
Pesawat komersil yang ditumpangi Felly sudah mendarat sempurna di landasan pacu Bandara Internasional Soekarno Hatta. Sudah ada Stefany yang menyambut kedatangannya.
“Selamat datang kembali, Nona,” ucap Stefany dengan bahagia bertemu atasannya lagi.
Felly menepuk lengan sekretarisnya itu pelan. “Bagaimana kondisi perusahaan? Kau bisa mengatasi pekerjaanku, kan, selama aku tinggal pergi?” tanyanya.
Kedua wanita itu berjalan beriringan menuju mobil yang sudah terparkir di dekat pintu kedatangan internasional.
“Aman, Nona. Lagi pula, tak ada pertemuan yang mengharuskan Nona datang. Sehingga semua bisa dihandle olehku,” jelas Stefany dengan bangga bisa menjalankan tugasnya.
“Bagus, bonus bulananmu akan aku naikkan karena kinerjamu tak mengecewakan,” tukas Felly.
Hal itu membuat Stefany kegirangan. Memang tak ada yang lebih nyaman dibandingkan memiliki atasan kerja seperti Nona Felly. “Terima kasih, Nona.”
“Kita ke rumah besar keluarga Wilson dulu. Sudah lama aku tak menyapa orang tuaku,” titah Felly setelah ia masuk ke dalam mobil BMW milik kantornya.
Mobil yang dikemudikan oleh supir kantor itu mulai melesat menuju tempat yang diinginkan oleh sang majikan.
__ADS_1
Kendaraan roda empat itu terparkir sempurna tepat di depan pintu masuk rumah utama keluarga Wilson.
“Kau tunggu di sini saja, Stef,” perintah Felly.
“Siap, Nona.”
Felly keluar dari mobil berwarna hitam itu setelah dibukakan oleh supirnya. Ia masuk melenggang ke dalam rumah.
“Kenapa sepi sekali? Di mana Fenny dan orang tuaku?” tanya Felly pada salah satu pelayan.
“Nona Fenny sudah tinggal sendiri dengan suaminya, Nona. Kalau Tuan dan Nyonya ada di taman belakang,” jelas pelayan itu.
Felly berterima kasih pada pelayan yang memberikannya informasi. Ia melangkah ke taman belakang untuk menemui orang tuanya.
“Ma, Pa,” panggil Felly pada Papa Rey dan Mama Kyara yang tengah duduk dan mengobrol santai ditemani oleh kopi.
“Felly? Akhirnya kau pulang juga, Nak.” Mama Kyara langsung berdiri dari duduknya dan memeluk putrinya. Ia mengusap lembut punggung Felly. “Maafkan Mama, Fel. Mama baru tahu jika Papamu memiliki niat buruk dengan suamimu. Maafkan Mama yang saat itu terlalu asik dengan urusan Mama,” sesalnya.
__ADS_1
“Tak apa, Ma. Semua sudah berlalu. Lupakan saja kejadian buruk itu,” balas Felly tak kalah lembut.
“Suamimu baik-baik saja, kan?” tanya Mama Kyara setelah melepaskan pelukannya. “Hubunganmu dengannya baik juga, kan?”
Felly menghias wajahnya dengan senyuman. “Baik, Ma. Jangan khawatir.” Ia mengelus lengan Mama Kyara. “Aku menyapa Papa dulu,” izinnya.
Kaki jenjang itu beralih mendekati Papa Rey yang berwajah datar dan angkuh. Ia meraih tangan dengan keriputan yang mulai muncul, mencium tangan orang tuanya sebagai tanda hormatnya. “Bagimana kabarnya, Pa?” tanyanya.
“Baik, seperti yang kau lihat.”
Felly mengulas senyumnya lagi. “Bagus, jaga terus kesehatan Papa.”
Papa Rey mendengus, semenjak rumahnya sangat sepi tak ada anak-anaknya lagi, membuat suasana hatinya kian memburuk. Ia merasa rumah besarnya hampa. Namun rasa gengsinya pada anak-anaknya jauh lebih besar.
“Kenapa kau kembali lagi? Apa kau sudah menyadari jika hidup dengan pria yang rendahan itu tak enak?” cibir Papa Rey yang belum mengetahui identitas asli menantunya.
...........
__ADS_1
...Wajarlah guys kalo Papa Rey begitu. Kan dia orang kaya dari orok, dari brojol udah tajir. Mana mau punya menantu misqueen. Di dunia nyata juga ada aja orkay yang suka ngehina dan rendahin kan. Tapi ya gatau ada yang separah Papa Rey apa enggak, kalo ini sih halu aku aja biar pada emosi wkwkwk....
...Yang tajir kebanyakan maunya sama yang tajir juga. Makanya yang kaya jadi kaya yang misqueen harus kerja keras biar kaya. Wkwkwk....