
“Apa rencanamu untuk melenyapkan pria itu?” tanya Papa Rey.
“Kita tabrak? Buat dia mati seolah-olah karena kecelakaan,” cetusnya memberikan ide pertama.
“Dia bisa menghindar jika kita tabrak. Kau pikir ini di sinetron, orang tetap berhenti di tempat saat mengetahui ada kendaraan melaju ke arahnya,” tolak Papa Rey.
Fenny memutar-mutar matanya untuk berpikir ide lagi. “Aha!” Ia menjentikkan jarinya seolah mendapatkan ilham kelicikan. “Aku ada ide lagi. Bagaimana jika kita racun saja dia? Kita berikan kopi sianida agar seperti berita yang gempar beberapa tahun lalu.”
Pletak!
Papa Rey menyentil kening Fenny dengan keras.
“Aduh ...,” keluh Fenny mengusap keningnya yang terasa sakit. “Papa ini kasar sekali!” sentaknya.
“Turunkan nada bicaramu itu! Kau sedang berhadapan dengan orang tua,” tegur Papa Rey.
Fenny mencebikkan bibirnya. “Orang tua macam apa yang selalu ringan tangan dengan putrinya,” cibirnya sangat pelan, wajahnya ia palingkan agar Papanya tak melihat dirinya tengah menggerutu.
Fenny kembali menatap Papanya. “Bagaimana? Papa setuju tidak dengan ideku itu?”
“Tidak, bagaimana jika Felly tahu suaminya kita bunuh dengan racun? Dia pasti akan marah besar. Kemarahan orang yang diam dan sabar lebih mengerikan daripada kemarahan orang yang tempramental.” Lagi-lagi Papa Rey menolaknya.
__ADS_1
Fenny kembali berdecak, lagi-lagi idenya tak diterima. “Kita tumbalkan saja salah satu pelayan. Buat seolah-olah dia memiliki dendam dengan Danesh. Yang membuat minuman kan mereka bukan kita, jadi Felly tak akan tahu itu rencana kita untuk melenyapkan pria miskin itu.”
Papa Rey mengelus dagunya dengan tangan kanan. Ia berpikir sejenak untuk mengambil keputusan.
“Oke, kita bisa lakukan itu. Kapan rencana dijalankan?”
“Besok saja, lebih cepat lebih baik. Aku sudah sangat muak melihatnya.”
“Kau pikir kau saja yang muak. Aku pun muak memiliki menantu miskin dan rendahan sepertinya. Bisa-bisanya Felly memilih pria seperti dirinya sebagai pendamping. Untung rekan kerjaku tak ada yang mengetahuinya, bisa malu berdiri aku diperolok oleh mereka.”
Fenny tersenyum puas. Papanya memang sejalan dengan dirinya. Sama-sama tak menyukai Danesh.
“Oke. Sekarang aku mau istirahat dulu dan kita harus berdrama seolah-olah terpukul kehilangan Danesh agar tak terlihat jika kita adalah orang dibelakangnya.” Fenny berdiri dari duduknya.
Fenny mengecup pipi Papanya sekilas. “Malam, Pa. Selamat belajar untuk berakting sedih dengan linangan air mata,” pamitnya.
Fenny keluar dari ruang kerja Papanya sembari menari dan bersiul. Ia sangat gembira ada orang yang dipihaknya.
“Kau terlihat sangat senang keluar dari ruangan Papamu. Biasanya yang keluar dari sana pasti murung.” Mama Kyara yang tengah menonton TV dan melihat putrinya pun mengeluarkan suaranya.
Membuat Fenny menghentikan langkah kakinya yang hendak kembali ke kamar. Ia menatap Mamanya. “Papa sedang dalam suasana hati yang baik, Ma,” alasannya. “Hoam ....” Ia berpura-pura menguap seolah mengantuk. “Aku ke kamar dulu, Ma. Sudah tak kuat ingin memejamkan mata.” Ia pun berlalu pergi meninggalkan Mama Kyara.
__ADS_1
Fenny tak boleh menceritakan rencananya pada Mamanya. Mamanya itu seperti Felly, terlalu baik.
Mama Kyara hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya. Ia kembali fokus menonton drama korea di sana.
...........
Kicauan burung di belakang rumah utama terdengar sangat jelas. Papa Rey tengah duduk menyesap kopinya.
“Ada apa mencariku?” tanya Danesh dengan wajah dan nada datarnya.
Papa Rey mendongakkan kepalanya menatap menantu yang tak ia harapkan itu. “Duduk dulu, kita belum pernah berbincang berdua di sini.”
Danesh mengernyit. “Kau tak ada niatan buruk, kan, padaku?” Ia tak percaya begitu saja dengan sifat mertuanya yang mendadak menjadi baik.
Papa Rey berdecak. “Aku ingin lebih dekat dengan menantuku. Itu saja. Duduklah, kita ngopi bersama,” titahnya lagi.
Danesh pun duduk di kursi samping mertuanya.
Papa Rey mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan yang sudah ia siapkan dan sudah ia beri arahan untuk membuat kopi sianida.
“Kopinya, Tuan.” Pelayan itu meletakkan cangkir di atas meja dan kembali masuk ke rumah.
__ADS_1
Papa Rey menyesap kopinya. “Ah ....” Ia mengeluarkan suara seolah minuman itu sangat nikmat. “Itu kopi kesukaanku. Cobalah. Mungkin kau juga akan menyukainya.”