
Felly memasang wajah sedihnya. Ia mencoba membuat matanya terlihat berkaca-kaca. “Please, sekali ini saja. Izinkan aku memakai uangku sendiri untukmu,” ibanya.
Danesh menghembuskan napasnya, ia tak suka diberi barang-barang oleh wanita. Bahkan uang lima ratus juta yang malam itu diberikan Felly untuk membayarnya itu pun ia kembalikan lagi setelah memiliki uang.
“Baiklah, tapi gunakan uang dari kerjaku. Uangmu tetaplah milikmu. Simpan itu untuk kau bersenang-senang. Namun uangku adalah uangmu, jadi aku meminta izin padamu karena kau yang berhak atas uang hasil kerja kerasku. Itu sama saja kau membelikan aku motor gede itu dengan uangmu,” timpal Danesh. Ia semakin mengikis jarak dengan istrinya dan melingkarkan tangannya. Sungguh pria bule itu semakin hari tak pernah ingin lepas dan selalu saja menempel dengan istrinya.
Felly mencubit pipi suaminya. “Bisa-bisanya kau berpikiran seperti itu,” gemasnya.
Danesh bukan kesakitan, ia justru menumpuk tangannya di atas tangan istrinya. Ia memegang bagian tubuh istrinya itu dengan jempolnya yang bergerak menyapu permukaan kulit istrinya. “Jika kau ingin membelikanku, maka seperti yang aku katakan tadi.” Sedetik kemudian, tangan Felly sudah mendarat di bibir Danesh.
“Iya, kita beli besok.” Begitupun Felly, ia berganti mencium punggung tangan suaminya.
“Yes.” Pria bule itu sangat senang mendapatkan izin dari sang istri. Ia pun menciumi seluruh wajah Felly tanpa terkecuali. Dan berakhirlah wajahnya mendarat di sela-sela dua bagian tubuh yang kenyal milik istrinya itu. Tempat favoritnya saat ingin tidur.
__ADS_1
...........
Danesh menjemput istrinya di kantor saat jam kerja Felly sudah berakhir. Ia sudah memberitahukan jika hendak berangkat menuju gedung perkantoran yang menjulang tinggi itu.
Motor baru yang dua hari lalu dia beli pun kini menjadi kendaraannya. Meskipun mampu membeli mobil, namun berboncengan dengan pasangan sangat nikmat baginya. Sebab bisa dipeluk terus sepanjang perjalanan.
Wanita cantik yang hendak dijemput pun sudah menunggu di depan lobby. Duduk manis di tempat biasanya satpamnya bertugas.
“Hi, cantik.” Danesh membuka helmnya, menyisakan kacamata hitam yang bertengger di wajahnya.
Danesh melepas kacamata hitamnya. “Boleh kenalan?” goda Danesh menaik turunkan alisnya.
Felly mencubit lengan Danesh sangat kecil, namun langsung ia usap saat melihat suaminya mengaduh. “Kau tak jelas sekali. Mentang-mentang motor baru,” balasnya memukul pelan lengan suaminya.
__ADS_1
Danesh mencubit gemas hidung dan pipi istrinya yang terlihat semakin manis dan cantik saat berat badan semakin naik. “Karena aku hanya bisa menggoda istriku saja.” Tangannya mulai memakaikan helm yang tak ada kacanya itu dan melepas jaketnya untuk dipakai istrinya.
Felly melotot pada Danesh. “Maksudmu, kau ingin menggoda yang lain juga, begitu?” sebalnya yang salah tangkap.
Danesh mencolek dagu Felly. “Kau lucu jika cemburu.” Ia pun terkekeh. “Tentu saja tidak, untuk apa aku menggoda wanita lain? Jika sudah ada malaikat cantik yang sangat spesial di hidupku,” imbuhnya.
“Kau itu, pandai sekali merayu.” Kecupan sekilas Felly daratkan di pipi suaminya.
Danesh menunjuk pipi satunya. “Berat sebelah, yang satu belum dicium.” Ia mendekatkan pipi kanannya pada sang istri.
Cup!
“Sudah,” ujar Felly dengan wajahnya yang memerah karena sedikit malu dilihat beberapa karyawannya.
__ADS_1
Pria bule itu malah ketagihan dengan sentuhan dari bibir istrinya. Ia berganti menunjuk bibirnya. “Yang ini belum.”