
Danesh sudah mengangkat cangkirnya. Ia mengarahkan cangkir itu di mulutnya. Sebelum dirinya benar-benar memasukkan cairan yang berwarna hitam pekat itu, matanya menatap mertuanya dan Fenny yang terlihat santai seolah tak menyembunyikan apa pun.
“Oke, aku akan meminumnya,” ujar Danesh.
Mendengar hal itu, dalam hati Fenny dan Papa Rey sangat senang. Namun sebisa mungkin keduanya tak memperlihatkan kebahagiaannya.
Danesh hendak memulai memasukkan kopi itu ke dalam mulutnya. Namun ...
“Tunggu ....” Felly yang melihat suaminya duduk bertiga bersama Papa dan kembarannya pun berteriak.
Membuat Danesh menghentikan tangannya yang hendak mendorong memasukkan bibir cangkir ke mulutnya.
Felly buru-buru berjalan ke sana. “Jangan diminum.” Matanya beralih menatap anggota keluarganya. “Kalian tak mengerjai suamiku lagi, kan?” tanyanya mengintimidasi.
“Kau menuduh kami berbuat jahat? Kami hanya ingin berdamai dengannya saja. Kenapa kau selalu berpikiran buruk. Jika kau tak percaya, tanyakan saja pada pelayan yang membuatnya. Suamimu juga sudah mendengar apa saja yang digunakan oleh pelayan untuk membuatnya,” balas Fenny dengan wajah tak sukanya.
__ADS_1
Felly beralih menatap suaminya. “Benar yang dikatakan olehnya?”
Danesh mengangguk. “Pelayan itu sudah mengatakannya padaku, dan aku tak melihat raut gelisah dari Papamu dan adikmu. Jika mereka berbuat jahat, pasti aku akan melihat keduanya gelisah. Maka dari itu aku berani meminumnya,” jelasnya.
“Oh ....” Felly mengembuskan napasnya lega. “Maaf, aku sudah berpikiran buruk dengan kalian.” Ia pun ikut duduk bersama mereka dengan kucingnya yang ia pangku.
Fenny hanya memutar bola matanya malas, sedangkan Papa Rey tetap datar dan tenang. Keduanya benar-benar berhasil berakting menyembunyikan kejahatannya.
Danesh kembali mendekatkan cangkirnya. Tapi, belum sempat ia meminum kopinya, kucing milik Felly melompat begitu saja ke arah Danesh membuat kopi di tangan Danesh terjatuh di lantai dan cangkir itu pecah.
“Meong ....” Molly menjilati kopi di lantai dengan santainya.
“Molly, apa yang kau lakukan. Kau menumpahkan kopi suamiku dan mengotori pakaian kembaranku,” omel Felly pada kucingnya. Ia bangkit dari duduknya, mendekati Molly, dan menggendongnya.
Molly masih belum bereaksi apa pun. Felly duduk mengelus bulu halus milik Molly. “Jangan lakukan lagi, ya.” Matanya beralih menatap adiknya. “Maafkan Molly, dia tak sengaja.”
__ADS_1
Fenny mencebikkan bibirnya. “Hewan tak tahu aturan kau pelihara,” cibirnya.
Felly tak menanggapi. Ia menatap suaminya. “Maafkan kucingku, ya. Aku akan meminta pelayan membuatkan kopi yang baru untukmu,” sesalnya.
Dengan wajah datarnya dan pembawaannya yang tenang, Danesh menolak. “Tak perlu, aku tak begitu menginginkan itu.” Ia pun mengarahkan pandangannya untuk melihat kucing di pangkuan istrinya. Matanya membelalak. Sekali keparat tetap keparat! Umpatnya dalam hati.
“Kucingmu.” Danesh menunjuk Molly.
Felly menghentikan tangannya untuk melihat kucingnya. “Molly ...,” teriaknya saat melihat kucing kesayangannya mengeluarkan busa dari dalam mulut. “Kenapa bisa seperti ini? Tadi ia baik-baik saja,” sedihnya. “Aku akan membawanya ke dokter hewan.” Felly hendak bangkit dari duduknya.
Namun Danesh mencegahnya. “Tunggu, biar aku periksa kucingmu.”
Felly pun menyerahkan Molly pada Danesh. Danesh mengecek kucing itu. “Percuma kau bawa dia ke dokter hewan. Kucingmu sudah mati,” tuturnya.
Felly membelalakkan matanya tak percaya. “Apa? Bagaimana mungkin?” herannya.
__ADS_1
Danesh menatap Papa Rey dan Fenny yang kini mengeluarkan keringat dingin. Mata Danesh begitu tajam. “Kalian penjahat yang handal. Benar-benar pintar menyembunyikan kegelisahan. Kalian ingin membunuhku?” tuduhnya dengan yakin. “Sayangnya, kucing istriku telah menyelamatkanku,” imbuhnya.