
...Area 21+, di bawah umur mohon undur diri. Terima kasih. Jangan lupa di next ya setelah baca bab ini, karena ada pengumuman penting....
...*****...
Waktu menunjukkan pagi hari, tapi matahari di luar belum menyingsing. Bahkan langit pun masih gelap, tapi udara terasa dingin menusuk kulit sepasang suami istri yang meringkuk di bawah selimut. Danesh memeluk Felly seolah enggan terpisah.
“Sayang, aku sulit bernapas,” tegur Felly yang merasa pasokan udara kian menipis saat kepalanya dibenamkan oleh suaminya di dada bidang yang memabukkan itu.
“Maaf, cuacanya dingin, jadi enak mencari kehangatan dari tubuhmu,” kelakar Danesh. Ia sedikit melonggarkan tangannya, memberikan ruang agar istrinya dapat bernapas.
“Peluk aku seerat mungkin jika itu bisa mengurangi rasa dinginmu,” pungkas Felly. Dia tak mungkin membiarkan suaminya diserang udara bersuhu rendah, tangannya mengerat dan memberikan elusan pada punggung suaminya yang tak terbalut pakaian satu pun.
Usapan yang diberikan oleh Felly benar-benar membuat tubuh Danesh hangat. Bahkan lebih dari itu, sebab darahnya kini terasa mendidih. Gelenyar aneh mulai menyerang daerah dekat pangkal pahanya yang kini tengah bergejolak, berubah volume dari kecil mulai menjadi besar, keras, dan berotot.
Felly bisa merasakan milik suaminya yang menyentuh kulitnya. “Kau sedang ingin bercinta?” tanyanya.
Mata cokelat Felly memandang wajah suaminya yang menegang.
“Ya, kau bisa merasakan milikku mengeras, bukan?”
Felly terkekeh geli saat suaminya perlahan menggesekkan di area kulitnya. “Beri aku pemanasan agar hasratku juga muncul,” pintanya. Dia akan melayani suaminya sepenuh hati. Tapi perlahan, karena saat ini belum merasakan gelenyar aneh seperti suaminya.
__ADS_1
“Sure.” Danesh membalikkan tubuh istrinya agar membelakanginya. Ia memeluk tubuh yang tetap ramping itu walaupun sudah beranak dua.
Tangan Danesh mulai melakukan tugasnya. Menyapu perlahan dari leher, lalu berhenti pada dua buah yang kini cukup besar setelah memiliki anak, memijat area tersebut dan memilin penuh gairah pada ujung tumpulnya.
Tak hanya tangan yang bekerja, namun lidah pun ikut membantu menghidupkan hasrat Felly. Danesh menempelkan lidahnya di leher bagian belakang. Menggerakkan indera pengecapnya di sana, menyesap perlahan hingga meninggalkan bekas kemerahan.
Tangan kiri Danesh tetap bermain di buah yang begitu indah, tapi sebelah kanannya mulai nakal turun ke bawah. Memberikan usapan pada area sensitif yang mampu membuat tubuh Felly menggelinjang kegelian dan tubuhnya terasa seperti tersetrum sesuatu yang mengenakkan.
Felly membalikkan lagi tubuhnya agar dapat bersitatap dengan suaminya. “I’m ready, baby,” bisiknya dengan suara sensual, tepat di telinga Danesh.
“Aku akan melakukan tugasku.” Danesh bersemangat sekali ingin menghentak tubuh istrinya. Padahal, sebelum tidur pun mereka sudah melakukan olahraga yang mengenakkan itu.
Danesh yang tak sabar ingin segera memasukkan cacing besar alaskanya ke dalam goa penjinak pun merobek paksa lingerie istrinya. Membuang asal kain yang sudah tak berbentuk itu dan juga miliknya yang sudah lolos.
Danesh menghentak perlahan agar cairannya tak cepat membuncah.
Tubuh Felly yang bergerak ke atas dan ke bawah itu memalingkan wajahnya ke kiri di mana box bayi berada. Dan matanya membulat saat salah satu anaknya ternyata sudah bangun dan tengah menyaksikan aksinya dengan sang suami.
“Danesh,” panggil Felly seraya menepuk lengan suaminya.
“Hm ...?” sahut Danesh dengan suaranya yang serak.
__ADS_1
“Kita sudahi sampai di sini,” pinta Felly.
“Apa kau sudah mencapai puncak?” tanya Danesh seraya mengelus lembut rambut istrinya.
“Belum.” Felly menggeleng lemah. “Tapi Agathias sedang menonton kita,” ungkapnya seraya menunjuk box bayi milik putranya dengan dagu.
Danesh menengok ke arah yang ditunjuk, ia menghembuskan napasnya lemah. “Mengganggu kenikmatanku saja putraku itu,” gumamnya tanpa menghentikan hentakannya agar miliknya tak mengkerut sebelum mengeluarkan cairan.
“Kita sambung nanti lagi.”
“Tanggung, sebentar lagi keluar,” tolak Danesh.
“Tapi Agathias menyaksikan kita.”
Danesh tak menjawab istrinya. Tangannya meraih selimut dan menutupi tubuh mereka agar tak dapat dilihat oleh putranya.
“Sekarang sudah tak bisa dilihat Agathias lagi, kan?” bisik Danesh.
Dan mereka sungguh tak bisa menikmati olahraga penuh nikmat itu. Sebab, Agathias sekarang justru menangis kencang setelah Danesh dan Felly tertutup selimut tebal. Hingga membangunkan Annora. Dan kedua bocah mungil itu menangis bersamaan.
...*****...
__ADS_1
...Mari kita lanjut ke ceritaku berikutnya judulnya My Poor Secretary. Langsung klik profilku aja untuk memudahkan kalian mencari karyaku...