Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 154


__ADS_3

Terlihat Violet ikut merasakan kebahagiaan juga saat Felly bahagia bertemu suami yang ia ketahui sedang berada di negara lain. “Kuat sekali kau dan dia berhubungan jarak jauh. Aku saja ditinggal Danesh untuk menyelesaikan urusan pentingnya dua hari rasanya sangat sesak. Apa karena aku sudah pernah jauh darinya selama sembilan bulan dan akhirnya aku bisa kembali bertemu dengannya lagi, sehingga terasa sangat sulit untuk berjauhan?”


“Mungkin, bisa jadi seperti itu,” balas Felly lembut.


Felly dapat melihat jika Violet sedang menghembuskan napas dan memasang wajah sedih. “Kau kenapa? Ada yang kau pikirkan?” tanyanya.


“Apa menurutmu aku terlalu egois?”


“Maksudmu?”


“Setiap hari Danesh merawatku dengan penuh perhatian. Meskipun dia tak mesra seperti dulu lagi, namun dia tetap hangat padaku. Apa aku egois jika aku menginginkannya lagi lebih dari sekedar ini?” lirih Violet bertanya.


Felly mengernyitkan keningnya bingung. “Lebih dari ini? Maksudmu?”


“Aku ingin menikah dengannya, ingin menghembuskan napasku sebagai istri seorang Danesh.” Violet menghembuskan napasnya kasar. “Tapi, aku merasa itu sangat egois.”


Felly tersenyum hambar tanpa makna. “Biarkan Tuhan yang mengatur semuanya. Serahkan saja pada kuasa-Nya,” balasnya.

__ADS_1


“Engh ....” Suara lenguhan dari balik punggung Felly membuat wanita bertubuh polos itu panik.


“Sudah dulu, ya. Suamiku sepertinya bangun. Aku harus mengurusnya,” pamit Felly hendak mematikan sambungan.


“Oke, selamat bersenang-senang dengan priamu,” balas Violet dengan wajahnya yang turut bahagia.


Panggilan itu pun terputus. Tepat saat suara berat yang serak keluar dari mulut Danesh.


“Kau menelpon siapa?” tanya Danesh semakin mengeratkan pelukannya dan menciumi punggung istrinya yang mulus nan putih.


“Oh ....” Danesh tak ada komentar apa pun. Ia juga tak menanyakan perihal apa yang dibicarakan oleh istri dan mantan kekasihnya itu. Ia tak terlalu ingin tahu, berada di samping istrinya sudah membuatnya bahagia.


...........


Waktu berkunjung Danesh pun habis. Ia harus kembali pulang ke Finlandia untuk mengurus pekerjaannya di kantor pusat Triple D Corp.


Bandara adalah tempat yang menyesakkan bagi keduanya. Mereka harus berpisah lagi di sana.

__ADS_1


Danesh belum ingin melepaskan pelukannya dari Felly. “Jaga dirimu baik-baik. Kita akan bertemu lagi minggu depan,” peringatnya.


Felly pun demikian, ia juga melingkarkan tangannya pada sang suami. “Iya, kau sehat-sehatlah terus.”


“Cepat atau lambat, kau tetap harus tinggal bersamaku di Finlandia. Kita tak bisa seperti ini terus.”


Mereka pun saling melepas kepergian dengan ciuman yang lumayan lama. Hingga akhirnya lambaian tangan Felly berikan pada suaminya yang memasuki pesawat milik keluarga Dominique.


...........


Hari demi hari berlalu. Usia kandungan Felly kini menginjak sembilan bulan kurang lima hari lagi. Semenjak melakukan panggilan dengan Violet saat itu, ia terus memikirkan tentang dirinya dan Danesh. Harapan Violet yang menginginkan menikah dengan suaminya mampu menyita pikiran Felly.


“Nona, apa tak sebaiknya Anda mengambil cuti saja? Nona Fenny juga sudah lumayan bisa mengontrol perusahaan,” tawar Stefany yang setiap hari melihat atasannya memijat pelipis.


“Kenapa membawa namaku?” Fenny yang baru saja memasuki ruangan kembarannya itu langsung bertanya. Dan matanya jatuh kepada Felly. “Kau kenapa? Sakit? Wajahmu terlihat pucat. Ia langsung mendekati Felly dan mengecek kondisi fisik wanita yang sebelas dua belas wajahnya dengan dirinya.


Semenjak kejadian keguguran saat itu dan Erland yang mulai bisa membuka hati untuk dirinya, tentu saja atas bantuan Felly membuat Fenny perlahan merubah sifatnya. Itu juga atas didikan Erland selama ini, sehingga ia bisa perlahan membuang sifat buruknya. Meskipun terkadang masih kelepasan. Namun sekarang jauh lebih manusiawi.

__ADS_1


__ADS_2