
Felly menghela napasnya pelan, ia sungguh merasa bersalah karena mengungkit tentang suami yang ternyata sangat sensitif bagi wanita di sampingnya. “Maafkan aku. Aku tak tahu,” sesalnya.
Felly merasa beruntung karena Danesh memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi pada darah daging suaminya itu. Meskipun tak mencintainya tapi tak pernah sekalipun menyakitinya ataupun menyiksanya, justru perlakuan lembut, manis, dan perhatian yang selalu diberikan kepadanya.
Wanita itu menggeleng. “Bukan salahmu. Ini salahku yang meninggalkan pria yang sangat mencintaiku begitu saja.” Ia menunduk sedih. Ada perasaan menyesal dengan keputusannya itu, namun keadaannya sudah tak bisa ia rubah lagi.
Felly dapat melihat ada raut kesedihan yang teramat dalam di wajah wanita yang sedang berbincang dengannya itu. Ia juga melihat ada perasaan cinta yang sedang dipendam wanita itu. “Jika dia mencintaimu, lantas kenapa kau meninggalkannya?” tanyanya penasaran.
__ADS_1
Wanita itu menengok untuk menatap Felly. “Aku sakit, kau lihat saja kondisiku saat ini,” tuturnya.
Felly melihat dari atas sampai bawah wanita di atas kursi roda itu. “Memangnya ada yang salah dengan sakitmu? Jika pria itu, Daddy dari anakmu memang mencintaimu, mau seburuk apa pun kondisimu, pasti dia akan menerimamu. Tak peduli kekuranganmu,” nasihatnya sangat hati-hati, takut menyinggung lagi.
Wanita itu menghela napasnya. Ia menengadahkan kepalanya untuk menatap langit yang cerah, sekaligus menghentikan air matanya yang terus menetes akibat rasa rindunya. Tangannya menghapus bulir-bulir yang membasahi pipinya dan kembali menatap Felly. “Aku sudah tak secantik dulu, tubuhku mengembang akibat terlalu lama dirawat di rumah sakit dengan selang infus yang selalu saja menempel di tanganku.” Ia memperlihatkan tangannya di mana terdapat jarum yang menerobos menembus kulitnya dan ditutup dengan kassa.
Felly menggeleng lemah. “Dengar, cinta sejati tak akan memandangmu dari segi fisik. Fisik bisa berubah kapan saja, entah itu karena kecelakaan atau menua. Tapi percayalah, cinta yang tulus tak ada yang memandang hal itu.” Ia menjeda sejenak ucapannya untuk menarik napas.
__ADS_1
Wanita itu terlihat mengigit bibir bawahnya. Ia menunduk dan lagi-lagi bertetes air mata jatuh turun ke pahanya yang tertutup baju pasien. “Aku percaya akan hal itu. Aku percaya jika dia tak mencintaiku karena fisik.”
“Lalu? Kenapa kau masih meninggalkannya jika sudah tahu dia orang yang tulus?” tanya Felly lagi.
“Aku takut akan membuatnya sedih jika aku meninggalkannya untuk selamanya karena penyakitku bisa sewaktu-waktu mengantarkanku bertemu Tuhan. Aku berpikir jika aku meninggalkannya dan memberikannya luka lain, akan mengurangi rasa sedihnya. Dan dia akan mudah melupakanku,” jelas wanita itu memberikan alasan yang mendominasi dirinya meninggalkan Daddy dari anaknya.
Felly sangat penasaran dengan sakit yang diderita oleh wanita itu sampai bisa membuat wanita yang terlihat ramah dan mudah berteman dengan siapa saja itu takut. “Memangnya, kau sakit apa?”
__ADS_1
Wanita itu menatap sendu tangannya yang diinfus. “Aku sedang berperang melawan daya tahan tubuhku sendiri,” tuturnya.
Felly langsung memeluk tubuh wanita itu dari samping. Ia ingin menenangkan dan menyalurkan kekuatan. Ia tahu sakit apa yang diderita oleh wanita itu. Ia seolah ikut merasakan kesedihan yang sama.