
Pesawat pribadi milik keluarga Dominique yang khusus digunakan oleh keempat anak Davis dan Diora sudah mendarat sempurna di Haneda Airport.
Danesh, Felly, Dariush, Delavar, dan Deavenny langsung menuju The University of Tokyo Hospital di mana Mommy Diora di rawat. Mereka berjalan beriringan menyusuri setiap sudut rumah sakit itu.
Tangan Felly terasa sangat dingin. Jantungnya seolah tak karuan. Ini bukan perasaan jatuh cinta, namun gugup karena akan bertemu dengan orang tua suaminya.
“Kenapa?” tanya Danesh yang merasakan tangannya ikut basah dari telapak tangan istrinya yang ada di genggamannya.
Felly mencoba mengulas senyumnya, namun tetap saja kelihatan jika saat ini dirinya tak baik. Ia takut jika orang tua Danesh tak menyukainya. Lebih takut lagi jika orang tua suaminya itu menentang dan memintanya untuk pergi dari hidup Danesh. Ia tak siap akan hal itu.
Perlahan, hembusan napas lembut keluar dari bibir mungil Felly. “Tak apa. Aku hanya takut bertemu dengan orang tuamu,” cicitnya.
“Hei ... kakak ipar.” Deavenny yang mendengar jika Felly takut bertemu dengan Mommy dan Daddynya. Serta ia melihat wajah yang terus mengeluarkan keringat padahal udara sedang sejuk itu pun merangkulkan tangannya di pundak Felly. “Kau tenang saja. Mommy dan Daddy ku itu baik,” ujarnya menenangkan.
__ADS_1
Felly menengok ke kiri di mana adik iparnya yang perempuan itu berada. “Benarkah?” tanyanya.
Deavenny mengulas senyum jahilnya. Ia mengangguk. “Iya, namun Daddyku pernah memberi makan hiunya dengan tubuh manusia hidup,” selorohnya mengerjai kakak iparnya.
Tuk! Tuk! Tuk!
Deavenny mendapatkan timpukan di atas kepalanya dari ketiga kakak kembarnya. “Aduh ....” Ia melepas tangannya yang merangkul Felly dan mengelus bagian tubuhnya yang paling atas itu.
“Jangan menakut-nakutinya,” peringat Danesh dengan nada tegasnya. Sorot matanya menajam pada adiknya.
“Kau itu, jangan ceritakan kisah Daddy pada orang lain.” Kini berganti Dariush yang mengomeli adiknya.
“Ck! Siapa yang orang lain? Dia kan anggota keluarga kita juga, biar saja dia tahu cerita Daddy menghempaskan orang jahat yang tega melenyapkan grandma dan grandpa kita secara tak manusiawi,” balas Deavenny. Tak lupa iya mencibir Dariush tepat di hadapan wajah kakaknya itu.
__ADS_1
Plak!
Delavar kembali menimpuk bagian belakang kepala Deavenny.
“Aduh ... kalian ini suka sekali menyiksa kepalaku. Aku sudah tak pintar, makin kalian beri gempa di otakku. Takut berceceran kemana-mana isi kepalaku yang sedikit ini,” kelakar Deavenny mengelus kepala bagian belakangnya.
“Kau itu, lihat istri Danesh. Wajahnya menjadi pucat gara-gara kau menceritakan yang seram padanya,” omel Delavar.
Deavenny beralih menelisik wajah kakak iparnya. Ia pun menyengir kuda pada Felly. “Hehe ... maaf, aku tak bermaksud mengerjaimu. Aku terbiasa bercanda dengan saudara-saudaraku, hingga terbawa saat berbicara denganmu karena aku sudah menganggapmu saudara,” ujarnya dengan wajah cerianya.
Felly tersenyum kikuk. “Iya, tak apa. Aku paham,” balasnya memberikan tepukan tiga kali di lengan ramping adik iparnya itu.
Deavenny langsung digandeng oleh Dariush dan Delavar agar berjalan mendahului Danesh dan Felly. Kedua pria itu tak ingin adik bungsunya mengerjai dan bercanda yang berakibat kakak ipar mereka merasa takut.
__ADS_1
“Katakan saja apa yang kau rasakan,” pinta Danesh. Ia tahu istrinya sedang tak baik-baik saja. Ia ingin mengurangi beban pikiran wanita yang ia cintai itu.