
Davis mulai membuka amplop coklat yang diberikan oleh Louis. Ia mengeluarkan semua foto-foto di dalamnya. Satu persatu matanya melihat kegiatan apa saja yang dilakukan oleh anaknya itu.
Tangan Davis mengambil salah satu foto di mana Danesh sedang melayani pelanggannya dari balik mesin kasir. Ia mengapit foto itu menggunakan jari telunjuk dan jari tengahnya, kemudian ia perlihatkan pada orang suruhannya. “Jelaskan padaku tentang foto ini,” titahnya dengan wajah seriusnya.
Louis mengangguk sekilas dengan wajah datarnya, dia pun menjelaskan tentang informasi seputar foto itu. “Tuan Danesh membuka coffee shop di Indonesia, setiap hari pelanggan yang datang sangat banyak. Dan dalam waktu dua minggu, coffee shop milik Tuan Danesh terkenal karena pesona Tuan Danesh yang memiliki wajah di atas rata-rata,” jelasnya.
Davis meletakkan kembali foto yang ia pegang. Bibirnya tersenyum bangga dengan mata menatap Louis. “Good, berarti dia memang anakku. Dia mampu bertahan hidup tanpa uang sepeserpun dariku,” pujinya.
Davis kembali mengambil foto dengan gaya yang sama seperti tadi. “Kalau ini?” tanyanya.
Louis melihat foto itu, terlihat Danesh keluar dari coffee shop dan sedang menggandeng tangan Felly. “Itu istri Tuan Danesh.”
__ADS_1
Davis membulatkan matanya, terkejut dengan informasi yang baru saja dia dengar. “Istri? Maksudmu, dia sudah menikah?”
Louis mengangguk membenarkan.
Davis memijat pelipisnya yang berdenyut. “Bocah nakal, bisa-bisanya dia menikah tanpa memberitahukan pada keluarganya,” keluhnya.
“Maaf, Tuan. Dari informasi yang aku dapatkan, wanita itu sepertinya hamil duluan. Sebab, tanggal pernikahan mereka dan usia kehamilan wanita itu berbeda. Mereka baru menikah dua bulan lebih, sedangkan usia kehamilan wanita itu sudah tiga bulan lebih,” imbuh Louis memberitahu.
Louis hanya diam saja tak menanggapi, sebab Tuannya itu tak mengajukan pertanyaan padanya.
Davis kembali mengambil foto lainnya. Matanya terhenti pada dua buah foto yang membuatnya sedikit penasaran sekaligus geram. Ia memegang kedua foto itu menggunakan kedua tangannya dan memperlihatkan pada Louis. “Jelaskan!” tegasnya.
__ADS_1
“Yang pria paruh baya itu adalah orang tua dari istri Tuan Danesh, dan yang wanita muda itu adik kembar istri Tuan Danesh. Maaf, Tuan. Sepertinya hubungan Tuan Danesh dengan keluarga istrinya kurang baik, jika aku lihat dari pemantauan selama dua minggu ini,” jelas Louis. Ia menarik napas sejenak, sebab ia terlalu banyak menyerocos.
“Mereka terlibat pertikaian di coffee shop milik Tuan Danesh,” imbuh Louis.
Davis meletakkan foto-foto itu. Ia menopang dagunya dengan kedua tangannya yang saling menggenggam. Matanya menatap Louis dengan sebelah alis yang terangkat. “Kau sudah menyelidiki mereka? Apa saja yang mereka lakukan pada anakku?”
Louis menggeleng. “Belum, Tuan. Aku hanya mengikuti Tuan Danesh dan belum menyelidiki semua yang dilakukan dan terjadi pada Tuan Danesh selama di Indonesia,” tuturnya.
“Ck! Kembali lagi ke Indonesia, dan cari tahu seluruh informasi tentang Danesh. Tanpa terkecuali. Semua informasi dari dia menginjakkan kaki di sana. Bahkan sekecil apa pun informasi itu, kau harus mendapatkannya,” titah Davis dengan sedikit rasa kesalnya. Perasaan tak enaknya selama ini, ternyata karena putranya ada yang membenci di negeri orang.
“Baik, Tuan.” Louis mengangguk hormat.
__ADS_1
“Oke, kau boleh pergi. Jangan laporkan pada istriku informasi tentang anakku yang menghamili dan menikah dengan wanita di sana, juga tentang perseteruan anakku. Bisa jantungan dia mendengarnya,” titah Davis sebelum Louis pergi meninggalkan ruangannya.