
Danesh langsung kembali ke apartemennya setelah mendapatkan semua yang ia cari untuk istrinya. Tanpa diminta istrinya terlebih dahulu, ia berinisiatif membelikan ganti untuk Felly. Sungguh pria yang pengertian sekali. Namun sayang, ia tak paham dengan perasaan apa yang kini ia rasakan untuk Felly. Yang ia sadari saat ini adalah rasa tanggung jawab pada wanita yang mengandung anak-anaknya.
Pria itu melihat kembali istrinya di kamar. “Belum bangun juga?” gumamnya. Ia pun memilih merebahkan tubuhnya di karpet untuk beristirahat sebentar.
Pukul sembilan malam, Danesh terbangun akibat perutnya yang lapar. Lagi-lagi ia ke kamarnya. “Astaga ... dia tidur seperti orang dibius saja? Tak bangun juga sedari tadi.” Ia menggelengkan kepalanya.
Danesh hanya khawatir dengan tubuh istrinya yang tadi berkeringat banyak saat berjalan dan belum dibersihkan. Ia tak ingin ada kuman yang membahayakan kesehatan ibu hamil itu. Ditambah istrinya juga belum makan.
Danesh ingin membangunkan istrinya, namun ia tak enak menggangu tidur Felly. Terlihat sangat nyenyak dan nyaman sekali. Padahal ranjangnya bukan yang mahal seperti di kamar Felly.
__ADS_1
“Apa aku bersihkan saja tubuhnya dengan mengelapnya menggunakan air hangat?” idenya. Danesh pun memutuskan untuk membersihkan tubuh istrinya daripada membangunkan Felly.
Danesh kembali masuk ke kamar membawa ember berisi air hangat dan handuk bersih. Ia mulai mencoba membuka setiap helai benang yang menutupi tubuh istrinya. Kain itu sudah lembab bercampur keringat.
Felly hanya menggeliatkan tubuhnya saat Danesh perlahan melucuti pakaiannya. Ia tak membuka matanya sedikit pun. Namun dalam tidurnya, ia tengah bermimpi suaminya sedang mencoba menyetubuhi dirinya dengan membuatnya polos. Ya dia nikmati saja mimpi itu, karena mungkin saat dirinya bangun tak akan terjadi hal yang ia impikan.
Pria itu mulai mencelupkan kain berbahan handuk ke dalam air hangat, lalu ia memerasnya. Tangannya perlahan mengelap dengan lembut tubuh Felly yang sudah polos. Saat tangannya mencapai perut istrinya. Ia berhenti sejenak untuk berbicara dengan anaknya.
Sementara itu, Felly yang terbuai dengan alam mimpinya benar-benar dibuat basah di sana. “Ah ... sayang, lebih cepat,” igaunya. Ia mengeluarkan suara-suara erotisnya.
__ADS_1
Membuat Danesh menggelengkan kepalanya dan bibirnya tersenyum geli dengan istrinya. “Apa yang kau mimpikan.” Ia terkekeh, sudah terbayang dalam pikirannya apa mimpi istrinya.
Selesai membersihkan tubuh Felly, ia memakaikan pakaian yang tadi dibeli.
Sebelum meninggalkan kamar, Danesh mendekatkan wajahnya pada kening istrinya. Ia mencium dalam-dalam di sana. “Jangan bermimpi yang aneh-aneh, aku tak yakin bisa menahannya jika kau sedang bangun dan mengeluarkan suara seperti tadi,” ujarnya memberitahu, tapi percuma saja Felly tak akan mendengarnya.
Danesh mengangkat kepalanya lagi. Ia sejenak menatap wajah Felly. Tangannya terulur untuk mengelus kening istrinya dan merapikan anak rambut. “Kuatlah hidup susah bersamaku untuk sementara waktu.” Maksudnya sementara waktu, apa? Bersabar hingga masa hukumannya berakhir atau sementara karena sesuai perjanjian pernikahan mereka sampai anak yang dikandung Felly lahir? Entahlah, hanya Danesh yang tahu.
Danesh keluar membawa ember dan kain yang digunakan untuk membersihkan Felly setelah Danesh memberikan usapan lembut di pipi, tak lupa juga mengecup ... bibir mungil istrinya.
__ADS_1
Danesh yang masih merasa lapar pun memilih memasak mie instan untuk mengganjal perutnya. Ia tak tidur di dalam kamarnya, tapi di karpet.
Danesh sungguh tak ingin khilaf, sebagai pria normal pasti menginginkan hal lebih pada istrinya. Tapi sebisa mungkin ia menahannya. Ia tak ingin melakukan yang nikmat menghasilkan peluh lagi pada orang yang tak mencintainya dan sebaliknya. Tanpa Danesh ketahui jika Felly sudah memiliki sedikit perasaan untuknya.