
“Ayo kita pulang, jangan terlalu lama di rumah sakit karena tempat ini adalah sarangnya virus. Banyak orang yang di rawat di sini dengan berbagai macam penyakit.” Danesh langsung mengajak Felly pergi saat istrinya itu kembali.
Entahlah, Danesh tak tahu perasaan apa yang saat ini ia rasakan. Setelah Felly meminta izin ingin pergi berbicara berdua dengan Erland, ia mengikuti istrinya itu dan bersembunyi di balik pilar. Ia mendengar semua yang dibicarakan keduanya. Dan saat ia mendengar Erland memanggil istrinya dengan kata sayang, serta pria itu mengatakan cinta pada Felly, ada sesuatu yang menghimpit hatinya. Namun ia tak paham akan perasaannya sendiri, yang jelas dirinya tak suka saat mendengarnya.
Danesh yang saat ini sudah berdiri pun mengulurkan tangannya pada istrinya yang belum sempat duduk. “Ayo.”
“Tunggu sebentar, aku akan berbicara dulu dengan Stefany.” Felly meraih tangan Danesh, namun ia sedikit menarik suaminya agar mengikutinya mendekati mantan sekretarisnya. Ia tak enak jika menolak uluran tangan suaminya, ditambah dirinya tak mau melewatkan kesempatan untuk bermesraan seperti ini. Meskipun hanya bergandengan tangan.
Danesh dan Felly pun mendekati Stefany. Di luar ruangan hanya tersisa mereka bertiga. Erland sedang mengurus segala administrasi Fenny.
“Stef,” panggil Felly lembut.
__ADS_1
“Ya, Nona?” Stefany yang tengah duduk dengan bermain ponsel pun langsung menghentikan aktivitasnya dan berdiri untuk berhadapan dengan mantan atasannya.
“Bagaimana pekerjaan Fenny?” tanya Felly.
Stefany menghembuskan napasnya kasar. “Kacau, Nona. Bahkan baru dua minggu perusahaan dipegang oleh Nona Fenny, dia sudah membuat saham turun dan dua investor mundur, ditambah sekarang perusahaan akan menjalankan kerja sama dengan perusahaan di Jepang. Semakin kacau saja.” Ia memijit pelipisnya yang terasa pusing mengingat kelakuan Nona Fenny.
Felly mengangguk paham. Ia sudah tahu akan terjadi seperti ini, sebab dirinya tahu betul bagaimana adik kembarnya itu tak berkompeten menjalankan perusahaan. “Kabari Papaku masalah hari ini, agar dia memimpin perusahaan untuk sementara waktu. Jika terus-terusan dibiarkan, benar-benar akan gulung tikar Excelent Group,” pintanya.
Felly menepuk bahu Stefany. “Kau tetap harus mengatakan pada Papaku, itu salah satu tugasmu juga, kan? Untuk melaporan segala apa pun padanya?”
Stefany menggigit bibir bawahnya dan mengangguk. “Iya.”
__ADS_1
“Daripada Papaku semakin marah karena tak dikabari, lebih baik kau memberitahu dia saja. Setidaknya kadar kemarahannya akan berkurang.” Felly mencoba meyakinkan. Ia tak mungkin menghubungi Papanya. Hubungannya dengan Papa Rey sedang memanas dan dia tak akan pernah mau memulai dahulu hingga Papanya itu menyesali perbuatan yang sudah dilakukan pada suaminya.
“Baik, Nona. Aku akan melakukannya.” Meskipun takut, tapi Stefany tetap membuka ponselnya untuk menghubungi Tuan Besar Rey.
“Ya sudah. Aku pulang dulu, titip Fenny,” pamit Felly.
“Hati-hati, Nona. Btw, suami bulenya ganteng. Kalau ada satu lagi yang bening-bening, boleh lah dikenalin,” kelakar Stefany.
Danesh tetap saja tak berekspresi, meskipun dirinya tahu saat ini sedang dipuji. Ia sungguh sabar sekali menunggu istrinya berbincang dengan Stefany. Bahkan dia tak mengeluarkan suara sedikit pun, namun telinganya mendengarkan semua yang kedua wanita itu ucapkan.
Felly hanya menggelengkan kepalanya. Disaat merasa takut pun mantan sekretarisnya itu masih saja centil jika melihat pria tampan.
__ADS_1
Felly hanya menanggapi Stefany dengan senyumannya. Ia lalu mengajak suaminya untuk berjalan menuju tempat parkir. Tangan keduanya masih terus bergandengan.