
Felly melihat sekilas wanita di sampingnya yang tengah duduk di kursi roda. Muda, cantik walaupun wajahnya pucat, badannya lumayan berisi namun tak kencang, pipi bulat, dan tangan yang tertancap selang infus. Mata wanita itu terlihat sendu, namun bibir selalu mengulas senyum bahagia. Tangan yang berisi itu pun selalu mengelus perut yang membuncit.
Felly mengulas senyum dan sedikit mengangguk menyapa saat wanita itu menoleh ke arahnya. Ada rasa canggung karena ia ketahuan memperhatikan wanita itu.
Merasa tak enak hati dan takut jika wanita itu marah saat diperhatikan, ia pun mengalihkan pandangan matanya ke ponselnya untuk bertukar pesan dengan suaminya. Sesekali ia tersenyum karena Danesh ternyata bawel juga, ya meskipun ia tahu karena khawatir dengan anak yang ada di kandungannya.
“Berapa bulan?” Wanita di sampingnya tiba-tiba saja mengeluarkan suara.
Membuat Felly memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas dan memenuhi kornea matanya dengan wanita yang tak ia kenal itu. “Maaf, apakah kau berbicara denganku?” tanyanya ramah.
__ADS_1
Wanita itu mengangguk. “Iya, kau sedang hamil, kan?”
Felly mengalihkan pandangannya menatap perutnya yang sedikit membuncit. Ia mengelus perut itu dengan sayang. “Iya. Kau juga?”
Wanita itu tersenyum. “Hm ....” Ia mengangguk dan wajah sendu itu terlihat bahagia. “Sudah enam bulan lebih,” jelasnya dengan inistiatif sendiri. “Kau hamil berapa bulan?” tanyanya kemudian.
“Kurang lebih tiga setengah bulan,” jawab Felly sangat lembut dan manis.
Tangan Felly kembali mengelus perutnya. “Maklum, kembar. Jadi lebih besar dari orang hamil biasa,” ia terkekeh sebentar.
__ADS_1
“Wah ... ada gen kembar? Atau program kembar?” tanya wanita itu terlihat antusias untuk mengobrol seputar kehamilan.
“Aku kembar, mungkin karena gennya kuat maka aku dipercaya oleh Tuhan untuk langsung merawat dua calon malaikat kecilku ini.” Ulasan senyum bahagia tergambar jelas di wajah cantik Felly.
Wanita di samping Felly itu sedikit tersenyum ikut merasakan kebahagiaan Felly, namun kembali memudar. “Daddy dari anak yang aku kandung juga kembar, empat pula. Tapi sayang, aku belum diizinkan untuk mengandung lebih dari satu. Mungkin karena kondisiku saat ini. Bahkan sejujurnya dokter melarangku untuk mengandung, dan menyarankan untuk menggugurkannya saat pertama kali aku ketahuan hamil. Mereka takut kondisiku semakin parah,” ujarnya sedih. Bahkan ia pun meneteskan air matanya mengingat perjuangannya mempertahankan buah cintanya.
Felly menggeser duduknya agar semakin dekat dengan wanita itu. Ia mengelus pundak yang terbalut baju pasien untuk memberikan kekuatan. “Kau pasti kuat, kau wanita hebat yang berani mempertahankan dan mempertaruhkan nyawamu dengan kondisimu yang istimewa. Suamimu pasti bangga denganmu.”
Mendengar kata suami, wanita itu justru semakin terisak.
__ADS_1
Felly menjadi bingung sendiri. Ia takut salah bicara. “Maaf, apakah aku menyinggung perasaanmu? Aku tak bermaksud melakukan itu. Maafkan jika ada perkataanku yang membuatmu sakit hati,” sesalnya.
Wanita itu tak berhenti menangis, ia menunduk dengan tangan yang seolah memeluk perutnya. “Aku tak memiliki suami,” balasnya. Ada perasaan bersalah sekaligus sedih yang ia rasakan saat ini jika mengingat pria yang menghamilinya dan pria itu adalah cintanya yang tak pernah ia lupakan hingga detik ini.