Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 115


__ADS_3

“Katakan, apa saja yang kau dapatkan selama beberapa bulan memantau dan menyelidiki anakku,” perintah Davis dengan wajah seriusnya.


Louis menyerahkan amplop coklat yang ia bawa. “Silahkan, Tuan, membukanya dan melihat semua hasil kerjaku.”


“Kau sambil jelaskan saja,” titah Davis, matanya terus mengamati satu demi satu cetakan foto.


Louis pun mulai menceritakan semuanya pada Davis. Pria berumur enam puluh tahun itu mendengarkan dengan seksama. “Ketiga anak Tuan dan dua sepupu mereka juga datang ke Indonesia untuk bertemu dengan Tuan Danesh,” tutupnya menjelaskan semua foto-fotonya.


“Biarkan saja, mereka mungkin rindu dengan Danesh. Hidup mereka selalu bersama dan tak pernah terpisah, ikatan batin mereka kuat,” balas Danesh menanggapi.


Karena tak ada yang dipertanyakan tentang foto-foto itu, Louis beralih mengambil iPadnya dan memutarkan sebuah rekaman CCTV rumah besar keluarga Wilson yang ia ambil secara ilegal. “Silahkan menontonnya, Tuan. Ini adalah rekaman CCTV selama Tuan Danesh tinggal di rumah mertuanya.” Ia menyodorkan iPadnya pada Davis.


Tangan Davis pun memegang benda pipih namun berlayar lebar. Ia menyaksikan dengan seksama dengan tangannya yang semakin mencengkeram erat benda tersebut. Matanya pun memanas karena emosinya yang mendadak muncul. “Katakan!”


“Seperti yang aku katakan terakhir kali, Tuan Danesh tak disukai oleh keluarga istrinya. Tuan Danesh dijadikan pelayan di rumah mereka sebelum akhirnya keluar dari sana dan memulai hidup mandiri dengan istrinya. Tuan Danesh diperlakukan layaknya hewan oleh saudari kembar istrinya. Dan yang paling parah lagi, mertua serta adik iparnya berniat jahat ingin membunuh Tuan Danesh dengan meracuni menggunakan kopi sianida. Beruntungnya Tuan Danesh tak jadi meminum racun itu karena kucing istrinya yang menyelamatkan Tuan Danesh,” lapor Louis mendetailkan semua yang ia selidiki.


“Apa?!”


Itu bukan teriakan Davis yang terkejut mendengar laporan Louis. Namun itu suara Diora yang baru saja keluar kamar dengan menggunakan kimononya karena menunggu suaminya yang tak kunjung kembali. Dan wanita itu tak sengaja mendengarkan semua yang diucapkan oleh Louis.

__ADS_1


Dengan langkahnya yang terburu-buru, Diora mendekati suaminya dan langsung menyambar iPad yang dipegang oleh Davis. Ia melihat seluruh cuplikan peristiwa yang dialami oleh anaknya yang ia beri hukuman.


Air matanya menetes deras. “Danesh ... maafkan Mommy.” Ia merasa bersalah dengan kejadian yang menimpa anaknya, bahkan ia hampir kehilangan nyawa anaknya.


Dada Diora terasa sesak, ia memegangi bagian tubuhnya itu. Namun akibat rasa terkejutnya dan juga rasa bersalahnya yang amat besar dan bercampur menjadi satu, membuatnya tak sadarkan diri.


“My Wife ...!” seru Davis berteriak. Untungnya ia sigap menangkap tubuh istrinya, sehingga tak terhempas ke lantai.


“Siapkan mobil, kita ke rumah sakit sekarang!” titah Davis yang paniknya sudah sampai ke ubun-ubun. Ia tak ingin istrinya mengalami hal buruk.


Louis berlari segera turun ke basement dan menyiapkan kendaraan roda empat yang diminta bosnya.


Sedangkan Davis berjalan terburu-buru dengan kedua tangannya yang membopong istrinya. Dia pun masuk ke dalam mobil dan membaringkan tubuh Diora dengan pahanya digunakan sebagai bantalannya. “Ku mohon, jangan tinggalkan aku. Aku belum siap.” Rasa khawatirnya sungguh tak bisa ditutupi. Cintanya yang teramat besar membuat dirinya tak bisa kehilangan istrinya.


“Tuan, mohon tunggu di luar.” Dokter yang hendak menangani Diora itu memberikan perintah pada Davis yang wajahnya sangat pucat ketakutan.


Davis menurut. Ia tak ingin ribut di rumah sakit dan memaksakan egonya, meskipun sangat ingin berada di samping istrinya.


Tangan kekar Davis meraih ponselnya yang berada di dalam saku. Ia harus mengabari anak-anaknya. Di saat seperti ini, dukungan dari seluruh keluarganya sangat dibutuhkan.

__ADS_1


“Halo? Dariush,” sapa Davis.


“Ya, Dad?” sahut Dariush yang sedang asik duduk santai di mansion.


“Ke Jepang sekarang juga, Mommy kalian masuk rumah sakit. Dia mendadak tak sadarkan diri.” Nada penuh kekhawatiran jelas keluar dari mulut Davis.


“Apa?!” Dariush yang berada di negara Finlandia pun terkejut mendengar hal itu.


“Tak perlu mengajukan pertanyaan. Cepat kalian ke Jepang sekarang juga. Dan jemput Danesh serta istrinya di Indonesia,” titah Davis tegas. Ia pun langsung memutuskan panggilan teleponnya dan kembali gelisah menunggu di depan UGD.


...........


...Eaa ... jeng ... jeng ... jeng ... ...


...hehehehe *ketawa jahat*...


...Mendingan kita ngopi sama-sama di taman bunga aja, gausah mikirin mereka....


...........

__ADS_1


...Sambil nunggu babang bule kita up, baca karya temenku juga yuk. Siapa tahu kalian suka juga....



__ADS_2