
“Mommy tak ada salah denganku. Justru aku yang banyak salah dengan Mommy. Aku sudah menjadi anak yang nakal,” balas Danesh menenangkan Mommy Diora.
Mommy Diora menggelengkan kepalanya. “Tidak, Danesh. Mommy yang salah, aku hampir saja kehilangan salah satu putraku gara-gara hukuman yang aku berikan padamu.”
Danesh mengurai tangannya. Ia sedikit memberikan jarak agar bisa melihat wajah Mommynya. Pantatnya ia daratkan di samping Mommy Diora. “Sudah, jangan bersedih. Buktinya, aku baik-baik saja hingga saat ini. Mommy juga menghukumku karena aku nakal dan tak memiliki aturan.” Tangannya mengusap lembut pipi Mommy Diora.
Mommy Diora menumpukkan tangannya di atas punggung tangan Danesh. “Bukan kau yang nakal, tapi aku yang kurang mendidikmu hingga kau terjerumus kedalam sebuah kesalahan. Kau juga kurang terbuka dengan Mommy jika memiliki masalah, sehingga Mommy tak tahu alasanmu melakukan hal buruk saat itu,” balasnya.
Danesh tersenyum. “Danesh tak mau memberikan beban pikiran pada Mommy, karena Danesh sayang Mommy.” Ia mengecup kening Mommy Diora.
“A ... so sweet. Mau peluk kalian,” seloroh Deavenny dengan matanya yang berkaca-kaca terharu.
Danesh, Dariush, Delavar, dan Deavenny pun langsung memeluk Mommy mereka.
__ADS_1
Sedangkan Daddy Davis sedari tadi mengamati Felly dengan wajahnya yang datar dan sangar, ditambah bulu-bulu kasar di wajahnya itu semakin membuat Felly terasa mencekam berada di dalam sana.
“Sudah! Kasian Mommy kalian tak bisa bernapas. Tubuh kalian itu sudah besar semua bukan anak kecil lagi,” omel Daddy Davis saat melihat istrinya sudah tenggelam ditutupi tubuh bongsor anak-anaknya. Ia takut istrinya kekurangan oksigen akibat ulah keempat anaknya.
Si kembar empat itu melepaskan pelukan mereka. “Dasar suami posesif,” ejek mereka bersamaan pada Daddynya.
Daddy Davis melipat tangannya di depan dada dan menyilangkan kakinya. “Kalau tak ada aku yang posesif, tak akan ada kalian.” Ia pun kembali menormalkan posisi duduknya, tangannya ia rentangkan. “Sini, peluk Daddy juga.”
Si kembar empat itu saling berpandangan, lalu bersamaan menatap Daddynya. “Iri? Bilang, Dad,” kelakar mereka bersamaan.
Namun keempatnya tetap saja menghampiri Daddy Davis dan memeluk tubuh yang semakin berumur tua itu.
“I love you, Dad.” Mereka bergantian mengucapkannya.
__ADS_1
Felly berkaca-kaca melihat keharmonisan keluarga suaminya. Namun tubuhnya tetap saja gemetaran, mengingat tatapan Daddy Davis yang tadi terfokus padanya dan sangat sulit diartikan. Padahal jika saat ini ia lihat, Daddy suaminya itu terlihat penyayang dengan keluarga.
“Manisnya keluargaku,” ujar Mommy Diora yang terharu melihat keluarganya yang sudah lengkap lagi.
“Sudah! Kasian Daddy kita, tubuhnya semakin berkeriput. Sudah tak kuat lagi menopang tubuh kita yang besar,” ujar Deavenny membubarkan ketiga kakaknya.
Mereka kembali ke posisi semula yang mengelilingi Mommy Diora. Tapi tidak dengan Danesh. Pria itu berdiri di samping istrinya.
Mommy Diora menatap Danesh. “Mulai hari ini, hukumanmu Mommy cabut. Kembalilah ke Finlandia, hiduplah bersama kami lagi,” imbuhnya.
Di kepala Felly, ia sungguh ingin tahu akan hal yang menggelitik pikirannya sejak bertemu saudara Danesh pertama kali. Masih terus berkecamuk tentang alasan suaminya dihukum. Namun bibirnya serasa diberi lem hingga tak bisa bertanya pada suaminya. Sebab, suaminya sudah pernah mengatakan jika waktunya sudah tepat, pasti akan tahu.
Danesh mengangguk paham. “Terima kasih, Mom.”
__ADS_1