. Tak lupa tangannya yang kosong pun digunakan untuk menggandeng istrinya yang kedudukan di dalam hatinya masih belum terlihat jelas. Tapi sejauh ini, dirinya nyaman bersama dengan Felly.
__ADS_1