
Akhirnya, Felly dan Danesh sampai juga di apartemen sederhana milik pria bule itu saat hari sudah sore. Beruntung Danesh memiliki harta yang tak seberapa banyak. Tapi disaat kondisi seperti ini, yang mereka miliki sangatlah berharga.
“Maaf, aku tak bisa menjamin hidupmu enak dengan pria sepertiku,” ujar Danesh seraya merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang. Dari turun angkot, pria bule itu tetap menggendong istrinya hingga ke apartemen.
Felly mengangguk mengerti. “Kita berjuang bersama,” timpalnya.
Danesh mengelus rambut Felly dengan gemas. Beruntung ia berurusan dengan wanita seperti Felly yang apa adanya dan tak banyak menuntut. Ia juga bersyukur bukan Fenny yang mengajaknya untuk tidur pada malam itu. Karena wajah keduanya sangat mirip.
“Aku panaskan air hangat dulu untuk kau mandi. Tempat tinggalku tak ada heaternya, sehingga harus manual,” izinnya dan langsung meninggalkan istrinya untuk ke dapur memasak air.
Danesh mencampurkan air panas itu dengan air kran dingin biasa. Ia mencelupkan jarinya untuk mengatur suhunya agar tak terlalu panas dan tak terlalu dingin. Ia kembali lagi ke dalam kamarnya.
“Airnya sudah si—” Danesh hendak memberitahukan jika airnya siap digunakan untuk mandi. Namun ternyata Felly sudah terlelap. Sepertinya sangat kelelahan. Ia pun mengayunkan kakinya mendekati istrinya.
__ADS_1
Danesh berjongkok di samping ranjang. Ia menatap lekat wajah Felly dengan perasaan yang entahlah apa artinya. Tangannya mengelus perut Felly yang sedikit membuncit dan berisi dua anaknya.
Danesh mencium perut itu dengan penuh kasih. “Sehat dan kuat ya, anak-anak Daddy,” ujarnya di depan perut Felly.
Danesh sedikit meninggikan tubuhnya. Ia beralih mendekati wajah Felly dan mencium kening wanita yang tertidur pulas itu. “Sehat-sehat, Mommy,” ujarnya.
Danesh lalu keluar dari kamarnya, ia menutup pintunya dengan sangat hati-hati agar tak mengganggu Felly. Ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, daripada air yang ia siapkan menjadi dingin dan berakhir sia-sia. Nanti Danesh akan menyiapkan air hangat lagi ketika Felly sudah bangun.
Selesai bersih dan wangi, Danesh duduk sebentar di karpet. Ia merenung dan berpikir. “Aku masih ada uang dua ratus juta lebih sisa mencairkan dari cek waktu itu. Uang hasil aku menjadi pemuas ranjang istriku sendiri baru ku pakai tiga ratus juta kurang sedikit untuk membeli apartemen ini. Usaha apa yang sekiranya cukup dengan modal sebanyak itu?” gumamnya dengan mengelus dagunya.
Dengan ilmu yang ia miliki di bidang bisnis, dan modal yang tak seberapa banyak itu. Danesh memutuskan untuk membuka coffee shop kecil-kecilan. “Sepertinya cukup,” pikirnya setelah mencoba menghitung semua kebutuhan yang diperlukan untuk memulai usaha. Ia akan menyewa tempat saja yang murah.
Danesh lalu teringat jika Felly keluar dari rumah tanpa membawa pakaian satu pun. Ia juga tak memiliki pakaian wanita. Ia pun kembali melihat istrinya di kamar dan ternyata wanita itu semakin pulas.
__ADS_1
Danesh melihat jam, ternyata sudah malam. “Aku keluar sebentar untuk membelikan beberapa pakaian dalam dan baju ganti untukmu,” izinnya sangat pelan meskipun Felly tak akan mendengarnya.
Danesh pun keluar menuju pasar malam yang sedang berlangsung di lapangan yang tak jauh dari apartemennya. Ada di kampung belakang. Ia tak malu sedikit pun saat membeli pakaian untuk wanita itu.
“Beli buat siapa?” tanya salah satu pembeli wanita yang terlihat masih muda. Matanya sangat memuja melihat pria bule di salah satu stand khusus dalaman wanita itu.
“Istri,” jawab Danesh singkat dan tanpa ekspresi. Ia juga tak menatap wanita yang mengajaknya bicara.
“Wah ... beruntung sekali wanita yang berhasil memiliki pria sepertimu. Mau dong jadi madunya,” goda wanita itu.
Danesh tak menanggapi. Ia memilih membayar dan langsung pergi dari sana.
...........
__ADS_1
...Tim baca jam 12 malem mana suaranya?...