Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 108


__ADS_3

Dariush, Delavar, Deavenny, Gerald, dan Geraldine ingin memastikan isi hati dari satu-satunya saudara mereka yang gila karena cinta itu.


Namun sebelumnya, mereka memesan minuman terlebih dahulu. Ternyata haus juga memberikan ceramah pada Danesh tanpa jeda. Danesh, Dariush, dan Delavar yang bertugas memesan di kasir. Ketiganya masing-masing membawa dua minuman di tangan mereka.


“Kau pernah cemburu dengan istrimu?” tanya Dariush setelah mereka duduk kembali seperti semula.


Danesh menggeleng. “Belum.”


Semburan dari arah depan pun mengenai wajah Danesh. Geraldine yang terkejut dengan jawaban sepupunya tak jadi menelan iced chocolatenya. “Sorry, tak sengaja.” Ia menyengir kuda.


Gerald langsung mengambil tisu dan diberikan pada kembarannya. “Bersihkan mulutmu, jorok sekali,” omelnya. Ia pun memberikan juga pada Danesh. “Wajahmu setelah ini harus dicuci, takutnya kau terkena bakterinya,” kelakarnya.


Geraldine pun mencubit Gerald. “Kau pikir aku penyakit.”


Mereka pun terkekeh bersama dengan kebersamaan itu. Danesh juga menyunggingkan senyumnya, rasa rindunya pada keluarga terbayarkan dengan berkumpul bersama kembaran dan sepupunya.

__ADS_1


Selepas membersihkan bibir, Geraldine pun bertanya pada Danesh. “Memangnya kau sudah berapa lama menikah dengan istrimu?”


“Dua bulan lebih, hampir tiga bulan,” jawab Danesh setelah meletakkan hot cappuccinonya ke atas meja.


“Ha? Selama itu kau tak pernah cemburu?” Deavenny dan Geraldine membulatkan mata mereka.


Lagi-lagi Danesh menggeleng. “Tapi, aku pernah merasakan tak nyaman saat melihat istriku dipanggil sayang oleh mantan kekasihnya,” ceritanya.


Kelimanya menepuk jidatnya bersamaan. “Itu namanya kau cemburu, bodoh ....” Satu persatu mereka menoyor secara bergantian, merutuki Danesh yang tak sadar akan perasaan itu.


“Iya!” seru mereka bersamaan.


“Oke, kau pernah merasa berdebar saat bersama dengannya?” tanya Deavenny.


Danesh mengangguk. “Semalam, aku mencoba menciumnya dan bermain mantap-mantap dengannya. Jantungku rasanya berdebar, bahkan saat kita berpisah selama tiga hari ketika dia pergi ke Jepang, hatiku rasanya berdesir melihat wajahnya lagi. Rasanya aku merindukannya jika tak melihat atau tak di sampingnya,” jelasnya.

__ADS_1


“Fix!” seru Deavenny. Ia menggebrak meja dengan kencang, lalu berdiri. Telunjuk lentiknya dengan kuku yang diberi kutek warna peach itu menunjuk Danesh. “Kau sudah jatuh cinta dengan istrimu itu,” ungkapnya. Ia pun kembali duduk setelah mengucapkannya.


Semua menyetujui apa yang dikatakan oleh Deavenny.


“Benarkah? Tapi kenapa aku masih sering memikirkan Violet?” bingung Danesh.


Lagi-lagi anggota keluarga Dominique dan Giorgio itu memutar bola matanya malas.


“Untuk apa kau itu memikirkan orang yang tak memikirkan perasaanmu? Lupakan Violet, dan ungkapkan cintamu itu pada istrimu. Sebelum kau menyesalinya karena terlambat menyadari rasa cintamu itu,” tegur Delavar.


“Tapi aku tak yakin ini rasa cinta atau rasa kagum atau rasa nyaman saja karena terbiasa hidup bersama dengannya,” elak Danesh. Ia memegang dadanya sendiri.


Deavenny melingkarkan tangannya di pundak Danesh. Tangannya mengarahkan wajah kakaknya agar menatap dirinya.


“Dengar, kau itu sudah jatuh cinta dengan istrimu. Kau cemburu, kau juga merindukannya. Itu sudah ciri-ciri dari kau mencintainya. Kau terlalu memikirkan Violet karena kalian sudah bersama sangat lama, sehingga kau melupakan kenyataan bahwa perlahan hatimu mulai direbut oleh istrimu,” terang Deavenny dengan wajah seriusnya.

__ADS_1


__ADS_2