
Danesh melepaskan tangan Felly yang menggenggamnya. Membuat Felly menghentikan langkah kakinya dan berbalik menatap suaminya.
“Aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu.” Danesh menolak ajakan istrinya agar ia istirahat. Ia tak ingin mengambil resiko jika Tuan Besar Rey melihat dirinya tak bekerja. Setiap sudut rumah itu dilengkapi CCTV.
“Biar pelayan lain yang mengerjakannya,” tegas Felly. Ia tak ingin dibantah, kesehatan suaminya sekarang lebih penting. Ia hendak meraih kembali tangan Danesh.
Namun Danesh menepisnya. “Tolong mengertilah posisiku. Aku tak ingin nantinya Papamu melukaimu lagi karena ini.”
Felly menghela napasnya, ia mencoba berpikir untuk memaksa suaminya. “Oke, sekarang aku bukan istrimu, tapi majikanmu.” Raut wajahnya berubah menjadi serius tanpa menutupi rasa khawatirnya.
“Hm ... apa yang ingin kau perintahkan untukku?” tanya Danesh.
Felly tak langsung menjawabnya. Ia memanggil Siti yang hendak membuang sampah ke luar.
“Ada yang bisa dibantu, Nona?” tanya Siti.
“Tolong panggilkan pelayan lainnya, suruh mereka menggantikan pekerjaan Danesh,” titah Felly dengan tegas.
“Baik, Nona.” Siti berlalu pergi melaksanakan tugasnya.
“Sudah beres. Sekarang aku memintamu untuk masuk ke kamarku dan istirahat. Tak ada bantahan karena perintah majikan adalah mutlak.” Felly menarik tangan Danesh untuk mengikutinya.
__ADS_1
Danesh menurut, ia mensejajarkan langkah kakinya dengan Felly.
“Tidurlah, aku akan memanggilkan dokter.” Wanita itu menunjuk kasur empuknya agar Danesh memposisikan diri di sana.
Felly mengeluarkan ponselnya, ia menelpon Dokter Orlando untuk datang ke rumahnya. Namun yang mengangkat asistennya dan Felly hanya bisa menyampaikan pesan untuk diteruskan pada dokter keluarganya itu.
...........
Felly menatap iba pada suaminya. Sedari masuk ke dalam kamarnya ia sudah melihat Danesh bolak balik ke toilet sebanyak sepuluh kali.
“Kita ke rumah sakit saja, ya? Dokter Orlando terlalu lama ke sini. Dia sedang ada jadwal operasi darurat,” ajak Felly yang semakin khawatir dengan kondisi suaminya.
Danesh menggeleng. “Tak perlu, aku bisa menahannya,” tolaknya.
Felly mengusap wajahnya kasar. “Fenny ...! Sungguh keterlaluan,” berangnya mengepalkan tangan.
Tak lama Felly mendengar suara ketukan pintu. Ia membukanya dan memperlihatkan Siti di sana.
“Nona, ada Dokter Orlando. Katanya ada urusan dengan Nona Felly,” terang Siti dengan kepalanya yang menunduk.
“Suruh dia ke atas,” titah Felly.
__ADS_1
Siti turun lagi ke bawah untuk mengantarkan Dokter Orlando ke kamar Nona Felly. Tepat sekali Danesh keluar dari kamar mandi.
“Tolong periksa suamiku, dia diare sudah lebih dari sepuluh kali dalam satu jam ini. Dan sepertinya sudah tak terhingga lagi total dia mengeluarkan kotorannya dalam satu hari ini.”
Dokter Orlando mengernyit, ia bingung sejak kapan Nona Felly menikah. Seingatnya ia belum mendapatkan undangan pernikahan. Namun ia tak berani bertanya, tentu saja takut dengan Tuan Besar Rey jika ikut campur dengan urusan keluarga Wilson.
“Baik, Nona.” Dokter Orlando mendekati Danesh yang berbaring di ranjang. Ia mengeluarkan stetoskopnya dari tasnya dan mulai memeriksa kondisi pasiennya.
“Saya tuliskan resep obat untuk suami anda, bisa dibeli di apotik terdekat. Sepertinya suami Nona Felly terkena dehidrasi akibat diare yang tak kunjung berhenti.” Dokter Orlando mengeluarkan selembar kertas dan penanya. Ia mulai membuat tulisan yang tak bisa sembarang orang membacanya karena tulusan Dokter Orlando terlalu bagus. Selayaknya tulusan dokter yang tak dimengerti olehnya.
...........
Jangan lupa:
1. Like
2. Komen
3. Hadiah
4. Follow akunku
__ADS_1
5. Follow instagram aku: heynukha