
Tujuh puluh hari kemudian. Setelah saling mengungkapkan rasa cinta, hubungan Danesh dan Felly semakin lengket saja seperti perangko yang tak pernah ingin lepas. Bahkan hanya berpisah untuk bekerja pun terasa sangat berat untuk keduanya.
Felly juga kini tahu, jika suaminya bukanlah orang yang sembarangan. Setiap malam ia ingin lembur bekerja di apartemen, pasti tak diperbolehkan dan berakhir pagi harinya sudah selesai semua pekerjaan kantornya. Tentu saja dari situlah ia mulai mencaritahu sendiri tentang suaminya karena merasa janggal, mana mungkin orang biasa bisa menyelesaikan pekerjaannya.
Dan Felly akhirnya mengetahui melalui artikel tentang kelima saudara Danesh yang saat itu bertemu di coffee shop. Ia tahu jika suaminya bukanlah orang biasa. Namun Felly lebih baik diam dan tak mengungkitnya. Menunggu suaminya menceritakan sendiri padanya, mengapa bisa sampai terdampar di Indonesia yang sangat jauh dari negara asalnya dan hidup kesusahan.
Selama kurun waktu itu, Danesh terus bekerja keras mengembangkan usahanya. Ia kesana kemari mencari investor untuk membantunya menambah modal hingga saat ini ia sudah memiliki banyak cabang diberbagai daerah sekitar ibu kota.
Danesh juga sudah membeli apartemen baru yang lebih luas dan nyaman menggunakan jerih payahnya sendiri. Ternyata rasanya sangat puas saat perjuangannya membuahkan hasil.
__ADS_1
Hari minggu saatnya sepasang suami istri itu memadu kasih di pagi hari yang cerah. Bermesraan di atas sofa yang lumayan empuk, berdesak-desakan tiduran berdua di sana sembari menonton film bersama di televisi berukuran empat puluh inch itu.
“Istriku yang cantik,” panggil Danesh yang berada di balik punggung Felly. Ia berbisik di telinga istrinya itu.
Felly menggeliat geli dengan hembusan napas yang menyapu kulitnya. “Ya? Suami buleku?”
Danesh perlahan mengurai pelukannya setelah memberikan kecupan di tengkuk istrinya. “Aku ingin memberikanmu sesuatu.” Ia dengan hati-hati turun dari sofa, sebisa mungkin tak menyenggol istrinya dengan kasar agar istrinya tak terjatuh karena Felly berada dibagian paling ujung sofa.
Felly yang tak nyaman dengan posisinya pun memilih duduk. Jika sedang tiduran, ia lebih nyaman saat Danesh memeluknya dari belakang dan memberikan usapan lembut di perutnya.
__ADS_1
Pria bule itu keluar dari kamar dengan membawa sebuah buku kecil dan kartu sakti. Ia berlutut di hadapan istrinya. Meraih tangan lembut Felly dan mencium pungung tangan istrinya sekilas.
Danesh memusatkan penglihatannya pada wajah istrinya yang cantik dan menenangkan. “Istriku yang aku sayangi, yang aku cintai, yang paling sabar dan rendah hati,” panggilnya dengan lembut.
Membuat Felly mendengarnya menjadi berkaca-kaca, tak tahu lagi bagaimana ia harus bersyukur dengan limpahan cinta itu. “Apa, suami buleku, tampanku, duniaku,” balasnya.
Danesh menunduk melihat tangan Felly. Ia membalikkan bagian tubuh istrinya yang ia genggam hingga memperlihatkan bagian telapaknya.
Pria bule itu meletakkan buku dan kartu sakti yang ia pegang di atas tangan istrinya. “Ini untukmu. Maaf, aku baru bisa memberikanmu buku tabungan dan debit card sekarang. Selama ini aku selalu membuatmu hidup susah, padahal kau bisa saja hidup enak jika tak bersamaku. Namun kau memilih untuk menemaniku dan membantuku berjuang hingga berada di titik ini,” ujarnya, ia kembali mengunci kedua bola mata istrinya. “Aku mencintaimu, hiduplah selamanya denganku.”
__ADS_1
Felly menggigit bibir bawahnya, menahan rasa harunya agar air matanya tak menerobos keluar. “Sure, aku mau.”
Felly pun memeluk tubuh suaminya, dan setelah puas, kedua tangannya memegang kepala Danesh. Ia menyatukan bibirnya dengan suaminya hingga kembali berakhir dengan ah ... mantap di atas sofa yang lumayan empuk.