Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 146


__ADS_3

Danesh mengendarai mobil sedan berwarna putih dengan kecepatan penuh. Sesekali ia membunyikan klaksonnya saat lampu sudah hijau namun mobil di depannya tak kunjung berjalan.


“Cepat ... lama sekali! Apa kalian tak tahu aku sedang buru-buru.” Pria Eropa itu berteriak dengan mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil. Namun tak dipedulikan oleh pengendara di depannya.


Danesh benar-benar tak sabar. Ia harus menemui istrinya sebelum jam penerbangan pesawat Felly tiba.


“Ku mohon ... jangan pergi, jangan tinggalkan aku,” gumam Danesh dengan dadanya yang berdebar hebat. Ia takut jika istrinya pergi dan tak ingin kembali lagi padanya. Ia takut jika istrinya akan bersembunyi jauh agar tak bisa ditemukan olehnya.


Danesh memilih jalur nekat, ia menyalip kendaraan dengan asal, bahkan melawan arus pun ia lakukan. Dan berujunglah ia dikejar oleh mobil polisi yang tengah berpatroli.

__ADS_1


Mobil sedan putih itu kian melaju kencang, Danesh menambah kecepatannya dan tak memperdulikan keselamatan dirinya sendiri apa lagi orang lain. Selain ingin segera sampai ke bandara, ia juga ingin menghindari kejaran polisi. Malas sekali berurusan dengan pihak berwajib.


“Hah, apa mereka tak tahu jika semasa sekolah aku sering balapan liar. Ingin mengejarku? Bermimpi saja,” cibir Danesh saat melihat kaca spion sudah tak terlihat mobil polisi yang mengejarnya.


Akhirnya Danesh sampai juga di Haneda Airport, ia menempuh waktu empat puluh menit untuk sampai ke sana. Lima belas menit lebih cepat dari waktu normal. Begitulah jika jiwa liarnya semasa sekolah yang sering balapan liar keluar.


“Istriku ... kau di mana?” gumam Danesh. Matanya menyapu setiap bagian dalam ruangan itu yang sangat ramai dengan calon penumpang, bahkan tak ada kursi yang kosong.


Pandangan Danesh berhenti tepat pada seseorang yang tengah duduk di kursi paling ujung. Ia langsung mendekati wanita yang berani-beraninya pergi tanpa berpamitan dengannya. Wanita itu terlihat melamun sehingga tak mengetahui ada dirinya.

__ADS_1


“Apa begini caramu pergi dariku?” tegur Danesh dengan suara beratnya. Tangannya terkepal erat di bawah sana, menahan emosi yang menggelora di dalam hatinya.


Felly meluruskan pandangannya saat mendengar suara suaminya. Ia terkejut mendapati Danesh sudah berada di depannya. Sontak ia berdiri. “Suamiku?” panggilnya. “Bagaimana bisa kau di sini?” tanyanya.


Danesh mencebikkan bibirnya. “Masih bisa menganggap aku suamimu? Tapi kenapa kau tega sekali menggambil keputusan sendiri dengan pergi meninggalkan aku? Bahkan kau tak mengatakan padaku jika hari ini pulang ke Indonesia,” omelnya.


“Apa kau memang berencana untuk jauh dariku? Apa kau bosan hidup denganku? Katakan dimana letak kesalahanku, aku akan memperbaikinya. Tapi jangan pergi diam-diam seperti ini. Kau sudah menutup lukaku, tapi kau juga yang akan melukaiku jika seperti ini,” imbuh Danesh mengutarakan segala isi hatinya. Ia tak bisa tahan hubungannya yang bahagia dengan istrinya mendadak sirna.


Felly menggigit bibir bawahnya. “Maaf, aku tak bermaksud pergi tanpa pamit. Aku sudah menunggumu kembali untuk berpamitan, namun kau tak kunjung datang. Aku tak pernah bosan hidup bersamamu, kau selalu memberikanku kebahagiaan,” balas Felly dengan menundukkan kepalanya dan setetes air mata terjun ke lantai.

__ADS_1


__ADS_2