Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 24


__ADS_3

Hari sudah sore menjelang gelap saat Felly dan Danesh baru saja sampai di rumah besar keluarga Wilson. Taksi yang mengantarkan mereka hanya sampai di depan gerbang saja. Untuk sampai ke rumah utama, mereka harus berjalan kaki atau menggunakan kendaraan.


“Pak, tolong ambilkan buggy car ke sini,” perintah Felly pada satpam yang berjaga di rumahnya.


“Baik, Nona.” Satpam itu segera berjalan untuk mengambilkan transportasi yang biasa untuk berkendara di tempat golf itu. Ia segera kembali dengan mengendarai buggy car itu.


“Ini, Nona.” Satpam itu menyerahkan pada Nona Felly.


“Terima kasih.”


“Sudah tugas saya, Nona.” Satpam itu menunduk hormat dan kembali berjaga di pos.


“Kau bisa mengendarainya?” tanya Felly pada Danesh yang berdiri di sampingnya.


“Bisa.” Danesh mengangguk.


“Oke, kalau begitu kau saja yang mengemudikannya.”


Danesh mengangguk lagi. Tanpa bersuara, ia menaiki buggy car tersebut diikuti oleh Felly. Ia mulai menyalakan mesinnya dan melajukannya menuju rumah utama yang jaraknya lumayan jauh dari posisinya saat ini.


Menurut Felly, Danesh bukanlah pelayan yang norak. Biasanya, pelayan yang baru saja datang ke rumah besar keluarganya pasti terkesima dengan bangunan besar itu. Tapi Danesh cukup tenang dan biasa saja. Membuat Felly penasaran.


“Em ... Danesh?”


“Ya?” Pria itu tak mengalihkan pandangannya sedikitpun.

__ADS_1


“Sebelum menjadi pelayan, apa pekerjaanmu?”


Danesh memberhentikan buggy car itu. Ia beralih menatap Felly yang duduk di sampingnya. “Kenapa?”


Felly menggeleng pelan. “Tidak, aku hanya penasaran saja. Kau cukup biasa saat melihat rumahku, seolah sudah sering melihatnya.”


Danesh hanya mengangguk tanpa menjawab pertanyaan Felly. Ia tak bisa mengatakan identitas aslinya. Ia masih dalam fase hukuman. Tak ingin mengambil resiko jika ia mengatakan identitas aslinya dan menyebar, tentu saja ia tak ingin ditendang secara permanen dari keluarga Dominique.


“Jangan bertanya apa pun tentangku.” Danesh melajukan kembali buggy car itu.


“Kenapa?”


“Karena aku tak akan menjawabnya.”


“Selamat datang di rumah utama keluarga Wilson.” Felly mempersilahkan Danesh untuk masuk ke dalam rumahnya.


Danesh hanya mengangguk tanpa tersenyum ataupun menanggapi dengan suara. Tatapan matanya lurus tak melihat interior rumah itu sedikit pun. Ia sudah biasa melihat rumah mewah. Apa lagi mansion keluarganya di Finlandia lebih besar lagi dari milik keluarga Wilson.


“Di mana aku harus menemui Papamu?” tanya Danesh langsung pada intinya. Tujuannya datang ke sana untuk menemui orang tua dari wanita yang ia hamili, maka ia harus segera menyelesaikan hal itu.


“Biasanya ada di ruang kerjanya,” jawab Felly.


“Oke, tolong antarkan aku ke sana,” pinta Danesh.


Felly pun meminta Danesh untuk mengikutinya. Mereka harus berjalan melewati ruang santai keluarga. Di sana ada Fenny dan Erland yang tengah menonton TV.

__ADS_1


“Kau datang dengan siapa?” tanya Fenny membuat Felly dan Danesh berhenti.


Mata Fenny berbinar terkesima dengan Danesh yang sangat tampan. Bule pula. Jauh sekali dengan Erland—suaminya.


Erland pun demikian. Ia juga melihat Felly dan pria asing yang baru ia lihat. Ia sudah menajamkan pendengarannya untuk menunggu jawaban wanita yang sudah ia sakiti hatinya.


“Oh, perkenalkan ini Danesh. Calon kakak ipar kalian,” jelas Felly.


Fenny menganga terkejut. “Bule?”


“Seperti yang kau lihat.”


...........


Jangan lupa:


1. Like


2. Komen


3. Hadiah


4. Follow akunku


5. Follow instagram aku: heynukha

__ADS_1


__ADS_2