
Sementara itu, di negara beriklim tropis di Kota Jakarta. Sepasang suami istri baru saja melangkahkan kakinya menuju luar rumah utama keluarga Wilson.
Felly menghentikan kakinya sejenak. “Kita kuburkan kucingku dulu, ya? Ada pemakaman khusus untuk kucing yang pernah aku pelihara di ujung sana,” pintanya dengan menunjuk sudut bagian rumah yang paling jauh.
Danesh mengangguk menyetujui. “Biar aku yang menggendong kucingmu. Aku tak ingin kau tercemar dengan kumannya atau racun yang ia minum tadi. Aku tak ingin kau dan bayimu terjadi hal yang buruk nantinya.” Ia pun mengambil alih Molly. Danesh hanya mengangisipasi untuk melindungi anaknya beserta mommynya.
Felly tersenyum, suaminya selalu perhatian dengannya. Bagaimana ia tak bahagia memiliki suami seperti Danesh. Kenapa harus sementara, ya Tuhan? Apa tak bisa selamanya saja? Bolehkah aku menawar takdir padamu? Gumamnya dalam hati. Ia sungguh melupakan sosok wanita yang menghiasi hati Danesh—Violet.
Keduanya melangkahkan kakinya menuju tempat pemakaman kucing. Di sana terdapat batu nisan kecil-kecil berisi tulisan nama setiap kucing Felly yang sudah mati.
__ADS_1
“Kau sungguh menyukai kucing?” tanya Danesh saat ia menggali tanah.
Felly mengangguk. “Ya, karena aku tak memiliki teman akibat kesibukanku. Maka dari itu aku memelihara kucing sebagai temanku,” jelasnya.
Danesh terus menggali. Tanpa mengalihkan pandangannya dari tanah. “Kucing jenis apa yang kau sukai?” tanyanya.
“Scotish Fold, aku suka karena bulunya lebat,” jawab Felly yang berjongkok di hadapan Molly. Matanya sendu menatap kucingnya yang tak bernyawa lagi. “Molly yang malang, kematianmu sungguh tragis. Tapi berkat dirimu, aku tak akan kehilangan suamiku,” imbuhnya dengan mengelus bulu Molly.
“Kau impor membelinya?” Danesh membuang pikirannya yang membingungkan itu, ia mulai memasukkan Molly ke dalam lubang yang ia buat. Dan ia menurunkan tanah untuk menutupi bangkai Molly.
__ADS_1
Felly mengangguk. “Ya, susah mencari di sini.”
“Kau pecinta kucing mahal rupanya,” timpal Danesh yang tahu betul berapa harga jenis kucing yang Felly sukai.
“Bukan pecinta, aku hanya memelihara satu ekor saja dan menunggunya hingga mati baru membeli lagi.” Felly membenarkan pernyataan Danesh. Ia berdiri untuk mengambil sebuah papan dan ditancapkan di atas kuburan Molly. “Selamat jalan, Molly. Jasamu akan selalu aku kenang. Untuk sementara aku belum memberimu nisan, tapi aku akan memesankanmu nisan yang sama dengan kucingku lainnya.”
“Ayo.” Danesh mengulurkan tangannya setelah membersihkan tanah yang mengotorinya menggunakan kran air yang tak jauh dari tempatnya saat ini. Ia membantu istrinya untuk berdiri.
Felly tersenyum manis sekali, tapi Danesh tak berdebar sedikitpun melihat itu. Hati pria itu benar-benar kokoh terisi wanita yang tak tahu di mana dan bagaimana kondisinya.
__ADS_1
“Kita naik angkot saja, ya? Aku hanya membawa uang sedikit dan bisanya untuk membayar kendaraan umum itu,” ajak Danesh. “Kau tak masalah, kan?” tanyanya. Ia tak enak jika Felly tak bisa menaiki transportasi itu, sebab orang kaya biasanya pemilih.
Felly mengangguk. “Boleh, agar aku memiliki pengalaman pertama menaiki angkot,” ucapnya antusias. “Maafkan aku yang tak membawa apa pun, bahkan uang pun aku tak punya. Dan maafkan juga karena kita harus berjalan jauh untuk sampai ke jalan raya. Papaku benar-benar keterlaluan tak mengizinkan supir mengantar kita sampai jalan raya,” sesalnya.