
Danesh menaruh barang bawaan istrinya di bagian depan motornya, tepatnya di atas tempat pijakan kaki pengemudi. Dan keduanya pun mulai membelah jalanan ibu kota dengan Felly yang memeluk suaminya, tanpa disuruh terlebih dahulu. Danesh pun suka saja istrinya seperti itu.
Setiap kali kendaraan roda dua itu berhenti di lampu merah, Danesh meluruskan kakinya yang panjang dan memukul lututnya.
Hal itu dilihat oleh Felly. Ia pun meletakkan kepalanya di atas pundak Danesh hingga kepalanya dengan sang suami sejajar. “Pegal, ya? Biarkan barangku ditaruh di tengah. Kakimu pasti tak nyaman karena sangat panjang dan itu membuat bagian depan sempit,” tuturnya sangat lembut.
Suaranya masih bisa di dengar oleh Danesh, sebab saat ini keduanya tengah menunggu lampu merah selama seratus delapan puluh detik.
Danesh menenggok ke kiri, hembusan napasnya menampar kulit wajah Felly. Ia pun tersenyum pada istrinya itu. “Tak apa aku tak nyaman. Yang penting dudukmu dan anak-anakku nyaman,” balasnya. Tangan kirinya menumpuk di atas tangan Felly yang melingkar di tubuhnya. Ia mengelus lembut bagian tubuh istrinya itu.
Dan tentu saja hal itu membuat hati Felly berdesir. “Apa kau selalu lembut dan perhatian seperti ini dengan semua wanita?” tanyanya penasaran.
__ADS_1
Danesh menggelengkan kepalanya hingga tak sengaja helmnya bergesekan dengan helm Felly. “Tidak, aku hanya melakukan hal itu dengan orang-orang yang aku anggap penting. Seperti dirimu, Mommyku, adik perempuanku, dan Violet mantan kekasihku yang pernah aku ceritakan padamu jika aku sedang menunggunya,” jelasnya. Ia pun mencubit gemas hidung istrinya itu.
Felly mengelus hidungnya yang memerah, ia hendak bertanya lagi namun lampu sudah hijau. Dengan terpaksa, ia mengurungkan niatnya itu dan menyimpannya untuk ia tanyakan sesampai di apartemen.
“Kita beli sushi dulu, ya? Aku sangat ingin memakannya,” ajak Danesh dengan suara yang ia kencangkan agar Felly mendengar. Berbicara saat motor melaju di jalan sungguh membuat orang sebal, karena harus berlomba dengan angin yang menerpa dan sahut-sahutan deru kendaraan lain.
“Boleh.” Felly menganggukkan kepalanya antusias.
Danesh menghentikan motornya tepat di depan salah satu restoran jepang yang terkenal dengan harganya yang murah. Keduanya masuk ke dalam sana bersamaan.
Felly melihat buku menu yang dipegang oleh Danesh. Ia nampak berpikir, namun tak tahu mana yang enak. “Samakan saja denganmu. Apa pun yang Daddynya makan, anakku juga mau,” jawabnya.
__ADS_1
“Oke, kita bungkus saja, ya? Kau pasti lelah setelah perjalanan jauh,” bujuk Danesh sebelum ia mengantri di depan kasir untuk memesan.
Felly mengangguk. “Siap, suami buleku.”
Danesh terkekeh dan menggelengkan kepalanya. Istrinya itu selalu saja menganggilnya dengan sebutan yang di telinganya terdengar lucu.
“Jangan kemana-mana. Jika kau ingin ke toilet, katakan padaku. Aku akan mengantarkanmu, jangan ke sana sendiri,” peringat Danesh sangat posesif. Pria itu sungguh tak rela hanya berpisah beberapa langkah saja dari Felly.
“Iya. Sudah sana mengantri. Daripada kehabisan,” usir Felly dengan mengibaskan tangannya.
Danesh pun mulai mengantri. Sungguh panjang sekali antrian itu. Efek terkenal dengan harga murah, orang-orang rela menyempatkan diri membeli makanan khas Jepang itu di sana.
__ADS_1
Berulang kali Danesh melihat ke arah istrinya. Ia ingin memastikan Felly baik-baik saja. Ia tersenyum saat pandangannya bertemu dengan istrinya itu.
“Apa ini saatnya aku melupakan Violet?” gumam Danesh lirih.