Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 180


__ADS_3

Violet meraih tangan Felly yang masih duduk di sampingnya dengan menggendong Agathias menggunakan satu tangan. “Bisakah kalian melangsungkan pernikahan untuk kedua kalinya? Aku ingin menyaksikan dan melepaskan orang yang pernah aku cintai untuk yang terakhir kalinya. Aku ingin kembali kepada Tuhan dan bertemu anakku dengan damai tak dihantui rasa bersalah lagi. Aku ingin melihat langsung pria yang aku cintai menikahi wanita yang ia cintai juga, begitu pula aku ingin melihat teman baruku yang rela membagi kebahagiaan denganku dan mengesampingkan kebahagiannya sendiri untuk menikah bersama pria yang ia cintai. Aku ingin melihat kalian berdua bahagia.”


Felly menatap Danesh untuk mencari jawaban. Ia tak ingin memutuskan semuanya sendiri. Ia sadar di dalam rumah tangganya tak bisa melakukan segala sesuatu sebelah pihak.


“Tentu, kami akan mengabulkannya,” jawab Felly setelah mendapatkan anggukan kepala dari Danesh.


...........


Tiga hari berlalu, Danesh dan Felly berencana mengabulkan permintaan Violet untuk yang terakhir kalinya. Keduanya akan melangsungkan pernikahan lagi, namun di luar gereja sekaligus merayakan pernikahannya yang dulu belum pernah dilangsungkan. Keduanya mengambil keputusan itu setelah berdiskusi dengan Pastor yang sering memimpin ibadah di Helsinki Cathedral. Karena sejatinya Danesh dan Felly sudah terikat pernikahan saat di Indonesia yang berlangsung di dalam rumah ibadah mereka.


“Kau cantik sekali,” puji Violet yang duduk di kursi roda di dorong oleh Dokter yang setiap harinya merawat dirinya. Saat ini ia menyempatkan untuk melihat Felly di ruang rias pengantin.


“Terima kasih. Kau juga cantik,” balas Felly balik memuji. Ia sudah siap dengan gaun cantik berwarna putih.

__ADS_1


Violet semakin mendekat ke arah Felly yang sedang duduk di depan cermin dan tengah ditata rambutnya. “Selamat atas pernikahanmu, semoga Tuhan selalu melimpahkan kebahagiaan untuk kalian berdua,” ujarnya dengan tulus.


Felly mengangguk dan memutar tubuhnya untuk menatap Violet. “Kau juga, semoga Tuhan memberikanmu umur yang panjang,” balasnya mendoakan dengan tulus.


Violet hanya membalas dengan senyuman tipis tanpa mengeluarkan suara.


“Felly ....” Kehebohan kembali hadir di ruangan itu saat Mommy Diora yang menggendong Annora, Mama Kyara yang menggendong Agathias, Deavenny, dan Fenny masuk ke dalam ruang pengantin wanita.


“Aku tunggu di luar, ya.” Violet memilih berpamitan keluar. Ia mengulas senyum ramahnya pada keempat wanita yang baru saja masuk kemudian hilang tak terlihat lagi setelah pintu itu tertutup.


“Tentu saja, siapa dulu pabriknya,” balas Mama Kyara membanggakan diri.


“Jadi, yang cantik hanya Felly saja?” protes Deavenny.

__ADS_1


“Apakah kita kurang cantik, Dea?” timpal Fenny saling melihat wajah satu sama lain dengan Deavenny.


Felly berdiri dari duduknya, ia merangkul Fenny dan Deavenny. “Tentu saja kalian cantik, kita kan perempuan. Kalau kita tampan, justru mengerikan,” selorohnya.


Obrolan tak penting yang lebih banyak bercandanya itu mengalir seraya menunggu waktunya tiba acara dimulai. Bahagianya jika kedua keluarga bisa saling menerima dan hidup berdampingan.


Klek!


Pintu bercat putih itu terbuka dari luar. Menyembulkan Papa Rey dari luar. “Kau sudah siap, Fel? Acaranya akan dimulai,” ucapnya seraya kakinya masuk ke dalam.


“Sudah, Pa,” balas Felly tersenyum ramah.


Papa Rey mengulurkan tangannya. Ia akan menyerahkan sendiri putrinya dengan hati yang tulus kepada suami pilihan anaknya sendiri. “Ayo.”

__ADS_1


Felly meraih tangan Papanya yang sudah sedikit ada keriput. Ia melingkarkan tangannya di lengan Papanya.


“Oke, kita duluan. Kalian jalan di belakang,” pamit Deavenny. Ia mengajak Fenny, Mama Kyara, dan Mommy Diora untuk menuju tempat pernikahan terlebih dahulu. Meminta Felly dan Papa Rey agar tak mendahului mereka.


__ADS_2