
Dua pasang kaki mengayun bersamaan di sepanjang pantai berpasir putih itu. Tangan keduanya saling bertautan terayun ke depan dan ke belakang. Kacamata hitam bertengger di wajah keduanya untuk menutupi penglihatannya dari teriknya matahari di siang hari.
“Mau bermain air?” Pria berdarah Eropa itu menawarkan pada istrinya.
Felly memilih menggelengkan kepalanya. “Tidak, aku ingin bermain pasir saja,” tolaknya, namun ia segera memberitahukan keinginannya, sehingga tak akan membuat pria berpikir keras menawarkan hal lain.
“Oke.” Danesh pun menuruti Felly. Ia mengikuti semua yang dilakukan oleh istrinya, termasuk saat tubuhnya ditimbun pasir.
“Kita foto dulu, ya.” Felly dengan posisi duduknya mendekatkan kepalanya ke bagian tubuh Danesh paling atas hingga saling berdekatan. “Ready? Bergaya, satu ... dua ... ti—”
Cekrek
__ADS_1
Sebuah bidikan itu berhasil menangkap foto mesra Danesh dan Felly. Saat wanita hamil itu tersenyum dan bersiap memencet layar tepat pada bagian berbentuk bulat, Danesh mengecup pipi Felly. Sehingga hasilnya terlihat sangat mesra. Dan berakhir rusaklah gundukan pasir di atas tubuhnya.
“Astaga ... kenapa dicium,” keluh Felly mencubit lengan suaminya.
“Agar semua orang tahu, jika kau hanya milikku dan aku hanya milikmu,” balas Danesh begitu mesra. Ia menoel ujung hidung Felly menggunakan telunjuknya yang kotor dengan pasir, sehingga meninggalkan bekas.
“Jika seperti itu, lebih baik di sini ciumnya.” Felly menunjuk bibirnya. Ia menggoda suaminya sendiri.
“Tentu, itu adalah kesukaanku,” balas Danesh dengan wajah bahagianya. “Sini, biar aku yang mengatur ponselnya.” Ia mengambil alih benda pipih dari tangan Felly, lalu disandarkan pada tas istrinya agar posisinya berdiri dan layar dapat terisi keduanya. Ia tak memotret, namun mengaktifkan video untuk merekam.
Felly melingkarkan tangannya di leher suami yang sangat ia cintai itu. Ia tersenyum lembut dan memusatkan indera penglihatannya pada Danesh. “I love you,” ucapnya tanpa mengeluarkan suara. Hatinya saat ini tengah menebarkan bunga-bunga kebahagiaan. Meskipun ia harus berhubungan jarak jauh karena memikirkan perasaan Violet, namun tetap keintensan suami istri itu terus terjaga. Semua demi kebahagiaan bersama.
__ADS_1
Sedangkan tangan Danesh melingkar di badan Felly. “Aku ingin menyampaikan sesuatu padamu.”
“Katakan saja. Aku akan mendengarkan.”
Kedua manik mata itu terus bertubrukan memancarkan cinta yang semakin hari bukannya surut, namun semakin menggunung.
“Aku berterima kasih pada mantan kekasihmu yang sudah mencampakkan seorang wanita berhati malaikat sepertimu. Aku mendapatkan berlian yang langka untuk menemani perjalanan hidupku. Susah, senang, sedih, bahagia, sakit, dan sehat pun kau tetap berada di sampingku seperti janji kita saat menikah.”
Danesh menghentikan ucapannya sejenak. Ia menempelkan keningnya dengan sang istri. “Berjuta-juta kata cinta pun tak akan bisa menggambarkan perasaanku. Yang jelas, aku sangat bersyukur pada malam itu kau memintaku untuk tidur denganmu. Jika tak ada kejadian itu, aku tak akan menemukan malaikat yang sedang bersembunyi di dalam jiwamu.”
“Sweet, ternyata kau bisa berkata manis juga,” puji Felly dengan matanya yang berkaca-kaca terharu.
__ADS_1
Danesh mengangkat tangannya untuk mengusap sudut mata istrinya, sebelum cairan bening berhasil keluar dari sana. “Jangan anggap aku sedang menggodamu. Sebab, ini adalah ungkapan hatiku.”
Bibir itu perlahan namun pasti terus maju dan menyentuh satu sama lain. Ciuman tanpa gairah keduanya lakukan, sangat lembut dan menggambarkan rasa cinta mereka.