
“Kau sudah tahu sakit parah, tapi kau tetap mempertahankan anakku?” tanya Danesh dengan wajah datarnya.
Violet mengangguk. “Iya, karena ini satu-satunya hasil cinta kita berdua. Sejak pertama kali hamil hingga saat ini, aku tak pernah pergi dari rumah sakit karena aku tak ingin mengambil resiko tubuhku akan drop dan berakibat pada janinku. Sebisa mungkin aku mempertahankannya agar aku selalu mengingatmu dan cinta kita,” jelasnya mengelus perutnya.
Danesh mengusap wajahnya kasar. Semakin bersalah saja dirinya pada Violet. Ia memberikan beban pada wanita yang sedang berjuang bertahan hidup melawan sakit itu.
“Bagaimana kondisi anakku?” Tangan Danesh mengelus perut Violet. Mau bagaimana pun, itu tetap anaknya.
Violet tersenyum, rasanya nyaman diusap perutnya oleh orang yang ia cintai. Andai dirinya tak pergi saat itu, pasti tak akan melewatkan kebahagiaan ini setiap harinya. “Dokter mengatakan kandunganku sedikit lemah, tapi mereka terus berusaha untuk mengontrol perkembangan janinku,” jelasnya.
__ADS_1
Danesh mengangguk, ia beralih berjongkok di hadapan Violet. “Besok kita bertemu di dunia, anak Daddy. Kita bisa main bersama,” ujarnya pada perut Violet. Ia mengecup bagian tubuh yang buncit itu.
Dari jendela sebuah ruangan, Felly menatap suaminya dan Violet. Ia melihat betapa bahagianya wajah teman barunya itu. “Bukankah ini salah satu doaku pada Tuhan? Jadi, aku tak boleh egois memikirkan perasaanku sendiri. Tuhan sudah memberikan aku kebahagiaan yang banyak hingga detik ini. Saatnya aku memberikan kebahagiaan itu pada orang lain yang membutuhkannya,” gumamnya, lalu menutup kembali gorden.
Kembali pada taman, hal kecil yang dilakukan Danesh pada Violet membuat hati wanita itu senang. Ternyata benar apa yang dikatakan Felly saat itu. Ia seharusnya tetap bertahan dan hidup bahagia sebelum Tuhan mengambil nyawanya.
“Danesh, apa kau mau memaafkan aku?” tanya Violet.
Violet menggigit bibir bawahnya. “Bisakah kita kembali lagi seperti dulu? Memulai semuanya dari awal lagi?” Violet sangat ingin kembali bersama Danesh disisa hidupnya ini.
__ADS_1
Danesh terdiam, dia tak bisa menjawabnya. Ia bingung harus mengatakan iya atau tidak. Jika ia mengatakan iya, dirinya takut menyakiti istrinya. Sedangkan jika ia mengatakan tidak, ia takut menyakiti hati Violet. Dua wanita itu sudah rela mengandung anaknya. Bahkan Violet juga mempertaruhkan kesehatan demi menjaga anaknya.
Danesh hanya tersenyum tipis tanpa mengeluarkan jawaban. Ia mengelus perut Violet lagi. “Ku antar kau kembali ke kamarmu, hari sudah menjelang petang. Besok aku pasti menemanimu operasi. Aku juga harus kembali ke kamar Mommyku, dia sedang di rawat di sini juga,” ajaknya lembut.
“Mommy Diora sakit? Haruskah aku menjenguknya?” lirihnya.
“Tak perlu, kau juga sedang sakit. Lebih baik kau istirahat untuk menjaga staminamu besok.” Danesh mengelus ujung kepala Violet dengan lembut.
Danesh berdiri dan mengambil alih kursi roda dari perawat Violet setelah wanita masa lalunya menganggukkan kepalanya. Ia mengantarkan hingga masuk ke dalam ruang rawat. Di dalam sana ada kedua orang tua Violet.
__ADS_1
Danesh membantu membaringkan tubuh mantan kekasihnya itu. “Istirahatlah, jangan keluar lagi,” peringatnya.
Violet mengangguk dengan bibir yang mengulas senyuman. Hatinya bahagia saat ini. “Semoga Tuhan mengizinkan aku untuk terus merasakan kebahagiaan ini hingga akhir napasku,” gumamnya lirih.