Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 32


__ADS_3

Berada di dekat Danesh terlalu lama sepertinya tak baik untuk kesehatan hati dan jantung Felly. Pria itu sungguh manis sekali.


“Danesh, aku masih ada pekerjaan yang harus ku selesaikan. Bukan bermaksud untuk mengusirmu, tapi, bisakah kau pulang saja?” Felly berucap dengan mengalihkan pandangannya. Ia melihat air di kolam renang yang tenang. Menghela napasnya perlahan untuk menetralkan perasaannya.


“Aku memang mau pulang.”


“Aku akan mengantarkanmu hingga depan. Biarkan supirku yang membawamu kembali ke apartemen.” Felly berdiri cepat hingga kotak obat yang ia pangku terjatuh dan isi di dalamnya berserakan. Ia grogi sekali.


Danesh melihat Felly yang gelisah. Ia hendak memunguti obat-obatan di lantai itu, namun Felly sudah mencegahnya.


“Biarkan saja, aku yang akan membereskannya. Kau pulang saja dan istirahat. Sakitmu bahkan belum sembuh total.” Tanpa menunggu jawaban Danesh, Felly berjalan mendahului. “Ayo.”


Danesh pun mengikuti Felly untuk keluar rumah. Mereka tak melewati area dalam rumah utama sehingga tak bertemu dengan orang lain.


Sesampainya di depan rumah, Felly mencari-cari supirnya. Namun tak terlihat. Ia memutuskan untuk bertanya dengan pelayannya.


“Siti,” panggilnya pada salah satu pelayan yang baru saja keluar membuang sampah.


“Ya, Nona?” Buru-buru Siti mendekat ke majikannya.


“Kau lihat Pak Maman? Supir pribadiku.”

__ADS_1


“Sepertinya sudah pulang, Nona.”


“Oh ... ya sudah, kau lanjutkan saja pekerjaanmu.”


Pelayan itu mengangguk hormat dan kembali masuk ke dalam rumah utama.


“Danesh, apa kau bisa mengendarai mobil? Bawa saja salah satu mobilku,” cetus Felly. Ia tetap belum berani menatap Danesh.


“Tidak perlu, aku akan naik ojek saja,” tolak Danesh.


“Tapi, kau sedang sakit. Udara malam sangat dingin,” timpal Felly.


“Tapi—”


“Sudah, tak perlu mengkhawatirkanku. Aku bisa menjaga diriku sendiri.”


Felly bingung, ia benar-benar merasa canggung saat ini. “Em ... aku antarkan kau sampai gerbang luar, terlalu jauh jika berjalan kaki.”


Tanpa menunggu jawaban, Felly langsung duduk di buggy car.


“Biar aku yang mengemudikannya.” Danesh meminta Felly agar bergeser ke samping.

__ADS_1


“Aku saja, ribet jika harus berpindah-pindah nantinya,” tolak Felly.


Danesh pun dengan terpaksa duduk di samping Felly dan membiarkan wanita itu mengemudikan buggy car. Ia merasa bukan pria yang gentleman hanya duduk saja dan membiarkan wanita yang melayaninya.


Sepanjang perjalanan hingga depan gerbang, Felly diam saja. Begitupun Danesh.


“Sampai,” ujar Felly. “Terima kasih untuk hari ini, atas semua yang sudah kau lakukan,” lanjutnya dengan matanya yang lurus ke depan.


Danesh tak langsung turun, ia menatap Felly terlebih dahulu. “Sudah sepantasnya aku melakukannya. Aku hanya menjalankan tugas sebagai seorang ayah untuk melindungi anaknya.”


Felly tersenyum getir mendengarnya. Ia seharusnya sadar diri jika perlakuan Danesh yang manis itu karena ia sedang mengandung benih pria bule itu. Apa yang kau harapkan, Felly? Sedari awal Danesh mengatakan mencintai wanita lain. Jangan berharap lebih. Danesh mau menikah denganmu saja sudah bagus.


“Hati-hati, naiklah taksi untuk pulang.” Felly merogoh saku blazernya. Ia mengambil lembaran uang tunai dari dompet kecil yang ia bawa. “Ini untuk membayar.” Ia memberikannya pada Danesh.


Namun Danesh menolaknya. “Tak perlu, aku masih ada uang untuk membayarnya.”


“Jangan menolaknya.” Felly hendak memaksa Danesh agar menerimanya.


Namun justru ia dibuat mematung lagi oleh Danesh karena pria itu mengelus kepala dan perutnya secara bersamaan.


“Jaga baik-baik anakku.” Setelah mengucapkannya, Danesh turun dari buggy car dan mengayunkan kakinya menuju jalan raya.

__ADS_1


__ADS_2