Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 110


__ADS_3

Danesh mengelus lengan istrinya. “Sudah, suatu saat nanti kau juga akan tahu tentangku. Untuk saat ini berarti belum saatnya kau mengetahui semuanya. Tapi aku janji, jika waktunya tiba, pasti aku akan memberitahumu.” Ia mencoba meredakan rasa keingintahuan Felly.


Danesh tahu apa yang ingin disampaikan oleh adik bungsunya tentang dirinya yang terciduk sedang bermain wanita. Ada untungnya Dariush langsung menutup mulut Deavenny, sehingga Felly belum tahu tentangnya. Entah, setelah ia disadarkan akan perasaannya. Ia merasa takut ditinggalkan oleh Felly saat istrinya tak bisa menerima masa lalunya yang kelam.


Felly membalas dengan senyuman. Ia tak memaksakan jika memang belum saatnya dirinya lebih mengenal suaminya. Meskipun sangat ingin.


Ketujuh orang itu pun saling mengobrol satu sama lain. Bercerita tentang pekerjaan, masa kecil mereka, dan keluarga mereka yang sangat harmonis.


Felly hanya mendengarkan saja. Ia mana mungkin menceritakan jika kembarannya sangat berbeda dengan dirinya. Tak seperti kembaran suaminya.


Felly juga baru mengetahui jika suaminya kembar empat. Ia lebih banyak diam dan mendengarkan daripada bicara.


Hari pun mulai berganti gelap. Mereka sampai lupa waktu karena terlalu asik mengobrol bersama. Untung saja di coffee shop Danesh menyediakan makanan. Sehingga mereka tak lupa mengisi perut.


Dariush, Delavar, Deavenny, Geraldine, dan Gerald pun berpamitan pulang. Mereka hanya sebentar di Indonesia, sebab perjalanan Indonesia ke Finlandia hampir ditempuh selama satu hari. Sehingga mereka satu hari saja di sana, besok harus kembali sibuk bekerja.


Sebelum pergi meninggalkan coffee shop Danesh, mereka saling bertukar nomor dengan Danesh agar memudahkan untuk berkomunikasi.


“Ingat pesan kami,” peringat Dariush sebelum mereka masuk ke dalam mobil yang mengantarkan mereka ke bandara.


Danesh menganggukkan kepalanya. “Hati-hati, maaf aku tak bisa mengantar kalian.”


Walaupun tak ada satu hari penuh mereka bertemu, rasanya sangat bahagia dan melegakan untuk Danesh.


“Kita pulang, ya? Sudah malam,” ajak Danesh lembut. Ia melepaskan jaket yang membalut tubuhnya dan memakaikan pada istrinya agar tak kedinginan.

__ADS_1


...........


Di dalam apartemen sederhana itu Felly dan Danesh baru saja selesai membersihkan tubuh mereka.


Felly sudah berperang di depan laptop kantor yang ia bawa untuk mengecek seluruh laporan yang harus di setorkan pada investor.


“Tidur, jangan paksakan dirimu untuk bekerja terus. Ingat kandunganmu.” Danesh yang sedari tadi menemani Felly dengan tiduran di atas paha istrinya dan terus menciumi perut Felly itu pun mulai memberikan peringatan. Ia melihat beberapa kali Felly menguap.


“Tapi, ini belum selesai. Dan investor sudah meminta laporan keuangan,” tolak Felly, tangannya mengelus rambut suaminya dengan lembut untuk memberikan pengertian pada Danesh.


“Tidur saja. Yakinlah, besok akan selesai sendiri,” ujar Danesh dengan sedikit penekanan. Ia tak ingin dibantah.


“Baiklah.” Felly menurut, ia tak ingin bertengkar dengan suaminya yang baru saja mulai semakin mesra dengannya.


Danesh bangkit dari rebahannya. “Aku buatkan susu untukmu dulu,” izinnya. Ia mendekati dapur dan mulai membuatkan minuman untuk ibu hamil.


Felly diam-diam mengekor di belakang Danesh. Ia teringat dengan obrolannya bersama sekretarisnya. Felly sudah bertekad ingin mencoba mesra juga dengan suaminya.


Tangan dengan jari lentik itu langsung melingkar di tubuh Danesh. Felly memeluk suaminya dari belakang saat Danesh fokus mengaduk susu.


“Kau kenapa?” Danesh mengurai tangan Felly. Ia membalikkan badan hingga berhadapan dengan istrinya. Tangannya memberikan susu yang sudah siap untuk diminum.


“Aku hanya ingin memelukmu, sepertinya anakmu sangat ingin bermesraan dengan Daddynya,” alasannya.


Maafkan Mommy, mommy harus berbohong dan membawa kalian sebagai alasan. Gumam Felly dalam hati. Ia meminum susu yang dibuat oleh Danesh hingga habis.

__ADS_1


Danesh melingkarkan satu tangannya di pinggul Felly. Tangan satunya lagi untuk meraih gelas dan meletakkan benda berbahan kaca itu ke sembarang tempat.


Tangan itu beralih menyentuh dagu Felly dan mengarahkan wajah istrinya untuk menatapnya. Jarak keduanya kian terkikis karena Danesh sedikit menarik Felly agar maju kepadanya.


Kedua bola mata itu saling bersitatap. Jantung keduanya kini tengah memompa darah lebih cepat dari normalnya.


“Istriku, aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”


Felly mengangguk. “Katakan saja.”


“Maafkan aku jika melanggar perjanjian kita. Namun perasaan ini memang tak bisa disembunyikan. Kurasa, aku mulai memiliki rasa untukmu. Bolehkah aku mencintaimu?” tanya Danesh.


Felly menitikan air matanya. Ia sangat bahagia sekali mendengar kalimat itu. Akhirnya yang ia nantikan datang juga. Ia memeluk tubuh Danesh, membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya hingga membasahi kaos Danesh karena tangisan bahagianya semakin kencang.


“Ku kira cintaku ini akan bertepuk sebelah tangan. Ternyata Tuhan sungguh berbaik hati padaku. Ia mendengarkan doaku selama ini,” ucap Felly dengan isakan kecil.


Felly mulai mengurai pelukannya. Ia mendongak menatap Danesh. “Suamiku, kau boleh mencintaiku. Karena aku juga sudah mencintaimu,” tuturnya.


“Kita lupakan perjanjian kita. Mulai sekarang, kita akan hidup selayaknya sepasang suami istri yang saling mencintai,” tegas Danesh. Dan Felly menjawab dengan anggukan.


Pria bule itu semakin mendekatkan wajahnya hingga bibirnya menyentuh benda kenyal yang mungil milik istrinya. Keduanya saling memadu kasih setelah saling mengungkapkan rasa cinta masing-masing. Rasa lega yang teramat dalam dirasakan oleh keduanya. Rasa syukur yang tak terhingga pun terus digumamkan dalam hati Felly.


...........


...Cie ... udah kering ya? Tumben ga digantungin lagi kaya jemuran, hehehehe. Masih setia menunggu cerita ini kah?...

__ADS_1


__ADS_2